Bab 17

1135 Words
Setelah selesai dari pemakaman mereka semua langsung menuju sebuah mall terbesar di kota Bandung. Untuk menuju ke sebuah toko perhiasan dan mencari cincin untuk Bima dan juga Karin lalu setelah itu mereka semua makan siang bersama. Dalam memilih cincin, keduanya terlihat sangat pemilih hingga membuat semuanya merasa bingung. Hampir semua cincin yang mereka lihat di setiap toko di tempat itu mereka lihat dan tak ada yang cocok. Sampai akhirnya semua merasa lega saat Bima dan Karin menemukan sebuah Cincin dengan satu mata berlian yang sangat sederhana tapi elegan. “Ya ampun Bima, Karin kalian itu cari cincin aja susah banget kayak cari jodoh.” Seru Clarissa yang lelah mengikuti keduanya hampir satu jam. “Iya nih, untung kalian sehati kalau enggak bakalan seabad cari cincinya.” Tambah Wisnu yang juga lelah. “Iya Mas, Mbak maaf ya tapi syukurlah kalau aku sama Karin satu selera.” Seru Bima sambil merangkul Karin. Karin yang di rangkul oleh Bima merasa risih hingga ia melepaskan tangan Bima serta menjauhkan diri. “Ya sudah kalau begitu, kita samperin Papa yuk kebetulan aku sudah lapar.” Seru Karin yang berjalan lebih dulu membawa tas kertas berisi dua pasang cincin pertunangan mereka. “Yang sabar ya Bima, awal- awal memang begitu kok Karin tapi kalau sudah kenal nanti pasti lengket deh kalian.” Seru Clarissa sambil tersenyum. “Ya sudah yuk, Bim.” Ajak Wisnu sambil merangkul Bima. Mereka pun akhirnya menyusul Papa Wira, Papa Aji dan Mama Anna yang memang sudah terpisah sejak setengah jam lalu karena sudah kelelahan duluan mengikuti anaknya. “Pa..” panggil Karin sambil duduk di sebelah Papa Wira. ia pun meletakkan kantung kertasnya di atas meja. “Gimana, Rin? Kalian sudah menemukan cincin yang pas?” tanya Papa Aji. “Sudah Om, ini cincinnya.” Jawab Karin sambil menunjukkan tas kertas tersebut. “Tante lihat ya, Rin.” Pinta Mama Anna sambil meminta tas kertas tersebut. Karin pun memberikanya dan Mama Anna pun langsung melihat isi di dalam tas tersebut. Begitu indah cincin yang ia lihat di hadapannya ini. “Bagus nih.” Ucap Mama Anna. “Iya dong, Ma.” Seru Bima bangga. “Gimana enggak bagus orang itu pilihan mereka berdua, Tante. Untung satu selera.” Celetuk Clarissa. “Oh ya? Benar- benar kalian ini berjodoh.” Seru Papa Wira yang diikuti senyuman oleh semuanya kecuali Karin. Setelah itu mereka memesan makan siang mereka lalu berjalan- jalan sebentar dan pulang. Selama di perjalanan Karin tanpa sadar tertidur karena kelelahan berjalan hampir seharian ini. Bima yang melihat Karin tertidur langsung meyambar kepala Karin dan meletakkannya di bahu Bima. Namun tanpa sadar Karin malah menggandeng tangan Bima serta memeluknya seperti guling. Hal itu membuat Bima merasa cukup senang dan membuat hatinya begitu berdebar- debar. Sesampainya di rumah Bima dengan senang hati langsung menggendong Karin ke kamarnya. Ia tak tega ketika harus membangunkan Karin yang sedang tertidur nyenyak. Dengan di temani sang pelayan Bima masuk ke kamar Karin. Setelah itu ia tak lupa menyalakan Ac dan menyelimuti tubuh Karin. Wajah Karin terlihat sangat menggemaskan saat tidur tapi sayang ketika sudah bangun Karin akan terlihat seperti Singa yang sedang mengamuk. Sebelum keluar dari kamar Karin, Bima mengambil kesempatan untuk mencium kening Karin. Dasar Bima masih bisa- bisanya ia mengambil kesempatan seperti itu, bagaimana jika nanti Karin terbangu dan memukulnya. Ha ha ha Bima pun kembali ke kamar untuk sekedar beristirahat. Sebenarnya Bahunya saat ini sangat terasa pegal karena menopang kepala Karin tapi dia rela melakukan itu. Bima pun memejamkan matanya sebentar yang sudah mulai mengantuk. Ia ingin terlihat fresh saat malam pertunangannya nanti. Malam pun tiba kali ini Papa Wira sengaja mendekor taman belakang rumahnya untuk malam pertunangan Bima dan juga Karin. Malam ini juga Papa Wira sengaja mendatangkan seorang koki terkenal yang menyajikan makanan bergaya eropa. Taman belakang rumah Papa Wira di sulap menjadi tempat yang romantis dan indah. Apalagi Papa Wira juga sudah mengundang sebuah band untuk mengiringi makan malam mereka kali ini. walau acara pertunangan hanya di hadiri dua keluarga saja. Mereka pun juga mengenaikan pakaian yang terlihat mewah dan juga elegan untuk malam ini. Suasana malam itu terasa lebih meriah dan terlihat sangat bahagia. Mereka menikmati makam malam kali ini seperti berada di sebuah restoran bintang lima. Makanan yang memang di masak serta di sajikan langsung oleh sang koki dan beberapa pelayan. Puncak dari malam itu pun akhirnya tiba saat Papa Wira mengumumkan acara tukar cincin Karin dan juga Bima. Saat mereka berdua berdiri sejajar terlihat keduanya sangat serasi dan sempurna. Dimana Bima yang tampan dan Karin yang cantik. Beberapa pelayan yang ikut melihat acara itu tak henti- hentinya memberikan pujian kepada keduanya. Ada juga diantara mereka yang ingin berada di posisi Karin atau Bima namun sayang hal itu hanya sebuah angan bagi mereka. Setelah selesai menyematkan cincin di jari mereka masing- masing kini Karin dan Bima di paksa untuk berdansa dengan alunan musik romantis yang di mainkan oleh band. Sekali lagi Karin merasa terjebak dan tak bisa menolak hal ini. Bima yang tak terpaksa mulai menarik pinggang Karin mendekat dengannya. Sementara tangannya yang lain menyelinap masih ke sela- sela jari Karin. Mereka pun mulai menarik mengikuti irama musik. Hal itu pun diikuti juga oleh Papa Aji, Mama Anna, Wisnu dan juga Clarissa. “Bagaimana Karin apa kamu sudah jauh cinta denganku?” tanya Bima sambil berbisik. “Kamu jangan berharap lebih sama saya, Bim.” Ucap Karin tanpa mau menatap Bima. “Baiklah, Sayang, aku akan berusaha lebih baik lagi.” Ucap Bima sambil mendorong tubuh Karin menjauh dan kembali masuk ke dalam dekapannya. “Lebih baik kamu tidak usah repot- repot buat aku jatuh ke dalam permainan cintamu, Bim. Karena hal itu tak akan merubah hal apa pun dan aku tak akan memberikan apa pun yang kamu harapkan.” Seru Karin. “Walau benar begitu, biarkan aku terus berusaha sampai aku berhenti dengan sendirinya.” Kata Bima sambil tersenyum. Musik yang di mainkan oleh band akhirnya berhenti karena memang sudah habis. Karin pun berjalan menjauh dari Bima. Gadis itu pamit lebih dahulu meninggalkan mereka semua yang masih lanjut menari. Bima diam- diam mengikuti Karin dari belakang menuju lantai dua rumah ini. sebelum Karin masuk ke dalam kamarnya, Bima menarik tangan Karin dan mendorong tubuh Karin menempel di dinding. “Kamu mau apa sih, Bim?” tanya Karin yang kali ini berpikir Bima sudah tidak waras mengikutinya sampai ke depan kamarnya. “Enggak apa- apa, aku hanya ingin mengucapkan selamat malam untukmu, Karin sayang.” Kata Bima lagi sambil mengecup kening Karin dan melepaskan gadis itu. “Dasar buaya.” Ucap Karin sambil mengusap keningnya. “Sayang, jangan lupa ya kunci kamar dan juga jendelamu sebelum aku masuk.” Goda Bima sambil berjalan pergi meninggalkan Karin. Karin yang mendengarkannya bergidi ngeri, gadis itu segera masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu dan jendelanya rapat- rapat. ucapan Bima tadi terdengar sangat mengerikan baginya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD