Pagi ini Karin terbangun dengan mata panda, hampir seriap jam gadis itu terbangun untuk mengecek kondisi kamarnya. Ia sangat takut kalau ucapan Bima benar- benar terjadi. Ia tak ingin Bima benar- benar menyelinap masuk dan tidur di sebelahnya. Pagi ini dalam keadaan mengantuk Karin juga harus segera berangkat ke kantor. Ia masih harus menyiapkan beberapa berkas yang akan dia bawa untuk meeting pagi ini.
“Pagi, Karin apa kamu tidur nyenyak semalam?” bisik Karin yang tiba- tiba sudah muncul di sampingnya saat menuruni satu per satu anak tangga. Karin yang terkejut dengan kehadiran Bima hampir saja terjatuh karena kaget dan tubuhnya saat ini sedang merasa sangat lelah. Untung saja ada Bima yang langsung menarik tubuh Karin. Mata keduanya saling bertatapan.
“Eheem..” dehem Wisnu yang tanpa sengaja melihat keduanya. Karin pun melepaskan diri dari Bima sedang Bima menggaruk tengkuknya yang tidak gatak itu. Keduanya merasa sangat malu dihadapan Wisnu dan jug Clarissa.
“Terima kasih.” Lirih Karin.
“Iya sama- sama.” Jawab Bima yang masih menunduk.
“Haduh pagi- pagi udah romantis deh.” Goda Clarissa sambil melewati keduanya yang sama- sama terdiam dan menunduk.
“Kakak apa sih.” Karin membuntuti kakaknya dari belakang.
“Emang bener kok, kayaknya nanti kalau kalian nikah kakak di balap punya anak duluan nih.” Goda Clarissa lagi. Karin pun mencubit pinggang Clarissa hingga kakaknya merintih kesakitan.
“Sakit, Rin.” Seru Clarissa kesal sambil menoleh adiknya. Clarissa kini dengan jelas melihat wajah Karin, ia juga melihat mata panda Karin.
“Kamu habis bergadang ya?” tanya Clarissa.
“Enggak..”
“Jangan bohong, Rin. Itu mata panda kamu kelihatan loh.” Clarissa menunjuk bawah mata Karin yang memang terlihat menghitam.
“Karin, kamu semalam ngapain saja? Bukannya kamu ada meeting hari ini? kalau kelihatan sama klien dan karyawan yang lain bagaimana?” tanya Wisnu.
“Iya, Mas maaf habis semalam aku enggak bisa tidur gara- gara..” Karin sadar ia tak bisa melanjutkan kata- katanya berikutnya. Gadis itu tidak bisa bilang kalau semalaman ia berjaga menjaga pintu dan jendela kamarnya. Apalagi saat ini Bima sedang memperhatikan obrolan mereka bisa- bisa laki- laki itu besar kepala karena berhasil membuatnya tidak tenang.
“Gara- gara apa, Rin?” tanya Wisnu.
“Pasti gara- gara Karin terlalu senang bisa tunangan sama Bima, Mas.” Goda Clarissa lagi.
“Isshht apa sih, Kak. Enggak semalam tuh aku kehabisan aroma terapi jadi enggak bisa tidur. Tapi tenang saja, Mas. Nanti aku bakalan kompres mata aku sebelum meeting kok. Dan untuk sementara aku bakalan pakai kacamata hitam.” Jawab Karin santai.
“Awas ya jangan malu- maluin, Mas.” Seru Mas Wisnu lagi yang di jawab senyuman oleh Karin karena pasalnya meeting hari ini sangatlah penting. Wisnu pun berjalan duluan meninggalkan Karin semetara Clarissa mengekor. Sedangkan Karin masih terdiam sambil bernafas lega.
“Semalam kamu nunggu aku masuk kamar kamu ya? Maaf ya semalam aku ketiduran.” Goda Bima sambil berbisik di telinga Karin. Darimana Bima tahu kalau ia menunggunya? Heem lebih tepatnya menunggu kamarnya yang tidak di terobos oleh Bima.
“Apa sih. Bim!” ucap Karin kesal yang langsung meninggalkan Bima. Ia segera turun menuju meja makan untuk sarapan dan berangkat kembali ke Jakarta.
# # #
Setengah sepuluh Karin sudah berapa di kantor, seperti ucapannya ia berjalan masuk menggunakan kacamata hitam. Sebelum masuk ke ruangannya ia sempat meminta beberapa es batu untuk mengopres matanya. Di dalam ruang kerjanya Karin mencari berkas yang ingin ia siapkan untuk meeting hari ini yang akan dilaksanakan beberapa jam lagi.
“Permisi, Mbak Karin.” Seru seorang Ob saat sudah di persilahkan masuk oleh Karin.
“Ini es batu dan juga kopinya, Mbak.” Kata sang Ob sambil meletakkan keduanya.
“Kopi? Saya kan enggak pesen ini.” kata Karin yang merasa heran.
“Iya ini saya dapat dari sekertaris yang ada di lobi, Mbak. Katanya buat Mbak Karin.” Jawabnya.
“Tapi siapa? Kalau ada orang jahat memberi saya racun bagaimana?” ucap Karin yang semakin marah dengan ketelodoran karyawannya. Sang Ob pun hanya tertunduk bisa bwerbuat apa- apa, ia merasa sangat bersalah. Saat Karin sedang mengomel dengan sang Ob ponsel Karin berbunyi. Sebuah nomor yang tidak di kenal oleh Karin.
“Halo..”
“Halo, Sayang. Kamu sudah terima kopi spesial yang aku beliin buat kamu?” tanya orang itu. Karin seperti tidak asing dengan suara tersebut yang ternyata adalah Bima.
“Kenapa kamu kirim kopi sama aku? Aku bisa beli sendiri kok.” Ucap Bima ketus.
“Oh ya, aku sempat beli conselear untuk menutupi mata panda kamu.” Ucap Bima tanpa menanggapi omelan Karina. Karin pun langsung mengecek sebuah conselear yang berwarna hampir senada dengan kulit wajahnya yang di letakkan di sebelah kopi. Entah kenapa rasanya Karin seperti penyelamat untuknya kali ini. iya merasa tidak enak karena sudah ketus dengan Bima.
“Baik, terima kasih sudah repot- repot membelikan semua ini, kamu bisa kirimkan nomer rekening kamu agar aku ganti dengan uang.” Ucap Karin yang merasa bersalah dan ingin mengganti uang Bima karena ia tak ingin punya hutang budi.
“Kamu enggak usah ganggu ganti pakai uang cukup ganti semua itu dengan makan malam. Oh aku udah sampai kantor nih, Sayang. Kamu yang semangat kerjanya ya.” Seru Bima lalu ia menutup panggilan telefon sebelum Karin menolaknya ajakan makan malam dari Bima.
“Bisa- bisanya dia berbuat seenaknya.” Kata Karin sambil duduk di kursinya.
“Mbak Karin jadi kopinya mau di buang saja atau bagaimana?” tanya sang Ob.
“Enggak usah deh ternyata itu dari teman saya, kamu boleh pergi sekarang.” Ucap Karin. Sang Ob pun beranjak pergi.
“Eh tunggu..”
“Iya Mbak ada apa lagi?” Karin mengeluarkan beberapa lembar uang dari sakunya. Ia berniat ingin memberika uang itu sebagai permintaan maafnya.
“Ini buat kamu dan yang lain beli kopi ya, saya minta maaf sama kamu sudah marah- marah tadi.”
“Iya enggak apa- apa Mbak Karin. Terima kasih ya, Mbak.” Ucap Ob tadi dengan senyum sumringah lalu pergi. Ia pun kembali menyusun beberapa berkas yang akan ia persentasikan nanti. Sesekali ia menyeruput kopi yang di belikan oleh Bima.
* * *
Beberapa saat lalu..
“Nu, lagi dimana?” tanya Bima dari balik telefon.
“Baru sampai kantor, ada apa tuan Bima?” tanya Danu yang baru saja sampai di parkiran mobil.
“Sekarang lebih baik kamu cari Mall yang buka dan belikan saya conselear dan kopi yang biasa saya pesan.” Suruh Bima.
“Conselear itu apa, Tuan.”
“Kamu cari google aja, Nu. Tapi inget pastikan cari warna netral nanti sekalian kamu kirim ke alamat yang saya berikan ya.”
“Tapi saya harus cari ini dimana, Tuan?”
“Cari di bagian alat dapur, Nu.” Jawab Bima geram.
“Oke baik, Tuan.” Astaga apakah Danu akan mencarinya di peralatan khusus alat dapur? Hal itu membuat Bima geram dengan kepolosan Danu.
“Inget warna Netral dan cari di toko kosmetik.” Seru Bima lalu ia menutup telefonnya.