28. Dua Puluh Delapan

1297 Words

Siang yang cukup terik, membuat Nigi harus berkali-kali menghalau sinar matahari yang diam-diam menyorotnya dari balik celah dedaunan. Gadis itu melirik jam di pergelangan tangannya, sudah hampir lima belas menit Saba mengajaknya ke halaman belakang untuk makan siang bersama. Tapi pemuda itu kemudian pergi setelah membawa Nigi ke sana, membeli makanan di kantin yang harusnya sudah kembali sejak tadi, tapi entah kenapa sampai Nigi merasa bosan pemuda itu tidak juga kembali. Berkali-kali Nigi menoleh ke lorong, arah datang di mana Saba muncul seharusnya, tapi jangankan siluet, aroma pria itu saja tidak tercium oleh hidung Nigi yang selalu sensitif jika menyangkut Saba. Nigi berdecak, bangkit dari duduknya dan memutuskan pergi dari sana. Mencari Saba terasa lebih baik dibanding harus menung

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD