“Kenapa kau harus kemari setiap pagi? Aku punya mobil sendiri yang bisa kukendarai ke kantor.” Bibir Ola cemberut saat melihat Nero berdiri di depan pintu apartemennya pagi-pagi sekali. Ia bahkan belum bersiap-siap untuk ke kantor dan masih mengenakan baju tidurnya. Namun, di balik sikapnya yang cemberut, Ola senang melihat Nero ada di sana. Itu hampir seperti kebiasaan sekarang. “Jadi kau tidak butuh kopiku?” ucap Nero sambil menggoyang-goyangkan gelas kopi di tangan kanannya sambil tersenyum. Ola mendesah sambil membuka pintu lebih lebar, lalu merebut gelas itu dari tangan Nero. “Kau tidak pernah bermain adil.” “Dan kau terlalu mudah untuk disogok,” jawab Nero sambil tertawa. “Apa yang kau buat untuk sarapan?” Pria itu berbalik saat Ola menutup pintu. “Sudah kuduga kau kelaparan,” g

