Tidak lama setelah kedatangan Noel pintu ruang gawat darurat terbuka, tampaklah Papi keluar dari sana dengan jas dokternya, tersenyum melihat anak perempuannya yang masih terus menangis seperti saat pertama kali datang ke rumah sakit tadi. “Papi—” “Saba nggak apa-apa, Sayang. Lukanya memang cukup parah, tapi hanya sebatas apa yang terlihat di luar. Bagian-bagian vitalnya baik-baik aja, jadi kamu nggak perlu khawatir. Meski dia harus tetap dirawat inap di sini untuk beberapa hari, sampai luka-lukanya membaik.” Nigi menghampiri sang Papi, memeluk Papi erat sambil terus menuturkan terima kasih, yang dibalas Papi dengan senyum dan tepukan ringan di punggung gadis itu. Nigi sebenarnya tahu bukan ranah Papi untuk menangani Saba, tapi meminta Papi secara khusus berada di IGD dan turut memastik

