Bab 16

1087 Words
Tepat pukul sembilan, sesuai agenda Malam ini mereka semua akan pergi ke makam Mama Nita untuk mengujungi makam tersebut sekaligus ingin meminta restu. Kali ini Karin berpisah mobil dengan Papa Wira, Clarissa dan juga Wisnu. Ia terpaksa harus satu mobil dengan Mama Anna, Papa Aji dan juga Bima sesuai permintaan Mama Anna. Entah mengapa Karin tak bisa menolak apapun yang diinginkan oleh Mama Anna. Bisa di bilang mungkin karena Mama Anna selalu bersikap baik terhadapnya. Ia juga harus terpaksa menempel dengan Bima karena di kursi depan sudah ada Papa Aji dan sang supir. Sementara di kursi penumpang sudah ada Mama Anna, Karin dan Bima. “Rasanya kita sudah benar- benar seperti keluarga ya, Pa.” Seru Mama Anna yang sangat bahagia. “Ia Ma, Papa juga senang sebentar lagi Karin akan jadi bagian keluarga kita. Dan bakalan lengkap lagi kalau ada Cucu.” Tambah Papa Aji yang terdengar seperti petir menggelegar untuk Karin. Berbeda dengan Karin Mama Anna dan juga Bima malah tertawa geli mendengarnya. Karin merasa ia sudah salah naik mobil dan berada di sini dengan keluarga ini. “Jaga mikir secepat itu dong, Pa. Bima sama Karin kan baru mau tunangan nanti malam. Lagian juga Bima sama Karin malu harus bahas itu sekarang.” Kata Bima yang membuat Karin menoleh ke arahnya. Terlihat dengan jelas kalau saat ini raut wajah Bima tidak terlihat malu melainkan ia senang dengan obrolan ini. “Kan memang tujuan kalian seperti itu, untuk mendapatkan keturunan. Benar kan, Karin?” seru Papa Aji yang membuat Karin tersenyum tipis. “Tapi apa yang Bima bilang ada benarnya juga loh, PA. Biarkan mereka menikmati masa- masa mereka berdua dulu baru nanti mikirin punya anak.” Tambah Mama Anna. “Iya sih tapi kan sekalian menikmati masa itu setidaknya kalian nanti bisa memberi cucu sebelum kami ini makin menua.” Ucap Papa Aji yang terdengar putus asa. “Tenang, Pa. Nanti saat Bima dan Karin menikah akan secepatnya kok kasih momongan buat kalian. Iya kan, Karin?” tanya Bima sambil melihat ke arah Karin. “Hah? I... Iyaa..” jawab Karin yang terdengar sedikit ragu. “Baiklah Papa senang mendengarnya, setidaknya kalian sudah merencanakannya.” Seru Papa Aji yang merasa lega. Setengah jam kemudian keduanya sampai di pintu masuk pemakaman Mama Nita. “Bim, kamu pegang tangan Karin ya.” Pinta Mama Anna. “Ah enggak usah tante aku bisa jalan sendiri kok.” Tolak Karin. “Enggak apa- apa Karin biar kalian semakin akrab dan Mama Nita bisa lihat kalau kalian pasangan yang sangat serasi.” Tambah Mama Anna yang di jawab dengan anggukan. “Setelah ini permintaan apalagi yang akan di minta oleh keluarga ini?” Batin Karin. Bima pun mulai mengeggam tangan Karin. “Tangan kamu halus ya.” Bisik Bima yang membuat Karin menatapnya sinis. Bima seakan merasa puas dengan setiap ide yang Mama dan Papany berikan agar mereka selalu dekat. Di depan puasaran Mama Nita semuanya meyiramkan air mawar dan beberapa bunga di atasnya. Setelah itu mereka berdoa bersama untuk Almarhum Mama Nita. “Mama Nita, sesuai permintaan Mama malam ini Karin dan Bima akan segera bertunangan. Setelah itu mereka akan menikah dua bulan lagi, Papa harap Mama merestui mereka berdua ya.” Ucap Papa Wira sambil menyatukan tangan Bima dan juga Karin. “Doakan mereka menjadi pasangan yang bahagia dan langgeng ya, MA.” Tambah Papa Wira lagi sambil meneteskan air mata. Beliau merasa sangat sedih karena kali ini raga wanita yang di cintainya tak ada di sampingnya. Beliau selalu merindukan mendiang istrinya hingga suatu hari ia berpikiran ingin menyusul sang istri. Namun ia kembali teringat kedua anaknya apalagi Karin. “Ma, sesuai permintaan Mama aku akan lakukan perjodohan ini. Mama yang tenang ya di sana, selalu doakan yang terbaik untuk kami di sini ya. Mama juga jangan khawatir lagi ya sekarang Karin di keliling banyak orang yang sayang sama Karin. Walau raga Mama enggak ada di samping Karin mendampingi Karin sampai menikah nanti Mama tetap selalu ada kok di hati Karin dan menemani Karin.” Lirih Karin yang mulai meneteskan Air mata. Bima mengusap- usap pungung Karin agar gadis itu kembali tenang. “Tante Nita, Bima janji akan selalu menjaga dan sayangi Karin seperti yang tante minta. Semoga Tante merestui pertunangan dan pernikahan kami ya. Semoga dengan ini Tante bisa tenang di alam sana.” Seru Bima yang terdengar sangat tulus hingga kembali menyentuh hati Karin yang membuatnya kembali meneteskan air mata. “Aku janji, Nit, bakalan sayangin Karin seperti anakku sendiri.” Tambah Mama Anna dengan terisak- isak. Beliau seperti mengingat kembali pesan yang memang sempat terselipkan kepadanya beberapa tahun lalu sebelum meninggal. * * * “Anna, aku titip Karin nanti ya saat dia sudah tumbuh besar dan menjadi menantumu. Rawat dan sayangi dia seperti kamu menyayangi dia ya.” Pinta Mama Nita saat ia tengah terbaring lemas di atas tempat tidur dengan selang infus. “Pasti, Nit. Kamu juga harus berjuang ya melawan penyakitmu ini agar kita bisa sama- sama melihat dan mendampingi anak- anak kita nantinya.” Seru Mama Anna sambil menggengam erat tangan sahabatnya itu. “Sepertinya aku tidak bisa bertahan sampai sejauh itu. Mungkin aku akan melihat dan mendampinginya di tempat lain tanpa ragaku disisinya.” Ucap Mama Nita sambil menahan sakitnya. “Kamu pasti bisa, Nit. Kamu yang kuat ya.” Seru Mama Anna dengan air mata yang mulai mengalir. “Anna, Karin adalah anak yang baik, penurut dan paling lengket denganku berbeda dengan Clarissa yang lebih lengket dengan Papanya. Aku tak tahu bagaimana jadinya Karin tanpa aku. Tapi apa pun yang terjadi kesalahan apa pun yang akan ia buat, aku mohon ya sama kamu untuk memaafkan dan mengerti keadaan Karin saat itu.” Ucap Mama Nita yang membuat Mama Anna semakin tidak tahan mendengarnya. “Iya aku janji sama kamu, sekarang kamu istirahat ya,” pinta Mama Anna setelah menghapus air matanya dan berusaha tersenyum. “Oh ya aku mohon sampaikan hal ini kepada Bima ya saat hari itu tiba.” Kata Mama Nita untuk terakhir kalinya. Namun kali ini Mama Anna hanya mengangguk sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh Mama Nita. Sejak saat itu Mama Nita berjanji akan selalu memegang teguh amanat Mama Nita yang sudah di berikan kepadanya. * * * “Aku pun juga akan melakukan hal yang sama, Nita.” Tambah Papa Aji sambil merangkul istrinya. Suasana pemakaman terasa semakin mengharu biru. Bima yang melihat Karin yang masih menangis kini memberikan sapu tangannya kepada Karin. Karin pun tanpa sadar menerimanya, gadis itu mulai menghapus air mata dan juga membuang ingus dengan sapu tangan milik Bima.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD