Bab 9

1088 Words
“Rin.. Tunggu.” Panggil Clarissa pelan saat keduanya berjalan menuju ke kamar mandi yang berada di lantai satu rumah ini. “Kenapa, Kak?” tanya Karin kepada Clarissa yang terdengar heboh. “Kamu tahu tamu Papa tadi itu siapa?” tanya Clarissa penasaran. “Astaga Kakakku ini enggak pernah nonton televisi ya?” tanya Karin balik yang merasa aneh dengan pertanyaan sang Kakak yang menurutnya sungguh keterlaluan. Memang sih Kakaknya ini jarang menonton televisi karena terlalu sibuk mengurus urusan rumah tangga dan juga toko kue miliknya untuk mengusir sepi serta sedih karena kehadiran buah hati. Tapi menurut Karin ini sungguh keterlaluan karena keluarga Papa Aji seakan selalu bolak- balik masuk berbagai sosial media terutama beberapa gosip tentang putra Bima Aji Prakasa. “Tunggu, Kak.” Tiba- tiba Karin teringat sosok Bima Aji Prakasa yang sangat ia benci bahkan sangat mual jika harus membahasnya. Gadis itu baru teringat kenapa Keluarga Aji Prakasa ada di sini? Dan Apakah Bima juga ke rumah Papa Wira? “Kenapa Keluarga Aji Prakasa kesini, Kak?” tanya Karin kepada Clarissa yang masih menunggu jawaban serta lanjutan dari ucapan Karin. Namun sayang yang ia dapatkan malah sebuah pertanyaan yang jelas- jelas ia tahu kalau keberadaan pertemuan dua sahabat yang sudah lama tak bertemu. Clarissa pun teringat kalau ia seperti tidak asing dengan wajah Papa Aji dan Mama Anna. Dan hal itu yang membuat Clarissa jadi bertanya- tanya sendiri. “Mbak Clarissa dan Mbak Karin, di panggil Tuan Wisnu.” Seru seorang pelayan yang membuyarkan lamunan keduanya. “Oh iya, Terima kasih.” Kata Karin. Pelayan itu langsung menunduk dan meninggalkan keduanya. “Rin..” pekik Clarissa yang membuat Karin menoleh saat baru mengambil beberapa langkah menuju kamar mandi yang memang sudah ada di depan mata. “Kamu pernah lihat tamu Papa dimana?” tanya Clarissa yang masih penasaran. “Kita bahas ini nanti ya, Kak. Mas Wisnu dan Papa mungkin udah menunggu kita.” Kata Karin sambil kembali berjalan dulu menuju kamar mandi dan takut di serobot sang Kakak. # # # Bima baru saja kembali dari menikmati pemandangan di sekitar kebun teh milik Papa Wira. Raut wajahnya yang sedikit lesu akibat tanpa sadar tertidur di bawah pohon besar tadi membuatnya terasa sangat nyaman. Baru kali ini ia bisa tertidur nyenyak tanpa memikirkan sesuatu Walau badannya terasa pegal- pegal. Apakah Bima mulai betah di tempat ini? Mungkin. “Kamu kenapa terlihat lesu, Nak?” tanya Mama Anna yang memperhatikan raut wajah anaknya. “Iya, Ma, tadi aku sempat ketiduran di kebun teh.” Jawab Bima sambil tersenyum ke arah semua yang berada di meja makan yaitu kepada Papa Aji, Mama Anna, Papa Wira dan juga Mas Wisnu. “Ha.. Ha.. Ha.. Kamu sudah mulai betah ya, Bim?” tanya Papa Wira yang senang kalau tamunya menikmati beberapa fasilitas yang tersedia. “Sepertinya, Om Wira.” Seru Bima masih dengan tersenyum malu- malu. “Ya sudah, kamu cuci muka lalu makan siang bersama kita.” Suruh Papa Aji kepada Bima dan langsung di turuti oleh anaknya. Bima pun menuju Kamar Mandi yang sama dengan Karin dan Clarissa tadi. “Wisnu, mana Clarissa dan Karin?” tanya Papa Wira kepada Wisnu. “Mungkin sebentar lagi mereka kembali dari toilet.” Jawab Wisnu pelan. Mereka yang sudah berada di meja makan akhirnya memutuskan untuk menunggu Bima, Clarissa dan juga Karin. “Dugg..” Karin tanpa sadar menabrak Bima yang lewat di hadapannya saat ia sedang fokus memainkan ponselnya. “Maaf..” Lirih Karin sambil berusaha melihat orang yang sempat ia tabrak barusan sementara Clarissa terpesona melihat ketampanan Bima yang sebelas, dua belas dengan suaminya Mas Wisnu. “I.. Iy.. Iya.” Jawab Bima terbata- bata karena melihat wajah Karin yang manis dan juga cantik natural tanpa polesan Make Up. Saat itu jantung Bima mulai berdetak lebih cepat dari biasanya. Rona wajah Bima seketika berubah memerah. Apakah ia sedang jatuh cinta? Pada pandangan pertama? Padahal kalian tahu tak pernah Bima percaya dengan hal itu. Tapi Kali ini ada yang berbeda dengan pesona yang Karin berikan. Namun di sisi lain Karin malah bergidik ngeri melihat senyuman manis yang Bima tunjukan. Haruskah ia melihat sosok yang sangat ia benci itu kali ini di depannya dan posisinya sangat dekat. “Sekali lagi aku minta maaf.” Kata Karin langsung pergi sambil menarik Kakaknya untuk ikut. Bima pun ikut menoleh dan hanya terdiam melihat kepergian Karin dan Clarissa. Clarissa yang sempat di tarik oleh Karin sempat melambaikan tangan untuk bentuk perpisahan kepada Bima. “Maaf, Tuan Bima masih ingin ke kamar kecil?” tanya seorang Pelayan yang sempat menunjukkan arah kepada Bima hingga pemuda itu membuyarkan lamunannya. “Masih..” jawab Bima masih dengan senyum. Bima pun akhirnya mengikuti sang Pelayan menuju toilet yang tinggal beberapa langkah. “Silakan, Tuan Bima.” Ucap sang pelayan saat keduanya sampai di depan toilet. Bima pun masuk ke dalam toilet namun ia kembali keluar. “Ada yang bisa saja bantu, Tuan?” tanya Pelayan yang masih berdiri di depan toilet. “Gadis tadi siapa yang tabrakan sama saya?” tanya Bima yang begitu penasaran. Bima merasa seakan pernah dekat dan tak asing dengan wajah Karin. “Tadi itu Mbak Karin, Tuan.” Jawab sang pelayan sambil menunduk. “Maksudnya Karin.. Karina..” Bima berusaha mengingat nama gadis itu sepertinya ia merasa tak asing dengan nama tersebut namun ia agak lupa. “Karina Afriani Wiratama, Tuan.” Ucap sang Pelayan membantu Bima untuk mengingat nama panjang gadis tadi. “Ah iya, Dia sempat tinggal di Jakarta bukan? Jalan Melati 1 blok 28?” tanya Bima yang penasaran. “Benar, Tuan. Namun rumah tersebut sekarang sudah di jual karena sejak mendiang Nyonya Nita meninggal Pak Wira terpaksa menjualnya.” Jelas sang pelayan yang membuat Bima kaget. Jadi selama ini Karin sahabat kecilnya itu pindah karena Papa Wira yang sengaja menjual rumah tersebut. Tapi kenapa? Hal itu yang membuat Bima bertanya- tanya dalam hati. “Tuan Bima, Maaf kalau harus menyela tapi Pak Wira sudah menunggu untuk makan siang bersama.” Tambah Sang pelayan itu lagi yang membuat Bima tersadar dari lamunannya. Bima pun tersenyum lalu masuk ke dalam toilet untuk sekedar mencuci muka. Sebenarnya Bima dan Karina pernah saling dekat dan sangat bersahabat. Namun setelah beberapa bulan kematian ibunda dari Karin, Papa Wira terpaksa harus menjual rumah tersebut dan memboyong keluarganya ke Bandung. Tapi di saat yang bersamaan Bima harus pindah meneruskan sekolahnya di berbagai Kanada dan Karin melanjutkan sekolah di London. Sejak perpisahan keduanya mereka tak pernah berkomunikasi bahkan bertemu. Hal itu juga yang mungkin sempat membuat ingatan masa kecil keduanya saling terlupakan satu sama lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD