Sesampainya dilantai dua, Wisnu langsung menuju ke kamar Karin yang berada di ujung lorong. Dari jauh Wisnu melihat istrinya masih berdiri di depan pintu dan mengetuk pintu kamar adik iparnya. Wisnu sudah hapal kalau Karin pasti sedang marah dan sangat kesal, gadis itu tak akan mungkin mau di ganggu siapa pun termasuk dirinya dan Clarissa.
“Sayang..” Panggil Wisnu lembut saat ia sudah sampai di hadapan istrinya. Terlihat raut wajah khawatir menyelemuti diri Clarissa.
“Karin enggak mau bukain pintu, Mas.” Lirih Clarissa yang merasa gagal membujuk Karin. Wisnu tersenyum tipis dan mengusap pundak istrinya agar tidak terlalu cemas.
“Rin, Mas boleh masuk?” tanya Wisnu yang ingin mencoba membujuk Karin.
“Kalau Mas Wisnu mau bujuk aku buat terima perjodohan ini aku enggak mau.” Teriak Karin dari dalam kamar.
“Mas, jangan.” Pinta Clarissa memelas sambil menarik lengan baju suaminya.
“Tenang ya sayang, aku enggak akan maksa Karin kok.” Kata Wisnu yang berusaha menenangkan istrinya. Setelah tenang Wisnu kembali berbicara dengan Karin.
“Mas enggak akan paksa, Rin. Jadi tolong ya bukain pintu.” Pinta Wisnu. Butuh waktu beberapa menit hingga akhirnya Karin mau membukakan pintu kamarnya untuk Wisnu dan Clarissa. Setelah membuka pintu Karin kembali ke tempat tidurnya lalu duduk di tepi tempat tidur. Wisnu dan Clarissa masuk serta menghampiri Karin.
“Rin..” Karin pun langsung memeluk Clarissa erat saat Kakaknya ada di hadapannya. Tubuh Clarissa kini terlihat lebih dekat ke tepi tempat tidur. Clarissa mengerti apa yang di rasakan adiknya itu walau ia tak pernah ada di posisi tersebut. Ia mengusap punggung sang adik secara perlahan.
Beberapa menit berlalu Wisnu dan Clarissa sengaja membiarkan Karin menumpahkan rasa sedihnya agar perasaannya sedikit lega. Kini gadis itu mengusap air matanya yang masih menempel di pipinya, tak lupa ia juga membuang cairan bening kental yang ada di hidungnya.
“Gimana, Rin? Perasaan kamu sudah baik- baik saja?” tanya Clarissa lembut namun di jawab anggukan olehnya.
“Karin sekarang Mas sudah boleh bicara?” tanya Wisnu.
“Mas..”
“Enggak apa- apa kok, Mbak, aku baik- baik saja.” Ucap Karin kepada Clarissa.
“Mas mau bicara apa?”
“Mas enggak akan maksa kamu untuk terima perjodohan ini tapi Mas Cuma mau kamu pikirkan lagi alasan Papa dan Almarhum Mama Nita ingin menjodohkan kalian. Lagi pula tadi Papa terlihat sangat sedih saat melihat kamu sangat emosi, beliau juga malu dengan sikap kamu di depan sahabatnya.” Jelas Wisnu yang membuat Karin tersadar kalau sikapnya terlalu kekanak- kanakan.
“Dan menurut Mas, Bima adalah lelaki yang baik kok, Rin.”
“Apa? Mas bilang dia lelaki yang baik? Apa Mas enggak tahu gosip tentang dia sering jadi trending topik di setiap media sosial.” Seru Karin yang merasa kaget karena mendengar Wisnu dengan mudah menilai Bima adalah sosok lelaki yang baik. Karin hanya ingin berusaha untuk mengingatkan kembali semua pemberitaan tentang Bima.
“Kita enggak bisa menilai orang dari sampulnya apalagi dari penilaian orang lain sekalipun itu media sosial yang menyoroti setiap detik kehidupannya. Kamu hanya perlu mengenalnya lenih dekat sebelum menilai dan lagi jika memang Bima orang yang seperti di beritakan, bisa saja kan setelah menikah nanti dengan kamu dia berubah.” Ucap Wisnu yang menasihati Karin, ia tak bermaksud membela siapa pun tapi ia hanya ingin memberi pengertian.
“Apa yang Mas Wisnu katakan memang benar, Rin. Buktinya kamu lihat dulu Mas mu ini seperti apa sampai pernikahan kami di tentang oleh Papa. Cuma setelah menikah Mas Wisnu berubah menjadi dirinya yang baik.” Tambah Clarissa yang membuat Karin terdiam mencerna setiap kata yang di sampaikan Kakak dan Kakak Iparnya.
“Dan satu lagi yang ingin Mas sampaikan sama kamu.” Karin yang sempat menunduk kini menoleh lemah ke arah Wisnu.
“Ingat Rin, kamu masih di beri kesempatan untuk membahagiakan Papa, orang satu- satunya yang kamu miliki saat ini. Jangan sampai kesempatan yang kamu punya ini hilang dan tersisa penyesalan ya.” Tambah Wisnu sambil mengusap- usap bahu Karin.
“Kalau begitu Mas sama Mbak mu ini turun ke bawah dulu ya, enggak enak Papa temenin sahabatnya sendirian.” Pamit Wisnu yang beranjak meninggalkan kamar Karin.
“Mbak keluar dulu ya, Rin, kamu jangan sedih lagi ya.” Pamit Clarissa lalu keluar mengikuti suaminya yang sudah keluar duluan. Tak lupa ia menutup pintu kamar Karin.
“Mas apa kita enggak bisa bujuk Papa batalkan perjodohan ini?” seru Clarissa sambil menarik tangan suaminya yang berjalan pelan di depannya.
“Kita enggak bisa seperti itu, sayang. Kalau kamu tadi lihat ekspresi papa yang enggak jauh beda sama Karin mungkin kamu juga bingung sama kayak Mas.” Jawab Wisnu yang membuat Clarissa terdiam.
“Ris, Nu..” panggil Papa Wira saat sudah sampai di tangga paling atas.
“Papa..” lirih Clarissa.
“Gimana keadaan Karin?” tanya Papa Wira yang khawatir.
“Karin sudah baikan kok, PA.” Jawab Wisnu.
“Clarissa, Papa minta tolong kamu berikan ini buat Karin ya.” Suruh Papa Wira sambil menyodorkan sebuah amplop berwarna putih namun terlihat usang. Clarissa pun mengambilnya dari tangan Papanya.
“Apa ini, Pa?’ tanyanya penasaran.
“Ini surat yang pernah di tulis Mama untuk Karin saat beliau masih ada. Mama seperti punya firasat kalau perjodohan ini tak akan berjalan lancar.” Terang Papa Wira sambil menundukkan kepalanya menatap lantai. Terlihat bagaimana raut wajah Papa Wira yang sangat sedih dan putus asa menghadapi anaknya.
“Papa jangan seperti ini ya, aku yakin Karin pasti mau memikirkan ulang perjodohan ini.” Ucap Clarissa sambil merangkul dan mengusap- usap punggung PApanya.
“Aku akan berikan surat ini untuk Karin segera.” Tambah Clarissa yang bersiap untuk pergi namun tangan Clarissa di tahan oleh Wisnu.
“Pa, kalau aku boleh saran sebaiknya Papa bicarakan hal ini dengan Karin dari hati ke hati antara orang tua dan juga anak. Aku yakin pasti Karin mau mendengarkan Papa saat ini.” Usul Wisnu kepada mertuanya.
“Tapi kamu lihat sikap Karin tadi, Nu.”
“Aku lihat dengan jelas, PA, tapi tadi itu mungkin Karin kaget karena sebelumya ia belum pernah mendengar hal ini dari Papa sendiri. Dan setelah aku dan Clarissa beri pengertian ia perlahan sedikit mengerti.” Jelas Wisnu.
“Baiklah, akan Papa coba usul kamu wisnu. Sekarang Papa minta tolong kalian temani sahabat Papa ya di bawah. Ajak mereka menikmati pemandangan sekitar rumah kita atau minta mereka untuk beristirahat.” Pinta Papa Wira yang di jawab anggukan oleh Clarissa dan juga Wisnu..
“Clarissa, sini suratnya biar sekalian Papa yang berikan ke Karin.” Pinta Papa Wira lagi sambil menengadahkan tangannya. Clarissa pun langsung memberikannya kepada Papa Wira. Setelah itu keduanya langsung turun menuju ruang keluarga. Sementara sebelum Papa Wira beranjak masuk ke kamar Karin beliau sempat mengambil nafas panjang dan membuangnya. Beliau berusaha untuk menerima setiap kemungkinan terburuk jika harus di benci oleh Anaknya.