Perdebatan Keluarga
“Ibu malu, Mei.”
“Biarin aja, Bu. Ngapain omongan tetangga ditanggepin. Lagian itu semua cuma mitos, Bu. Mitos.” Mei berdiri sambil membawa laptop. Bersiap meninggalkan rumah. Kalo sudah begini, cafe adalah tempat pelariannya.
Mei, wanita berusia 35 tahun yang menjadi momok bagi hampir semua masyarakat di desanya. Tinggal di desa yang masih kental dengan kepercayaan semacam tahayul, pamali, pantangan, mitos, dan sejenisnya membuat wanita bernama lengkap Meimanah itu jengah.
“Nikah… nikah… nikah. Itu aja terus,” dumel Mei.
“Gimana nggak itu… terus, lah kamunya belum nikah nikah juga, Mei.” Sang Ibu mengikuti arah langkah Mei. “Adikmu bentar lagi mau nikah, itu artinya kamu bakalan dilangkahi lagi untuk ketiga kalinya,” ucap ibu Mei gusar. “Kalo kamu jadi perawan tua gimana?”
Mei berbalik dengan mata mendelik. “Ibu nyumpahin, Mei?” nadanya sedikit tersinggung.
Rosmah, ibu Mei, menghela napas. “Ibu nggak bermaksud, tapi itu memang benar.”
“Nggak ada bukti ilmiah tentang hal itu, Bu,” jawab Mei. “Lagian Mei juga baru naik jabatan jadi manajer. Nggak ada waktu mikirin hal kek gini.”
Giliran Rosmah mendelik tak suka. “Kamu juga kenapa repot-repot mikirin kerja. Mending cari jodoh biar cepat nikah!”
Meski tahu jika ibunya memang seperti ini, tetapi tetap saja Mei sedikit sedih. Seharusnya hari ini dia dirayakan atas pencapaian yang diperoleh. Namun, justru sebaliknya.
“Jika Mei belum punya calon, mending kita terima saja tawaran dari Benu, Bu.” Bapak Mei muncul dari tirai pintu penghubung dapur dan ruang tengah.
Mei melotot, syaraf otaknya tampak eror setelah mendengar perkataan sang bapak. Benu, nama itu tentu tidak asing, laki-laki berusia 40 tahun yang terkenal sebagai juragan kopi di desa mereka. Namun masalahnya, Benu sudah punya dua istri.
Mei tahu arah diskusi yang ingin dibangun bapaknya, Nasrudin. Dua hari lalu, Benu memang datang ke rumahnya dan mengutarakan maksud untuk menjadikan Mei istri ketiga. Jelas niat tersebut ditolak mentah-mentah oleh Mei sendiri. Sebegitu tidak lakunya kah dia hingga harus menerima tawaran tersebut? Begitu kira-kira pikir putri sulung Nasrudin dan Rosmah.
“Bapak nggak lagi mabuk, kan?” ujar Mei.
“Sembarangan kalo ngomong! Kapan Bapak pernah mabuk-mabukan.”
“Lah itu buktinya. Bapak mana yang dengan santai menjadikan anaknya umpan bagi buaya rawa.” Bibir Mei mengerucut, dua lubang hidungnya melebar beberapa milimeter, dan kedua bola mata hampir keluar. Ekspresi yang sering dia tampilkan jika sedang menahan emosi.
“Jaga ucapan, Mei!” Sergah Rosmah. “Nggak baik ngomong begitu. Benu itu bukan buaya rawa.”
“Iya, bukan buaya rawa tapi ular kadut,” jawab Mei asal.
“Mei…!”
“Aduh… berisik banget sih, Bu. Pengang nih kuping, lama-lama rusak sound sistem di dalam telinga.” Mei mengusap-usap telinga.
“Lagian kamu kalo diajak ngomong nggak pernah serius,” jawab Rosmah.
“Kapan Mei tidak pernah serius? Mei itu selalu dengerin omongan ibu. Ya… asal jangan pasal nikah aja.”
“Nah, liat…! Itu yang ibu nggak suka.”
“Sudah Mei, Bu. Malu didengerin tetangga,” ujar Nasrudin menengahi. “Jadi bagaimana, Mei? Terima saja tawaran Benu!”
“Nggak mau, Pak. sampai mati pun Mei nggak bakalan sudi jadi racun dalam rumah tangga orang.”
“Hei…!” Rosmah menjewer telinga putrinya. “Kalo kamu sama Benu, hidup kamu terjamin. Kebun dia banyak, dan kamu terbebas dari kutukan.”
“Aduh… Ibu” Mei berusaha menarik diri. “Kutukan apa sih, mana ada hal hal macam gitu, Bu. Apalagi cuma perkara belum nikah.”
“Kamu itu kalo dibilangin orang tua selalu aja bantah,” Nasrudin kembali bersuara. “Uang bulanan dari Benu dua kali lebih banyak daripada gajimu jika kamu nikah sama dia.”
Telinga Mei panas mendengar tutur ayahnya. Berapa sih uang yang bisa Benu kasih ke dirinya?
“Mei masih mampu menghidupi diri sendiri dengan gaji yang Bapak anggap tak seberapa itu,” balas Mei.
Rosmah memijat kedua pelipis. Pening seketika menghantam kepala. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi memberi pengertian kepada Mei.
“Kamu benar-benar tidak memikirkan perasaan dan nama baik keluarga, Mei,” kata Nasrudin.
“Pak, belum menikah di usia 35 tahun itu bukan aib sampai bisa memalukan nama keluarga. Menikah itu masalah takdir, lagipula tidak ada kata telat untuk menikah.”
Mei masih berusaha memberi pemahaman meski dia sendiri yakin jika itu tak berguna. Tumbuh di lingkungan yang menganggap perempuan harus menikah muda dan tidak boleh dilangkahi, membuat pola pikir orang tua Mei sangat konservatif.
“Tapi ini masalah pandangan masyarakat. Bentar lagi adikmu yang bungsu mau menikah.” Benarkan, ayahnya tidak serta-merta mengamini perkataan Mei sebelumnya.
“Kita hidup bukan untuk orang lain, Pak, Bu. Kita hidup untuk diri kita sendiri.” Mei menggapai tangan orang tuanya. Berharap diskusi panas ini berakhir sejuk.
Sayangnya itu mustahil. Rosmah menepis pegangan tangan Mei. “Kamu memang egois, Mei. Pekerjaan jauh lebih penting bagimu dibanding menyelamatkan muka orang tua.” Rosmah lantas pergi dengan raut kecewa.
Nasrudin menarik napas berat. “Biar Bapak yang bujuk, Ibu.” Pria 57 tahun itu menggenggam erat tangan anaknya. “Sebaiknya kamu pikirkan lagi tawaran tersebut.”
Mei sama kecewa, begitu lah orang tua yang dia miliki. Bagi Nasrudin maupun Rosmah, penilaian sosial jauh lebih penting daripada kebahagiaan anak-anaknya. Mei, sejak dulu dianggap melawan. Hanya karena dia lebih fokus dengan sekolah, hanya karena dia merantau untuk bekerja, dan hanya karena dia sibuk dengan karier dibanding menikah.
“Kapan pikiran Bapak dan Ibu terbuka,” ujar Mei lirih. “Dikira menikah tanpa persiapan matang gampang kalik.”
Mei berjalan ke arah ruang tamu. Ternyata semua adik dan iparnya tengah duduk terdiam. Ah, mungkin merasa mendengar semua tadi, pikir Mei. Sudah pasti demikian.
“Maafin aku ya, Kak,” kata Mela, adik terakhir Mei.
Kening Mei berkerut. “Maaf untuk apa?”
“Gara-gara Mela mau nikah, Kakak jadi diomelin Ibu lagi,” katanya dengan raut sendu.
Sudah menjadi pemandangan biasa, tiap kali ada di antara mereka bertiga yang ingin menikah. Ibu mereka justru tantrum terhadap kakak sulung. Mei sudah kebal, apapun itu, dia percaya bahwa jodoh tidak akan tertukar, tertutup, atau bahkan lari. Selagi kita masih mau ikhtiar, tidak ada kata mustahil. Hanya saja untuk saat ini dia masih ingin fokus dengan karier yang sudah dibangun sejak lama.
“Santai aja, Mel. Jodoh itu Tuhan yang ngatur. Kalo memang Tuhan ingin kamu dulu yang menikah, kita bisa apa?” Mei memberi senyum tercantik menurut versinya.
“Semoga Kak Mei segera menemukan jodoh,” ucap Mirna, adik pertama Mei dengan tulus.
“Jodoh yang ganteng, kaya, baik, bisa masak, bisa ngepel, nyuci baju, gantiin popok anak. Semua deh,” kata Mita, adik kedua Mei dengan histeris.
“Aamiin…!” Mereka serempak mengusap wajah.
“Berpelukan…!” Mei merentangkan kedua tangan, menunggu tiga adiknya berhamburan memeluk dirinya.
Mereka berpelukan, saling berbagi dukungan dan kasih sayang. Namun tiba-tiba, dari arah luar rumah terdengar suara teriakan pria.
“Kak Rosmah…! Mei mau nikah nggak?”
“Hah….?!”