Ayu baru saja akan bangkit dari kursi kerjanya saat tiba-tiba sambungan telepon internal dari lantai bawah menyala. Bergegas dia menekan sebuah tombol pada pesawat telepon itu.
"Ya?"
"Bu Ayu, ada Pak Raka di bawah," kata seorang resepsionisnya di seberang saluran.
Alis Ayu tertaut. Raka tidak biasanya datang tanpa dia undang atau dia minta. Kenapa tiba-tiba dia kemari hari ini?
"Minta langsung ke ruangan Saya," kata Ayu dengan hati dipenuhi tanya.
"Baik, Bu," sahut si resepsionis. Beberapa menit kemudian, terdengar pintu ruangannya diketuk dari luar.
"Masuk!"
Dan muncullah Raka dengan senyum tipis menghiasi wajahnya.
"Apa Saya mengganggu, Bu?" kelakarnya sambil mematung di dekat pintu ruang kerja Ayu. Wanita 35 tahun yang hari ini sedang mengenakan setelan celana panjang dan blazer warna silver itu melototkan mata ke arah pemuda itu sambil menahan tawa.
"Apaan sih?"
Raka terkekeh melihat wanita itu sedikit sewot dengan tingkahnya. Lalu mulai berjalan mendekati meja kerja dan mendudukkan dirinya di hadapan sang direktur Adyatama.
"Ada apa, Ka? Tumben kesini?"
"Nggak ada. Cuma main aja," sahut Raka santai.
"Dari mana memangnya?"
"Dari rumah."
Ayu nampak mengangguk. Namun saat melihat wajah Raka mendadak terlihat sedikit muram, wanita itu mengerutkan keningnya.
"Apa ada masalah?" tanya wanita itu. Dan memang itulah yang dari tadi Raka harapkan. Hatinya memang masih sedikit kacau karena kemarin sang ibu menasehatinya panjang lebar tentang apa yang seharusnya dia lakukan dengan pasangan tidak tahu diri, ayahnya dan istri barunya itu. Sebab itulah dia segera teringat Ayu. Beberapa minggu terakhir sepertinya memang hanya Ayu yang selalu memahami perasaannya. Apalagi yang menyangkut tentang ayahnya.
"Nggak ada. Lupakan! Apa kamu lagi sibuk?" tanya Raka.
"Nggak juga. Aku kan bisa sibuk dan bisa santai kapan aja. Terserah padaku," jawab wanita itu sambil terkekeh.
"Ooh iya aku lupa. Pemilik perusahaan bebas kan ya mau apa aja?" Raka pun mengimbangi kelakar wanita di depannya dengan sempurna, membuat Ayu lebih melebarkan tawa. "Mau jalan-jalan denganku sekarang, bu Direktur?" tanya Raka tiba-tiba, membuat mata Ayu yang sipit terlihat membulat.
"Kamu mengajakku kencan, Anak muda? Siang bolong begini?"
"Apa tidak boleh kencan siang-siang?" Kali ini Raka yang menautkan alis tebalnya.
"Nggak romantis, Bapak. Harusnya nanti malam, tepat malam minggu kan ini?" Ayu melirik kalender meja di depannya. Bibirnya tak henti tersenyum dengan kelakarnya sendiri. Beberapa waktu ini dia memang merasa seperti kembali menjadi anak muda setiap kali berhadapan dengan Raka.
"Oh, begitu ya? Oke, kalau gitu aku jemput nanti malam. Aku pergi dulu. Sampai nanti!" Raka segera bangkit usai berkata seperti itu. Dan tanpa basa-basi lagi keluar dari ruangan Ayu secepat kilat.
Ayu yang kaget dengan gerakan cepat pemuda itu meninggalkan ruangannya terbengong keheranan. Apa anak itu tadi benar-benar sedang mengajaknya berkencan? 'Menggemaskan sekali,' ucapnya dalam hati.
Sementara di luar ruangan, Raka berjalan menuju lift ke lantai bawah dengan kepala tertunduk. Pemuda itu nampak sedang menyembunyikan semburat merah di wajahnya. Baru kali ini dia berdebar aneh saat berhadapan dengan seorang wanita dan tiba-tiba saja ada keinginan mengajaknya jalan bersamanya. Dia bahkan tak berani lagi menatap wajah Ayu saat wanita tadi mengucapkan kata 'kencan' di depannya.
Kencan? Kapan terakhir kali Raka melakukannya? Dia bahkan sudah tidak ingat. Mungkin saja dia pernah melakukannya saat dia masih duduk di bangku SMA. Karena saat itu Raka memang salah satu sosok primadona di sekolahnya, dengan wajahnya yang ganteng, cerdas, jago basket, dan motor sport keren yang jadi tongkrongannya setiap hari pergi dan pulang sekolah.
Namun masa-masa itu terasa sudah lama sekali dia tinggalkan. Selama ini, dia sepertinya juga tidak pernah menjalin hubungan serius dengan seorang wanita. Atau bisa dibilang, belum pernah. Banyak yang mengejarnya, teman-teman SMA nya pun tak jarang ada yang masih sering menghubunginya untuk sekedar ngobrol atau mengajaknya bertemu. Tapi selama ini Raka tak pernah menganggap itu hal yang penting. Bertahun-tahun hidupnya terlalu sibuk dengan ambisi dan dunianya, hingga bahkan dia lupa bagaimana bersenang-senang dengan hidupnya.
Saat melajukan mobilnya pelan menyusuri jalanan kota yang lumayan sepi siang itu menuju ke rukonya, perut Raka tiba-tiba melilit saat melihat sebuah restoran fastfood di pinggir jalan di depannya.
Satu lagi kebiasaan buruk Raka lainnya adalah makan yang tidak teratur karena seringnya dia bekerja terlalu keras dan selalu menganggap bahwa makan adalah nomer sekian setelah pekerjaannya selesai.
Tak berpikir panjang lagi, dia segera membelokkan mobilnya ke restoran itu, tak sabar ingin mengisi perutnya yang tiba-tiba keroncongan.
Beberapa menit kemudian, di sudut restoran, Raka sudah menikmati sepiring personal pizza, semangkok spaghetti, dan juga satu cup coke dingin. Selain makanan di rumah makan Padang atau warung makan Jawa, memang hanya itu 'makanan sehat' yang Raka kenal.
Sejak pergi dari rumah, dia sudah jarang merasakan masakan sang ibu. Karena dia bukan tipe anak yang tiba-tiba muncul di rumah ibunya hanya untuk meminta makan. Dia akan selalu mencari sendiri dimana tempat dia bisa menemukan makanan saat dia sedang lapar, bukan dengan pulang ke rumah ibunya. Dan seperti itulah kehidupan Raka selama bertahun-tahun belakangan.
"Kak Raka?"
Mendengar namanya disebut saat dia sedang konsentrasi mengunyah potongan pizza dan men-scroll layar ponselnya di sebuah beranda situs berita ekonomi luar negeri, Raka sontak mendongak. Dan matanya segera menyipit saat melihat di sampingnya ternyata sudah berdiri gadis cantik berseragam SMP yang sepertinya pernah dia lihat.
"Kamu?"
"Mayla, Kak. Masa' kakak lupa?" ucap gadis remaja itu dengan senyum manisnya.
"Oooh iya, yang waktu itu ketabrak kan?" tanya Raka. Mayla mengangguk senang karena pemuda itu mengingatnya. "Gimana kakimu? Sudah sembuh?"
"Sudah lama kali Kak sembuhnya. Dan kakak sudah menanyakannya waktu itu di w******p. Kok sekarang nanya lagi?" Mayla nampak melotot, sedikit sewot dengan pertanyaan Raka.
"Oya? Maaf kalau gitu," ucap Raka tidak enak karena merasa tidak memperhatikan gadis remaja itu setelah dia menabraknya.
"Kakak sendirian?" tanya Mayla lagi.
"Iya, Kamu?"
"Aku sama temen-temen. Itu disana!" tunjuk Mayla ke sebuah bangku pelanggan tak jauh dari Raka. Pemuda itu segera menoleh ke tempat dimana 3 anak berseragam sama dengan Mayla sedang berbisik-bisik cekikikan sambil sesekali melihat ke arahnya.
"Sudah pulang sekolahnya?" Raka menoleh lagi ke Mayla.
"Iya Kak, pulang agak awal tadi. Jalan-jalan dulu sama teman. Oya, boleh May duduk disini, Kak?" Mayla menunjuk kursi di depan Raka.
"Silahkan," ucap Raka santai sambil melanjutkan menikmati makanannya. Mayla tersenyum senang mendengarnya. Tanpa banyak tanya lagi, dia segera menempatkan diri duduk dengan nyaman di depan Raka, memperhatikan pemuda yang tengah fokus dengan makanan di depannya itu.
"Kamu nggak makan?" tanya Raka keheranan. Ngapain juga gadis kecil ini duduk mengamatinya makan seperti itu? Dalam hati Raka keheranan.
"Udah selesai kok, Kak. Tinggal pulang," kata Mayla.
"Ooh." Raka agak risih sebenarnya dipandangi saat dia sedang makan. Tapi untuk mengusir anak kecil itu rasanya juga tidak tega.
"Kak Raka boleh tanya?"
"Boleh."
"Kakak tinggalnya dimana sih?"
Raka menghentikan kunyahannya. Sejak awal Raka memang menilai gadis remaja ini termasuk anak yang pemberani. Dia ingat pertama kali gadis ini juga yang justru menanyakan namanya, lalu meminta nomer ponselnya. Dan sekarang dia menanyakan rumahnya. Agak lucu menurut Raka karena ternyata anak-anak ABG jaman sekarang sudah bertambah semakin berani saja dengan lawan jenisnya.
"Nggak jauh dari sini kok, di ruko Madeline," jawab Raka singkat.
"Kakak tinggal di ruko?"
"Iya, kenapa?"
"Nggak di rumah gitu?"
"Enggak. Sekalian ngurus usaha di sana." Lagi-lagi Raka berbicara sangat santai meskipun dia sendiri tidak yakin apa gadis remaja ini mengerti dengan apa yang dia bicarakan atau tidak. Tapi Mayla nampak mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Oya, aku udah selesai. Aku duluan ya?" kata Raka setelah menyelesaikan tegukan terakhir minumannya. Dia bermaksud meninggalkan makanannya yang belum sepenuhnya habis karena merasa sangat tidak nyaman makan dengan ditunggui seperti itu. Apalagi yang menungguinya anak berseragam SMP.
"Ya, Kak. Oya, Mayla masih boleh kan w******p ke kakak'?" pinta gadis remaja itu sebelum Raka bangkit.
"Boleh, silahkan," kata Raka singkat sebelum akhirnya berlalu dari hadapan Mayla. Seperginya Raka, Mayla kembali ke teman-temannya dengan wajah sumringahnya. Dan cekikikan khas ABG segera terdengar dari meja mereka.
"Ya ampuuun, keren banget gilaaa. Kamu nemu dimana sih, May? Cakep banget tauuk," seloroh seorang temannya dengan gaya khas anak ABG yang baru bertemu cowok ganteng.
"Iiih kok nemu sih, emangnya kak Raka barang?" Mayla nampak sewot memukuli kepala teman-temannya satu per satu dengan daftar menu di tangannya.
Teman-temannya memang tidak salah. Raka memang sangat tampan, membuat tidur Mayla beberapa minggu belakangan jadi terganggu karenanya.