Wisnu mengajak Bima ke sebuah bukit yang tempatnya berada di balik belakang sebuah desa. Di sana terdapat sebuah rumah pohon yang mulai tak terawat. Di bawahnya terdapat sebuah ayunan tua yang masih kokoh. Bima merasa sangat senang bisa menikmati pemandangan di sekitar sana. Sesaat ia mengambil nafas panjang sambil memjamkan matanya. Angin yang berlalu lalang melewati keduanya membuat rasa sejuk.
“Bima, boleh saya tanyakan sesuatu?” tanya Wisnu yang membuka obrolan diantara keduanya. Kini keduanya sedang duduk sejajar sambil melihat ke arah pemukiman desa. Bima membuka matanya dan menoleh ke arah Wisnu.
“Ada apa, Mas?” tanya Bima sambil tersenyum. Jujur saja sejak Wisnu menawarkan akan menemaninya dan ingin membicarakan sesuatu ia sangat penasaran. Terlebih ini mungkin baru atau sudah kesekian kali mereka bertemu tapi tak begitu akrab.
“Sejak kapan kamu mengenal Karin?” tanya Wisnu yang membuat Bima tertawa kecil. Bima kira akan ada hal lain yang akan di tanyakan kepadanya. namun ini cukup menarik bagi Bima kenapa Kakak Ipar Karin ingin tahu tentang ia dan juga Bima.
“Saya mengenal Karin sejak kami masih sangat kecil, kami juga dulu sempat merasakan sekolah taman kanak- kanak bersama. Hampir setiap hari saya dan Karin dulu saling bertemu entah untuk bermain atau menikmati beberapa acara keluarga bersama. Saat itu Karin terlihat sayang periang, ramah dan juga baik. Tapi sejak hari itu saya tidak pernah bertemu dengannya lagi dan mungkin takdir yang kembali mempertemukan kami. Sifat Karin terlihat berbeda hingga saya ragu melihat Karin yang sekarang.” Jelas Bima yang membuat Wisnu penasaran apakah ucapan Bima ini benar.
“Tapi mungkin wajar kalau sifat Karin kali ini sedikit berubah mungkin ada hubungannya dengan kepergian Tante Nita.” Tambah Bima lagi. Wisnu sangat kaget mendengar ucapan Bima kali ini. Apakah mungkin Bima sempat mengenal almarhumah sang mertua?
“Kamu kenal sama Mama Nita?” tanya Wisnu
“Bukan hanya sekedar kenal tapi melainkan sangat dekat. Dulu saat beliau masih ada Karin orang yang paling sering menempel. Entah saat Mama Nita ingin ke kamar mandi bahkan ke dapur. Karin juga pernah bercita- cita ingin menjadi sosok Mama Nita, Mas.” Jawab Bima yang merasa bangga karena mengetahui banyak hal tentang Karin dan keluarga.
“Lalu apa alasan kamu menerima perjodohan ini?”
“Jawabannya simpel kalau sebenarnya Karin adalah cinta pertama saya.” Seru Bima yang terdengar begitu yakin daan tanpa ragu.
“Berarti saya enggak perlu khawatir tentang kamu dan juga Karin nantinya.” Seru Wisnu.
“Khawatir? Untuk apa? Apa saya terlihat tidak baik? Atau tidak pantas untuk Karin, Mas?” tanya Bima sambil tertawa geli. Bima merasa sangat yakin kalau dia memang benar- benar orang yang tepat untuk Karin.
“Menurut pemberitaan berbagai macam media sosial kamu seseorang yang..” Wisnu seperti enggan melanjutkan kalimat selanjutnya yang takut membuat Bima tersinggung.
“Suka gonta- ganti pasangan?” tebak Bima namun di jawab anggukan olehnya Wisnu.
“Itu Cuma sekedar pemberitaan media tentang saya, Mas. Sejak mantan saya meninggalkan saya beberapa tahun lalu saya tidak pernah merasa benar- benar mencintai seorang wanita apalagi berniat serius untuk menikahinya. Tapi sejak saat itu juga saya belum pernah menjalin hubungan apa pun yang lebih dari sekedar teman atau sahabat. Ya Mas tahu kita ini adalah seorang tokoh publik dan selalu menjadi sorotan walau sekali pun mengatakan sebuah kebenaran tapi mereka Cuma menilai dari apa yang dinilai mata.” Seru Bima yang tanpa sadar mencurahkan segala isi hatinya. Bagi Bima ia tipe orang yang sulit mencurahkan setiap keresahannya kepada sembarang orang kecuali pad Danu.
“Tapi saat bertemu dengan Karin lagi, saya jadi bisa kembali merasakan jantung saya berdebar kencang, Mas.” Jawab Bima polos yang kali ini membuat Wisnu tertawa seperti sedang mendengarkan curhatan saja.
“Mas, saat ini Cuma bisa berharap kalau kamu memang lelaki yang memang baik untuk Karin hingga Papa Wira tak perlu merasa khawatir lagi.” seru Wisnu sambil menepuk bahu Bima.
“Saya usahakan yang terbaik nantinya untuk Karin, Mas. Tapi apakah benar Karin menerima perjodohan ini?” tanya Bima yang masih ragu.
“Niatnya sebelum makan Malam atau sesudah Makan malam kita akan bicarakan hal ini nanti dan kamu bisa mendengarkan sendiri apa yang akan Karin sampaikan. Kamu pun bisa menyampaikan apa yang kamu ingin sampaikan.” Jawab Wisnu sambil melirik jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul dua.
“Sepertinya Mas sudah mulai mengantuk, apa kamu mau kembali ke rumah atau masih tetap disini?” tanya Wisnu.
“Saya masih ingin di sini dulu, Mas.”
“Ya sudah kalau begitu Mas duluan ya.” Pamit Wisnu meninggalkan Bima.
Bima masih tersenyum sendiri dan masih tak habis pikir kenapa ia dengan mudah berbagi cerita dengan Wisnu yang notabennya tak terlalu akrab itu. Karin beruntung mempunyai Kakak Ipar seperti Wisnu. Sosok Kakak laki- laki yang masih mengkhawatirkan masa depan adiknya. Dari dulu Bima tak pernah tahu rasanya mempunyai Kakak dan juga adik karena memang dia adalah anak semata wayang dari Papa Aji dan Mama Anna.
# # #
Makan malam pun tiba, semua orang sudah berkumpul di meja makan kecuali Karin. Papa Wira merasa panik apakah anaknya berubah pikiran atau ada hal lain. Papa Wira pun akhirnya menyuruh seorang pelayan untuk memanggil Karin. Tapi baru saja sang pelayan berbalik Karin baru saja tiba di antara mereka.
“Maaf Karin terlambat.” Seru Karin sambil menunduk karena merasa bersalah.
“Enggak apa- apa Karin, hayuk duduk sini.” Ajak Mama Anna yang begitu senang melihat kedatangan calon menantunya.
“Sebelumnya Karin mau minta kepada semuanya karena telah bersikap tidak baik siang tadi.” Ucap Karin lagi kali ini terdengar sangat tulus.
“Enggak apa- apa Karin, Kita semua mengerti kalau kamu syok. Lupakan saja ya kejadian siang ini.” Seru Papa Aji sambil tersenyum.
“Ya sudah mari kita mulai makan malamnya. Karin bisa duduk sekarang.” Tambah Papa Wira.
“Karin sini kamu duduk sebelah tante ya.” Seru Mama Anna yang begitu antusias. Padahal di sebelah Mama Anna sudah ada Bima.
“Tapi sebelah tante..” seru Karin sambil menunjuk ke arah Bima.
“Bima kamu bisa geser kan ke sebelahnya.” Ucap Mama Anna sambil tersenyum tipis ke arah Karin.
“Ya ampun sih Mama tega banget masa anaknya di usir.” Batin Bima sambil beranjak dari tempat duduknya saat ini dan bergeser ke sebelahnya. Karin pun langsung berjalan duduk di sebelah Mama Anna. Mama Anna dengan senang hati mengambilkan nasi dan beberapa lauk pauk untuk Karin. Dari dulu Mama Anna selalu ingin punya anak perempuan namun sayang karena alasan lain ia tak bisa kembali punya anak dan sekarang hanya Bima seorang yang menjadi anak tunggalnya.