Sebelum masuk Papa Wira mengetuk pintu kamar Karin terlebih dahulu sebelum masuk. Setelah di persilahkan Papa Wira barulah masuk ke dalam kamar putrinya. Beliau langsung duduk di sebelah anaknya yang memang sedang duduk di tepi tempat tidur.
“Kenapa Papa tega lakukan ini ke Karin?” pertanyaan pertama yang Karin lontarkan ke sang Papa kala mereka sudah duduk sejajar.
“Sebelum Papa jawab pertanyaan kamu, lebih baik kamu baca surat ini dahulu.” seru Papa Wira sambil menyodorkan amplop putih yang terlihat usang tersebut. Karin menoleh ke arah Papa Wira bingung, ia juga penasaran apa isi amplop tersebut. Tanpa ragu ia mengambil amplop tersebut dan membukanya.
Dear Karina Afriani Wiratama,
Karin, apa kabar? Mama harap kabar kamu baik- baik saja ya sayang. Maafkan mama karena mama tidak mempunyai umur yang panjang untuk terus menemanimu dan Clarissa hingga tumbuh seperti saat ini. Dan mungkin Mama tidak bisa mendampingi kamu dan juga Kakakmu saat kalian menikah dan mempunyai anak kelak.
“Tes..” tetes air mata Karin mulai tumpah kala ia membaca surat yang memang di tulis oleh Mama Nita. Beberapa memori bersama beliau pun mulai muncul satu per satu entah itu senang atau pun sedih. hati Karin terasa sangat sesak kala ia tahu raga Mama Nita tak ada di sampingnya saat ini. Saat dimana ia sangat membenci perjodohannya dengan seorang Bima.
Karin, Mama senang kalau akhirnya sekarang kamu tumbuh menjadi anak yang baik. Mama tahu untuk sampai tahap ini kamu melewati banyak hal yang menyenangkan dan juga sulit. Tapi Mama bangga kamu bisa melewatinya tanpa Mama. Oh, ya Nak. Mama ingin sekali kamu menikah dengan sahabat Papa yaitu Bima, anak dari Papa Aji dan juga Mama Anna. Sebenarnya Mama dan Papa tak ingin menentukan jodoh kamu tapi Mama dan Papa yakin kalau Bima bisa menjaga dan menyayangi kamu. Apalagi Papa Aji dan Mama Anna adalah calon mertua sekaligus orang tua yang baik untuk kamu, Nak.
“Baik? Apakah Mama tidak tahu Kalau Bima adalah lelaki yang jauh dari kata baik, Ma.” Batin Karin.
Sebenarnya ada alasan lain yang ingin sekali Mama ucapkan langsung kepadamu tapi Mama merasa tak akan mampu. Jujur Mama menyetujui perjodohan kamu dan juga Bima karena Mama ingin membalas budi keluarga Bima lewat kamu, Nak. Tapi sekali lagi Mama begini bukan karena ingin menjual kamu. Mama percaya kalau kamu pasti bisa berpikir lebih dewasa sekarang. Keluarga Bima telah banyak membantu keluarga kita dalam banyak hal. Walau keluarga mereka tak meminta balasan apapun tapi Mama sangat ingin sekali ingin membalasnya. Mama harap kamu terima perjodohan ini demi Mama yang Karin. Mama juga berharap kamu akan hidup bahagia dan langgeng bersama Bima sampai maut memisahkan kalian.
Salam Sayang dari Mama untuk kamu, Nak. Dan terima kasih sekali sudah mau memenuhi permintaan terakhir Mama.
Tangis Karin kembali pecah saat ia harus berpisah dengan sebuah kalimat penutup dari surat tersebut. Karin masih ingin membaca setiap tulis tangan sang Mama tapi mungkin itu akan menjadi surat pertama dan terakhir untuknya. Kini Karin tahu apa alasan Mama Nita dan juga Papa Wira yang ingin menjodohkannya walau sebenarnya ia masih merasa berat. Dari kecil Karin paling tidak bisa menolak apa yang Mamanya minta sama seperti apa yang Karin inginkan selalu di penuhi oleh Mamanya.
“Papa.. Karin kangen sama Mama.” Lirih gadis itu sambil memeluk Papa Wira erat. Papa Wira juga membalas peluk putrinya dan mengelus- elus punggungnya. Air Mata Papa Wira yang sedari tadi beliau tahan kini tumpah juga. Beliau juga merasakan apa yang Karin rasakan, beliau juga merindukan mendiang Mama Nita.
“Besok kita ke Mama ya Karin.” Seru Papa Wira setelah mengambil nafas panjang.
“Iya, Pa. Karin mau..” ucap Karin sambil melepaskan peluknya.
“Pa, Karin minta maaf sudah bersikap tidak baik selama ini. Karin juga minta maaf sejak Papa jual rumah itu Karin jadi bersikap acuh tak acuh kepada Papa. Sebenarnya Karin masih ingin tinggal di sana dengan semua kenangan Mama.” Lirih Karin yang membuat Papa Wira sangat menyesal mengambil sebuah keputusan tanpa bertanya kepada anak- anaknya. Mungkin Clarissa juga merasakan hal yang sama seperti Karin. Papa Wira merasa bersalah selama ini, beliau pikir dengan menjual rumah tersebut ia dan anak- anaknya tak akan selalu bersedih. Namun hal itu justru terbalik, ia dan anak- anaknya semakin tidak lepas dengan banyak kenangan bersama istrinya, Mama Nita. Keputusannya tersebut juga membuatnya jauh dari putrinya, Karin.
“Maafkan Papa, Karin saat itu. Papa sangat bingung harus bagaimana merawat kedua putri Papa dengan kenangan Mama yang masih ada. Papa pikir saat itu adalah keputusan yang terbaik untuk kita tapi sekarang Papa sadar kalau keputusan Mama salah dan membuat kamu semakin jauh, Nak.” Papa Wira meminta maaf dengan tangis yang semakin pecah. Karin yang melihat Papanya bersedih dan menyesal, ia langsung memeluk Papa Wira. Karin kini merasa sangat lega bisa menyampaikan apa yang selama ini ia pendam sendiri. Sekarang juga ia tahu apa alasan di balik Papa Wira menjual rumah tersebut. Namun sekarang semua sudah terjadi, sebenarnya jauh sebelum ini. Karin sudah berkali- kali datang dan memohon untuk membeli kembali rumah kenang- kenagan bersama sang Mama. Tapi sayang sang pemilik rumah baru itu tak ingin menjualnya. Dan hal itu membuatnya semakin marah dengan Papa Wira dan juga dirinya sendiri.
“Sekarang Papa tidak akan memaksa kamu untuk menerima perjodohan ini jika memang kamu tidak menginginkannya Karin.” Ucap Papa Wira yang tak ingin kembali membuat keputusan yang salah.
“Tapi bagaimana dengan almarhumah Mama Nita, Pa. Ini permintaan terakhir Mama yang ingin sekali Karin lakukan, Karin sayang Mama dan juga Papa, Karin akan lakukan hal ini demi kalian berdua.” Jawab Karin yang membuat Papa Wira menoleh karena kaget mendengar keputusan yang putrinya buat. Ada rasa terkejut bercampur bahagia kini menyelimuti diri Papa Wira yang membuat beliau menarik senyumnya.
“Terima kasih sayang.” Ucap Papa Wira sambil memeluk senang putrinya.
“Iya sama- sama, Pa.”
“Sekali lagi Papa ucapkan terima kasih ya, Nak. Sekarang kamu istirahat dulu saja ya, Papa mau temui Wira dan Anna untuk membicarakan hal ini dengan mereka.” Pamit Papa Wira sambil mengecup kening Karin lalu ia berlalu meninggalkan anaknya.
“Apa ini keputusan yang baik buat hidup aku? Tapi kalau aku menolak Papa dan almarhum Mama pasti akan sedih apalagi melihat senyum Papa tadi yang sudah lama tidak aku lihat rasanya sangat menyenangkan untukku. Semoga memang ini keputusan yang tepat atau semoga saja Bima menolak perjodohan ini.” Batin Karin yang langsung membaringkan tubuhnya di tempat tidur sambil memeluk surat dari Mama Nita.