KELAKUAN MAYANG

1427 Words
"Kamu dari mana sih, May? Jam segini baru pulang?" Mayla kaget saat tiba-tiba ibunya menyambutnya dengan wajah ditekuk tidak karuan saat dia baru saja menjejakkan kakinya di ruang tamu rumahnya. "Ada apa sih, Mah?" tanya Mayla kebingungan. "Ada apa, Ada apa? Ini sudah sore, Kamu ngelayap kemana saja? Kalau pulang sekolah itu langsung pulang, jangan ngelayap dulu. Sudah tau juga dirumah nggak ada lagi pembantu. Malah keluyuran nggak pulang-pulang." Mayang menatap anaknya dengan jengkel. "Ini kan baru jam 4, Mah, biasanya Mayla juga kan pulangnya sore," protes gadis remaja itu. "Halah kamu itu, May. Alasan saja. Udah sana ganti baju, trus makan, lalu bantuin mama di belakang," ujarnya cepat melotot ke anaknya. "Iyaa, Mah." Mayla segera berlari ke kamar, mengganti baju seragamnya dengan celana jeans selutut dan kaos oblongnya. Lalu berjalan menuju dapur. "Bantuin apa, Mah?" tanya Mayla saat sampai di dapur dan melihat mamanya justru sedang duduk manis di kursi dapur sambil bermain dengan ponselnya. "Cuci tangan dulu, habis itu makan!" perintah sang mama. Tak menunggu lama, gadis remaja itupun sudah menyelesaikan makanannya. "Sudah, Mah. Mayla harus bantu apa?" "Di belakang, ada cucian kering. Tadi pagi mama udah nyuci, jemurin juga. Tugas kamu sekarang nyetrika, ya?" jelas sang ibu. "Ya, Mah."Mayla segera bangkit bermaksud untuk segera menjalankan perintah ibunya. "Eh, eh, mau kemana? Tunggu dulu, Mama belum selesai ngomong, May." "Apalagi sih, Mah?" Mayla kembali berdiri merapat di kursi dekat tempat ibunya duduk. "Mulai besok pagi, Kamu harus bangun pagi-pagi bantu mama siapkan sarapan. Trus, kalau sudah waktunya pulang sekolah, nggak boleh kelayapan. Harus cepat pulang. Banyak kerjaan rumah yang harus dikerjakan. Nggak ada lagi pembantu disini. Kamu ngerti kan, May?" "Iya Mah, ngerti." "Ya sudah sana, buruan setrika. Yang rapi ya?" Namun kali ini Mayla malah bengong tak bergerak. "Kenapa kamu? Malah bengong gitu?" "Memangnya Bik Narsih kemana sih, Mah?" "Sudah dipecat." "Kenapa dipecat? Bukannya kemarin kata bik Narsih pamit cuma mau pulang kampung saja?" "Dia dipecat, Sayang. Papamu yang sudah pengangguran itu nggak bisa lagi bayar gaji bik Narsih. Makanya dipecat." "Trus sekarang papa dimana, Mah?" "Ya pergi lah, cari kerjaan lagi." "Papa kenapa sampai dipecat sih, Mah?" Mayang melotot ke anaknya. "Kamu mau nyetrika apa mau cerewet terus, Mayla?" "Iya, iya, Mah. Galak amat, nggak usah marah-marah lah," ujar gadis itu sewot. "Jangan bikin Mama tambah stress Kamu ya. Dasar!" gerutu Mayang di tempat duduknya, jengkel. Mayla yang melihat gelagat tak baik dari ibunya, segera berlalu dari hadapan wanita itu. Biasanya pulang sekolah, dia akan makan lalu istirahat tidur siang. Kalau begini caranya, sepertinya dia tidak akan bisa istirahat siang lagi mulai sekarang. . . . Mayla belum pernah mengerjakan pekerjaan menyetrika sebelumnya, tapi dia sering melihat bik Narsih melakukannya. Dia pikir dia pasti juga bisa mengerjakan itu. Dengan semangat, anak remaja itu segera menenggelamkan diri dalam tumpukan baju kering di kamar belakang sambil sesekali bercengkrama dengan teman-temannya di obrolan w******p. Baru saja dia mulai menikmati pekerjaannya, tiba-tiba didengarnya suara ribut-ribut di ruang depan. "Belum dapat kerjaan lagi?? Ya ampuun, Papa. Lalu gimana doooong?" "Sabar, Mah. Papa kan juga masih usaha." "Yaaa, tapi udah berapa hari nggak dapet-dapet kerjaannya?" Nada bicara Mayang mulai tinggi. Baru juga beberapa hari, Mah. Mama udah ribut aja. Nyari kerjaan kan nggak mudah? Apalagi rata-rata sekarang yang dibutuhkan yang usianya masih produktif." Romi menggerutu kesal mengingat bagaimana tadi dia berkali kali harus ditolak mentah-mentah di beberapa kantor yang dikunjunginya hanya karena usianya yang sudah hampir setengah abad. "Ya kan? Apa mama bilang? Papa nggak mungkin dapat kerja lagi kalau kayak gini. Papa kan udah tua." Mayang mendudukkan diri dengan kesal di sofa ruang tamu. "Ya memang sudah tua. Trus mau gimana lagi? Papa kan juga sudah berusaha, Mah. Papa kurang gimana lagi?" "Ah terserah! Mama pokoknya nggak mau tau, Pah. Papa harus secepatnya dapet kerja. Mama nggak mau ngerjain kerjaan rumah terus-terusan. Capek Pah! Mana si Mayla keluyuran aja pulang sekolah bukannya langsung pulang." "Mayla udah pulang?" "Udah." "Dimana dia sekarang?" "Di belakang, nyetrika." "Mama, Mama, anaknya pulang sekolah mbok ya disuruh istirahat dulu. Malah disuruh kerja? Baru pulang kan dia?" "Biarin aja. Lagian mama udah ngerjain semuanya dari tadi pagi. Mama sudah capek. Gantian lah." Romi mendengus melihat kelakuan sang istri. "Ya udah terserah mama aja lah. Papa lapar, mau makan dulu." Romi bergegas ke kamarnya, membersihkan diri di kamar mandi, berganti baju lalu menuju meja makan. "Nggak ada sayuran, Mah?" tanyanya. "Nggak sempat nyanyur, Pah. Capek Mama. Itu aja lah dimakan." Romi menatap hidangan di hadapannya dengan tak bersemangat. Istrinya hanya menggoreng ayam saja tanpa pelengkap apapun. Benar-benar kacau si Mayang ini. Tanpa pembantu dia bahkan tidak bisa apa-apa. Sangat berbeda sekali dengan Rani. Dulu sepulang kerja, wanita itu selalu menyuguhkan makanan sehat untuknya dan anak-anak mereka. Rumah pun sudah dalam keadaan rapi saat dia pulang. Segala pekerjaan beres tanpa butuh bantuan pembantu. Tapi mayang? Selama hidup bersamanya memang selalu dimanjakannya dengan pembantu. Jadi seperti ini jadinya istri keduanya itu jika tidak ada pembantu di rumahnya? Romi menggelengkan kepala. Bahkan air putih pun tidak disiapkannya di meja untuk suaminya. . . . Baru beberapa kunyahan Romi makan, tiba-tiba dilihatnya sang istri sudah keluar dari kamar dengan pakaian glamour-nya seperti biasa jika dia sedang akan pergi bersama teman-temannya. "Mama mau kemana?" "Keluar, Pah. Jadwalnya arisan sama ibu-ibu pejabat." jawab wanita itu cuek. "Mah, gimana sih? Itu anakmu kamu suruh kerja malah kamu yang keluyuran?" "Gantian lah, Pah. Mama kan capek. Lagian ini jadwalnya arisan, nggak bisa diganggu gugat. Kalau mama nggak datang nanti apa kata mereka?" "Kata mama waktu itu arisannya udah selesai?" "Yaa, kan ada lagi." "Mama ikutan lagi?" "Ya iya lah, Pah." "Ngapain Mah? Keadaan kita lagi gini. Nggak usah ikutan arisan-arisan kayak gitu dulu kenapa sih?" "Nggak bisa, Pah. Malu dong Mama. Apa nanti kata mereka kalau mama tiba-tiba nggak ikut arisan lagi?" "Mama lebih malu nggak ikut arisan daripada nggak makan? Arisanmu itu kan mahal, Mah. Bisa berhemat kita kalau kamu nggak ikut." "Pokoknya nggak bisa! Papa sudah menghilangkan banyak kesenangan mama. Papa nggak boleh melarang mama untuk ikut arisan juga dong. Papa ini jahat banget ih." "Bukannya jahat, Mah. Lihat kondisi kita sekarang lah. Jangan egois! Mayla sama Faya juga masih butuh biaya sekolah. Mendingan uangnya buat jaga-jaga bayaran sekolah mereka kan?" "Ah sudah! Papa bawel banget. Mama mau pergi. Sudah telat ini." Dan Mayang pun segera berlalu dari ruangan itu. Romi hanya bisa memejamkan mata dan menghela nafas panjang melihat tingkah istrinya. "Kenapa sih, Pah, kok rame banget dari tadi?" Mayla muncul di ruang makan dan menatap papanya yang sedang duduk muram di kursinya. "Nggak papa, May. Kamu lagi ngapain di belakang?" "Nyetrika, tapi udah selesai kok. Mama pergi ya?" "Iya. Adikmu kemana?" "Di kamarnya. Masih tidur, Pah." "Kamu sudah makan?" "Sudah kok." Perbincangan ayah dan anak itu terhenti ketika seorang anak perempuan usia 5 tahun keluar dari sebuah kamar dan berjalan ke arah mereka sambil mengucek-ucek matanya. "Mamaa ...," panggilnya. Mayla yang melihat adiknya baru bangun tidur segera menghampirinya. "Faya udah bangun? Mama nggak ada, Sayang. Sama kakak aja ya?" katanya sambil menggendong anak itu. "Mandi ya? Faya bau kecut banget ini." Mayla menciumi adiknya hingga anak kecil itu kegelian. Romi yang melihat adegan itu dari tempat duduknya lagi-lagi hanya menggelengkan kepala. Bahkan anak bungsunya belum mandi sudah sesore ini, eh istrinya yang cantik itu malah sudah kelayapan ke tempat arisan. Beruntung Romi masih memiliki anak gadisnya yang sangat pengertian itu. Jika tidak, entahlah akan jadi apa rumah ini? . . . [Share lokasi, Sayang. I'm on the way.] tulis Raka pada pesan whatsappnya. Di kamarnya yang luas dan mewah, Ayu yang sedang ngobrol dengan sang ibu dari setengah jam yang lalu mendadak terbahak setelah melihat layar ponselnya. "Kenapa Kamu, Yu?" tanya wanita baya dengan penampilan elegan itu keheranan melihat anak semata wayangnya tertawa begitu ceria. Dia jarang sekali melihat Ayu tertawa lepas seperti ini. Apalagi sejak tragedi rumah tangganya dengan mantan suaminya yang b******k itu. "Nggak papa, Mah. Ayuk siap-siap dulu ya." "Mau pergi?" "Iya." "Sama pria?" Ayu tidak menjawab, hanya mata indahnya yang terlihat memberi sinyal bahwa dia memang akan pergi bersama pria. Sang ibu nampak tercenung. Setelah beberapa tahun, anaknya yang tak pernah lagi berbicara tentang percintaan dengan lawan jenisnya itu hari ini akan pergi dengan pria. Apakah masa trauma anaknya itu telah lewat? Wanita tua itu nampak ikut tersenyum juga melihat wajah cerah anaknya. Wanita baya itu sudah berjanji dalam hati tidak akan lagi membiarkan anaknya mengalami kejadian yang sama seperti sebelumnya. Kali ini dia akan benar-benar memastikan pria yang bersama dengan sang anak benar-benar pria yang baik. Bukan hanya pria berwajah tampan atau punya kedudukan saja yang pada akhirnya hanya menyakiti buah hatinya itu lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD