"Bang, ponsel lu tuh," teriak seorang karyawannya dari meja kerjanya. Raka yang sedang berada di meja Radit menoleh, kemudian bergegas menghampiri ponselnya yang tadi dia letakkan di atas meja si karyawan.
"Halo, Yo. Kenapa?" tanyanya saat berhasil tersambung dengan sang adik.
"Kak, Mama minta kakak pulang sebentar."
"Kapan? Sekarang? Ada apa? Mama sakit?"
"Ada yang mau Mama bicarakan sama kakak," kata Rio di seberang.
"Ya udah sebentar. Kakak masih ada kerjaan dikit lagi. Kalau sudah selesai nanti kakak kesitu."
.
.
.
"Kok masih di rumah juga sih, Pah? Katanya mau pergi nyari kerjaan?" Mayang nampak tidak suka melihat suaminya ternyata masih berada di rumah saja dengan baju santainya dari tadi. Dia bahkan sudah pergi ke rumah Rani dan kembali lagi. Tapi suaminya masih juga ada di rumah.
"Papa belum berangkat. Ini Papa menghubungi dulu beberapa teman Papa lewat telepon. Papa tanya-tanya dulu ke mereka ada lowongan tidak di tempat mereka."
"Trus, trus, gimana hasilnya, Pah? Ada?" Mayang mendekati sang suami, bertanya dengan antusias.
"Baru beberapa orang yang Papa telepon. Belum ada yang kasih info lowongan. Sebentar Papa mau telepon yang lainnya lagi. Oya Ma, sini duduk dulu sebentar, papa mau ngomong." Romi menepuk sofa di sebelahnya, menyuruh sang istri untuk duduk.
Mayang yang sebenarnya malas, menurut juga karena merasa penasaran dengan apa yang akan dibicarakan suaminya.
"Ada apa, Pah?"
Romi nampak menarik nafas sebelum memulai pembicaraannya.
"Gini, Mah. Papa kan belum tahu kapan akan mendapatkan pekerjaan lagi. Tapi Papa akan berusaha keras untuk itu. Nah, untuk sementara sebelum Papa dapat pekerjaan lagi, gimana kalau kita mulai berhemat?"
"Berhemat? Maksudnya berhemat gimana?" Mayang mengerutkan dahi. Sepertinya ini bukan kabar yang bagus buatnya.
"Ya berhemat, Mah. Sebisa mungkin kita hilangkan pengeluaran yang tidak perlu biar uang simpanan kita bisa bertahan sedikit lebih lama. Sebab kan kita belum akan ada pemasukan lagi."
"Mana bisa, Pah? Semua yang kita keluarkan tiap bulan kan penting. Uang kebutuhan untuk rumah, uang sekolah Mayla dan Faya. Apalagi?"
"Masih ada Mah yang bisa kita potong. Contohnya uang shopping Mama tiap bulan, uang biaya perawatan Mama ke salon yang mahal itu, lalu uang untuk Mama kumpul-kumpul sama teman-teman Mama yang kaya itu. Bisa kan itu dihilangkan? Ya Kan?"
Ah mana bisa? Itu namanya kebutuhan pokok Mama, Pah. Nggak bisa dihilangkan. Apa kata teman-teman Mama kalau Mama stop melakukan semua itu?" Mayang mulai sewot.
Tapi ini demi kelangsungan hidup keluarga kita, Mah. Biar kita bisa bertahan lebih lama seandainya nanti Papa belum juga dapet kerjaan."
"Ya makanya Papa nyari kerja dong. Atau Papa buka bisnis kek, nyari pinjaman sana ke bank buat buka usaha. Kan kita punya jaminan."
Bisnis? Bisnis apa, Mah? Papa nggak pernah berbisnis. Papa nggak ngerti masalah begituan. Lagipula nggak semudah itu jalanin bisnis. Ya kalau sukses, kalau gagal gimana? Malah jadi nambah hutang kan nanti kita?"
"Bodo amat ah! Yang jelas Mama nggak mau uang kebutuhan bulanan Mama dikurangi ya. Titik!"
"Mah, mengerti dikit lah posisi papa," kata Romi memohon. Tapi istrinya itu seolah tidak mau tahu.
"Nggak! Pokoknya sekali enggak ya enggak!"
Hampir putus asa Romi menghadapi sang istri. Seharian dia berpikir bagaimana caranya dia dan keluarganya bisa bertahan hidup lebih lama selama dia belum memiliki pekerjaan baru, justru istrinya tidak mau mengalah untuk hal-hal sepele seperti itu.
"Ya sudah kalau gitu, kita pecat saja bik Narsih," katanya kemudian. Bik Narsih adalah pembantu di rumah mereka.
"Apa? Kenapa harus pecat bik Narsih, Pah?"
"Ya untuk berhemat Mah, sedikit demi sedikit."
"Kalau bik Narsih dipecat trus siapa yang ngerjain kerjaan rumahnya? Belanja, masak, nyuci, nyetrika, nyapu, ngepel?" Mayang mendecih sebal.
"Ya Mama lah, siapa lagi? Mama kan nggak ada kerjaan di rumah. Mama kerjakan semua kerjaan bik Narsih biar kita bisa sedikit berhemat."
"Mana bisa begitu, Pah?" Wanita itu mulai merengek.
"Kalau nggak bisa ya sudah. Mama nggak usah lagi shopping nggak berfaedah gitu, nggak usah pergi perawatan ke tempat yang mahal biasanya itu," kali ini Romi bersungut. Jengah sama sang istri yang seolah tidak mau peduli dengan kondisinya.
Mayang nampak terdiam. Sepertinya dia sedang menimbang apa yang dikatakan oleh suaminya.
"Ya udah, kita pecat saja bik Narsih. Mama nggak mungkin lah Pah absen ke salon sama temen-temen. Malu dong nanti kalau mereka tanya kenapa aku nggak pernah perawatan lagi. Lagipula nanti kalau wajah Mama jadi jelek apa Papa nggak malu?"
"Ya udah kalau gitu sana. Bilangin sama Bik Narsih. Kasih sekalian gaji untuk bulan ini," perintah Romi.
"Yaa ..." dengan berat hati akhirnya Mayang bangkit dan berjalan ke dapur menemui pembantunya. Ya sudah lah tidak apa-apa dia mengerjakan pekerjaan rumah, yang penting tidak kelihatan oleh teman-temannya. Daripada dia tidak muncul di depan teman-teman sosialitanya.
.
.
.
Raka melangkah memasuki rumah ibunya dengan sedikit ragu. Biasanya saat melihatnya datang, ibunya pasti akan menyambutnya dengan riang di pintu rumah. Tapi tidak ada ibunya di tempat itu sekarang.
"Mama di kamar, Kak." Rio menghadangnya di ruang tamu dengan wajah lesu. Raka menatap adiknya keheranan.
"Ada apa sih?" tanyanya penasaran.
"Istri papa tadi kesini. Dia ngamuk nyari kakak. Dia bilang ke Mama kalau kakak yang menyebabkan papa kehilangan pekerjaan. Mama sepertinya marah, Kak."
Raka menghela nafas mendengar itu. Akhirnya mamanya tahu juga tentang dendamnya pada sang ayah.
Setelah menepuk bahu adiknya, Raka berjalan tenang menuju kamar sang ibu.
"Mah," panggilnya pelan saat berhasil membuka pintu kamar mamanya. Di dalam dilihatnya ibunya sedang duduk mematung di tepi ranjang. Matanya menoleh ke arah pintu saat Raka membukanya. Pandangan wanita itu sangat sendu, wajahnya pun pucat, membuat hati Raka sangat teriris.
"Duduk sini, Ka," kata wanita itu lirih pada sang anak. Raka melangkah pelan menuju sang Mama dan mendudukkan diri dengan tenang di sebelahnya.
"Ada apa, Mah? Apa Mama sakit?" tanya Raka mencoba untuk tidak ingin tahu kemarahan ibunya.
"Mama sudah tahu semuanya. Tadi istri papamu kesini dan menceritakan apa yang terjadi pada papamu."
Raka tak berani menatap mata sang ibu. Dia tahu saat wanita itu berbicara tenang tanpa emosi, itu artinya wanita itu sedang sangat kecewa.
"Kenapa Kamu melakukan itu sama papamu, Ka?" Lirih wanita itu berkata sambil memegang bahu sang anak.
"Raka tidak melakukan apa-apa, Mah," sanggahnya, berharap ibunya tak akan memperpanjang pembahasannya lagi tentang ayahnya.
"Mama tidak mau kamu seperti itu, Ka. Dendam itu tidak baik. Jangan lagi melakukan apapun yang merugikan papa kamu ya, Nak. Mama mohon," kata sang ibu dengan bibir bergetar.
Sebenarnya berat hati Rani mengatakan itu. Dia tahu anaknya hanya ingin membalaskan apa yang sudah dia rasakan selama bertahun-tahun. Seharusnya Rani bangga dan senang mantan suaminya itu bisa merasakan buah dari perbuatannya. Namun sebagai orang tua, dia tidak ingin sang anak hidup dalam kubangan dendam seumur hidupnya.
"Raka mau janji kan sama Mama? Tidak akan membalas lagi perbuatan Papa?" Lagi -lagi wanita itu meyakinkan anaknya untuk menghapus kebencian yang ada dalam hatinya. Meskipun dia tidak yakin karena sedari tadi Raka hanya terdiam tak mau bicara.
"Raka hanya memberinya sedikit pelajaran. Itu bukan dendam, Mah," ucap Raka akhirnya membela diri.
"Itu dendam Ka namanya. Ketika Kamu ingin seseorang merasakan sakit juga seperti apa yang telah Kamu rasakan. Itu yang disebut dendam. Dan itu tidak baik, Ka. Buang jauh-jauh yang seperti itu. Hidup Kamu tidak akan tenang jika dihantui hal seperti itu. Percaya sama Mama, Nak. Raka mau mendengarkan Mama kan?"
Kali ini Raka menoleh ke ibunya, memberanikan diri menatap ke dalam matanya yang mulai menua.
"Ya, Mah," katanya.
"Bagus, Nak. Kamu harus jadi anak yang sukses untuk membuat orang-orang yang telah menyakiti Kamu diam. Bukan jadi orang yang jahat. Raka anak Mama yang hebat. Mama tahu Raka bisa menghapus kebencian pada Papa."
Tak ada yang Raka katakan lagi setelah itu. Dia hanya mendengarkan nasehat mamanya dengan kepala tertunduk tanpa sedikitpun ingin membantah.
.
.
.
"Maaf ya Kak, Rio nggak bisa bohong sama Mama tadi," kata Rio saat mengantarkan sang kakak menuju mobilnya untuk pulang.
"Nggak papa. Nggak usah dipikirin." Raka menepuk bahu sang adik.
"Jadi kakak akan berhenti membuat sengsara keluarga Papa sekarang?"
Raka menghentikan langkahnya tepat di samping pintu mobil. Tangannya urung membuka pintu mendengar pertanyaan sang adik. Dia menoleh ke adiknya dan menatap ke dalam matanya tajam.
"Aku belum akan berhenti sebelum melihat mereka hancur, Yo. Pegang kata-kata kakak," kata Raka dengan bibir bergetar.
Rio menghela nafas panjang. Dia tahu, kakaknya tidak akan semudah itu dihentikan.