Sesuai permintaan Papa Wira, Clarissa dan Wisnu baru sampai di ruang tengah untuk menemani Bima dan serta keluarga. Ada raut wajah khawatir dan cemas yang terpancar jelas. Ketiganya sangat ingin mengetahui bagaimana keadaan Karin saat ini.
“Bagaimana dengan Keadaan, Karin?” tanya Mama Anna.
“Keadaan Karin sudah sangat tenang saat ini, Tante. Dan sekarang sedang berbicara dengan Papa di atas.” Jawab Wisnu. Ketiganya yang mendengar ucapan Wisnu kini bisa bernafas lega. Setidaknya jika memang perjodohan ini tidak benar- benar terwujud pun tak apa asalkan Karin dalam keadaan baik.
“Syukurlah kalau Karin sudah merasa tenang.” Seru Mama Anna.
“Oh ya bagaimana kalau Tante, Om dan juga Bima beristirahat dulu karena mungkin saja kalian merasa lelah selama perjalanan Jakarta- Bandung.” Usul Clarissa.
“Tapi Tante penasaran bagaimana kelanjutan perjodohan ini.” Tambah Mama Anna.
“Mama, jangan seperti ini ya. Kalau memang nanti Karin tidak ingin melanjutkannya tidak apa- apa kita tidak boleh memaksa.” Seru Papa Aji.
“Baiklah, Pa.” Seru Mama Anna sambil membuang nafas frustasi.
“Kalau begitu mari saya antar kan.” Seru Wisnu sambil beranjak berdiri dari sofa. Mereka pun semua berjalan menuju lantai dua rumah ini dimana kamar tamu sudah di persiapkan untuk mereka. Lantai yang sama dengan lantai kamar tidur Karin namun letaknya ada di lorong sebelah Kanan dari ujung tangga. Sedangkan Kamar Karin ada di lorong sebelah Kiri. Selama perjalanan menuju lantai dua mereka sempat terhenti saat melihat beberapa foto Clarissa dan Karin yang terpampang di dinding. Mulai dari foto mereka yang baru lahir, balita hingga sampai saat ini. Semua menempel di dinding hingga terlihat begitu rapi.
Bima sempat tersenyum kala melihat beberapa foto tersebut. Memorinya bersama Karin pun tiba- tiba saja terpanggil di ingatan. Andaikan saja Karin tidak pindah rumah dan rumah mereka masih saling berdekatan mungkin sampai saat ini mereka juga masih akrab. Namun begitulah takdir yang terlihat lucu mereka sempat terpisah dan kini bertemu dalam sebuah perjodohan.
Sesampainya di ujung tangga teratas mereka sempat mendengar sebuah pintu yang baru di tutup. Itu adalah Papa Wira yang sedang menutup pintu. Beliau baru saja keluar dari kamar Karin dengan senyum yang masih terpampang jelas di wajahnya.
“Akhirnya Karin setuju di jodohkan oleh Bima.” Seru Papa Wira yang sudah ada di hadapan mereka. Mereka yang mendengar ucapan itu pun tersenyum lebar dan merasa sangat bahagia.
“Akhirnya Bima menikah juga.” Seru Mama Anna yang tak kalah bahagianya karena ia sudah merasa sangat putus asa jika Bima dan Karin tak menikah. Kalian mungkin tahu bukan alasan Mama Anna ini.
“Kita bisa menjadi besan juga, Wira.” Tambah Papa Aji sambil merangkul Papa Wira.
“Mas, Karin..” seru Clarissa yang juga senang kepada suaminya. Wisnu hanya bisa tersenyum mendengarnya. Namun dalam hatinya masih sangat khawatir dengan keputusan Karin yang terdengar mudah berubah. Wisnu juga penasaran apakah surat itu yang mampu membuat Karin berubah pikiran dalam waktu cepat atau Papa mertuanya memang sanggup memberi pengertian kepada Adik iparnya itu.
“Bagaimana kalau kita segera tentukan tanggal pernikahan mereka.” Usul Mama Anna yang ingin segera menjadi Karin sebagai menantunya. Namun usul Mama Anna tadi membuat semua merasa sangat terkejut.
“Mama..” lirih Bima.
“Eh kenapa, Bima?” tanya Mama Anna bingung.
“Apa nanti Karin enggak akan kaget kalau kita bahas hal ini?” seru Bima khawatir. Mama Anna pun mulai mencerna apa yang Bima ucapkan.
“Kalau begitu bagaimana nanti malam kita runding kan bersama Karin juga.” Usul Papa Aji.
“Boleh juga usul kamu, Ji. Ya sudah lebih baik sekarang kita semua beristirahat saja.” Seru Papa Wira. mereka pun mengangguk setuju dan Kini Wisnu kembali mengantarkan mereka ke kamar tamu. Sementara Clarissa dan Papa Wira turun ke lantai dasar.
# # #
“Karin.. Karin.. andai kamu mengingat siapa diriku mungkin kamu akan menerima perjodohan ini tanpa harus bersikap seperti itu.” Seru Bima setelah meletakkan tubuhnya di atas tempat tidur. Kedua tangannya saling berkaitan dan menjadi bantalan untuk kepalanya sementara tatapan matanya kini menatap lekat langit- langit kamar. Seakan di sana ia bisa kembali melihat wajah Karin yang tak sengaja menabrak dirinya tadi.
Sesaat Bima pun ingin menutup matanya namun matanya tak bisa terpejam karena ponselnya berdering sangat nyaring. Ia meraih ponsel yang masih ia simpan di dalam saku. Di sana tertera jelas nama Audrey yang membuatnya malas untuk menerima panggilan tersebut. Namun jika tidak ia jawab panggilan tersebut pasti wanita itu akan terus menghubunginya tapi jika ia mematikan ponselnya saat ini ia takut nanti akan ada telefon penting yang sedang ia tunggu. Sebuah panggilan yang menyangkut kerja sama perusahaannya. Mau tak mau akhirnya Bima menggeser layar ponsel tersebut dan menempelkan benda persegi itu ke telinganya.
“Hallo..”
“Akhirnya aku bisa telefon kamu, Bima.” Seru wanita itu senang.
“Kenapa kamu telefon aku?” Tanya Bima sinis.
“Hari ini aku mau ajak kamu makan malam, Yuk.” Ajak Audrey.
“Aku enggak bisa.” Ucap Bima singkat.
“Loh kenapa? Kamu masih marah soal kejadian beberapa hari lalu?” tanya Audrey yang menyesal.
“Aku lagi enggak di Jakarta sekarang.”
“Kamu dimana? Nanti aku susul.”
“Enggak usah, Au. Sudah ya kamu jangan hubungi aku dulu sampai aku hubungi kamu soalnya aku lagi sibuk banget.” Ucap Bima dan langsung menutup obrolan diantara mereka. Ia meletakkan ponselnya di sebelah tempat tidurnya dan membuang nafas kesal. Jika tidak ingat kalau Audrey yang selalu ada di saat masa tersulit nya saat itu mungkin Bima sudah menjauhi gadis itu.
Bima pun mengangkat tubuhnya dan mengusap kasar wajahnya. Rasa kantuk yang sempat menghampirinya kini hilang karena dering telefon dari Audrey. Ia kini tak bisa memejamkan matanya, ia bingung harus apa saat ini. Pasalnya jika ia sedang bosan seperti saat ini mungkin ia akan bermain PlayStation bersama Danu tapi sayang keduanya tak ada saat ini.
Bima pun akhirnya memutuskan untuk berjalan- jalan di sekitar kebun teh dan mungkin ia akan kembali ke pohon besar tadi. Bima meraih ponselnya yang masih ada di atas tempat tidur. Ia juga sempat mencuci wajahnya agar terlihat lebih segar. Setelah itu ia keluar dari kamarnya, sebelum menuruni anak tangga Bima sempat melirik kamar Karin yang masih tertutup rapat.
“Bima..” panggil Wisnu saat melihat Bima yang baru saja turun dari tangga.
“Eh Mas Wisnu.”
“Kamu mau kemana? Kenapa enggak istirahat di kamar? Apa enggak betah ya?” Wisnu mencecar Bima dengan segala pertanyaan.
“Bukan, Mas. Saya Cuma mau cari udara segar saja.” Jawab Bimas sambil tersenyum.
“Oh kalau begitu biar saya temani sekalian saya ingin berbicara beberapa hal sama kamu, Boleh?” seru Wisnu yang membuat Bima penasaran hal apa yang ingin di bicarakan dengannya. Apakah tentang pekerjaan atau hal lain.
“Boleh, Mas. Kebetulan saya butuh teman mengobrol.” Jawab Bima. Wisnu yang senang sudah di perbolehkan ikut langsung meletakan cangkirnya di meja. Mereka pun akhirnya keluar dari rumah dan menuju kebun teh.