Bab 8

1072 Words
Setelah empat jam kurang lebih Bima dan Keluarganya sampai di kediaman Papa Wira. Di sana Papa Wira dan beberapa pelayan sudah menunggu kedatangan mereka di pintu utama. “Wira, apa kabar?” tanya Papa Aji sambil menghamburkan peluknya karena sudah lama sekali kedua sahabat ini tidak saling bertemu. “Baik, Gimana perjalanan kalian lancar?” tanya Papa Wira balik yang tak henti tersenyum hangat kepada sahabat dan keluarganya. “Lancar, oh ya ini Anna dan Anakku Bima.” Kata Pala Aji melepaskan peluknya dan memperkenalkan Bima. Entah Bima ingat tidak dengan sahabat Papanya kali ini. “Hai Anna, kau tampak awet muda.” Puji Papa Wira yang membuat Mama Anna tersipu malu. Apakah selama ini perawatan dirinya berhasil membuat beliau terlihat kembali muda. Hal itu membuat Mama Anna senang yang pasti saat ini hingga hanya membalasnya dengan sebuah senyum semeringah. “Oh ya, ini Bima yang terkenal itu ya.” Seru Papa Wira saat melihat Bima yang tersenyum ramah di hadapannya. “Bisa saja, Om.” Kata Bima dengan nada merendah. “Saya serius loh, sering lihat kamu muncul di berbagai media sosial. Bakat kamu dalam mengelola perusahaan memang sudah terlihat ya dari kecil.” Tambah Papa Wira yang membuat Bima seakan semakin bangga dengan pujian tersebut. Ia seakan merasa melayang ke langit. “Oh ya, Clarissa dan Karina mana?” tanya Mama Anna yang penasaran karena sejak tadi mereka tak terlihat menyambut. “Mereka masih dalam perjalanan ke sini, oh ya bagaimana kalau kita tunggu di dalam saja.” Ajak Papa Wira sambil merangkul Papa Aji masuk ke dalam rumah. Setelah masuk ke dalam rumah mereka semua duduk di ruang tengah menikmati beberapa camilan dan minuman yang sudah di suguhkan. Kedua sahabat itu pun saling mengobrol membahasa masa lalu mereka. Sementara Bima memutuskan untuk berjalan- jalan di sekitar rumah Papa Wira. Lelaki itu sebetulnya merasa bosan harus datang di pertemuan Papa dan Sahabatnya karena bagi Bima tak akan ada urusannya dengannya. Kebetulan Papa Wira punya beberapa hektar kebun teh yang belia kelola sendiri selama di Bandung. Hingga membuat Bima tak membuang momen walau sekedar menghirup udara segar. Tak lupa Bima di temani beberapa pelayan suruhan Papa Wira. Sesampainya di sana sebisa mungkin Bima menikmati hamparan kebun teh yang luas dan hijau. Di sana juga ada beberapa orang yang bekerja memetik daun teh yang sudah panen. Bima berjalan sampai ke sebuah bukit kecil yang terdapat pohon besar. Di sana lelaki itu mulai menyandarkan tubuhnya sambil di atas rumput sambil menikmati angin yang sedang berlalu lalang berembus. Di sisi lain.. “Karin, bangun kita sudah sampai.” Kata Clarissa sambil mengguncang tubuh adiknya. Karin pun membuka matanya dan benar saja mereka sudah sampai. Karin berusaha untuk mengumpulkan nyawanya kembali dengan menatap kosong ke depan beberapa saat. “Itu mobil siapa ya, Mas?” tanya Clarissa saat iya sedang membantu suaminya mengeluarkan beberapa tas dari bagasi belakang mobil. “Enggak tahu juga, emang Papa enggak cerita apa- apa sama kamu?” tanya Wisnu balik kepada istrinya. “Enggak juga, paling temannya kali ya.” Tebak Clarissa saat masih memperhatikan mobil yang parkir di sebelahnya. “Bisa jadi sih, ya sudah yuk masuk.” Ajak Wisnu sambil merangkul Clarissa menuju pintu utama. Namun baru beberapa langkah keduanya berjalan, Wisnu seperti sedang mengingat sesuatu yang kurang. “Kenapa, Mas?” tanya Clarissa yang bingung. “Karin mana?” tanya Wisnu sambil menoleh ke balik punggungnya namun tak ada sosok yang sedang ia cari. “Astaga.. Dimana bocah itu??” Clarissa malah balik bertanya. Namun tak lama sosok yang keduanya khawatirkan muncul dengan santai. “Karin, ke mana saja kamu?” tanya Clarissa sambil menautkan kedua alisnya. “Habis mengumpulkan nyawa, Kak.” Jawab Karin polos karena sebenarnya ia masih setengah sadar. Wisnu pun tertawa melihat ulah kakak beradik di hadapannya. Begitu lucu saat sang Kakak sedang sangat khawatir tapi adiknya malah terlihat polos serta tak bersalah. “Mas Wisnu, kenapa?” tanya Karin bingung yang bingung kenapa Kakak Iparnya tertawa geli. “Enggak apa- apa, ayo kita masuk mungkin Papa sudah menunggu.” Ajak Wisnu yang menahan tawanya. Karin hanya bisa menggaruk dahinya sambil terus bertanya- tanya dalam hati apa yang baru saja terjadi. Sesampainya di ruang tengah betapa terkejutnya mereka bertiga kalau Papanya sedang kedatangan seorang tamu yang begitu terkenal di Asia kalau bukan Papa Aji Prakasa. “Anak- anak kalian sudah sampai?” tanya Papa Wira sambil menyeruput secangkir teh tawar yang memang ia pesan kepada sang pelayan untuk mengurangi kadar gula di dalam tubuhnya. Papa Wira sadar berkali- kali dokter Handoko sudah memperingatkan kesehatan beliau agar bisa berumur panjang dan masih bisa mendampingi anaknya Karin di pelaminan nanti. Walau umur memang di tangan sang pencipta tapi pada akhirnya hal itu membuat Papa Wira berhati- hati dengan kesehatannya yang semakin menua. “Iya, Pa, Maaf kami telat.” Jawab Wisnu sambil melemparkan senyum kepada mertuanya beserta tamu Papa Wira. “Sini duduk, kenalkan ini Om Aji dan Ibu Anna sahabat dekat Papa sejak sekolah dulu.” Seru Papa Wira memperkenalkan keluarga Papa Aji kepada Anak dan menantunya. Wisnu, Clarissa dan Karin saling bersalaman dengan Papa Aji dan Mama Anna secara bergantian. “Oh ini Clarissa dan Karin ya? Ya ampun kalian berdua tumbuh besar dan Cantik- cantik ya mirip Almarhum Mama Nita. Mungkin kalau beliau masih hidup sampai saat ini, beliau akan bangga dengan kalian berdua.” Seru Mama Anna yang membuat Clarissa dan Karin tersenyum tipis serta merasa canggung dengan suasana yang mulai haru dengan mengingat kembali almarhum Mama Nita. Hening pun mulai menyelimuti beberapa saat di antara mereka. “Heem..” Papa Wira melihat arloji yang melingkar di tangan kirinya yang menunjukkan waktu yang tepat untuk makan siang dan memutus keheningan di ruang tengah tersebut. “Bagaimana kalau kita makan siang bersama.” Ajak Papa Wira sambil tersenyum. “Iya, Pa, Tapi aku mau cuci muka dulu ya.” Pamit Karin yang merasa Kantuk masih merajai dirinya. Papa Wira pun mengangguk untuk mengiyakan ucapan anaknya. Karin yang sudah mendapat ijin pun langsung bergegas ke kamar mandi. “Karin, Ikut.” Ucap Clarissa yang mengikuti dari belakang. Sementara Wisnu duduk menemani Sang mertua beserta Papa Aji dan Mama Anna. “Oh ya, Ma. Tolong hubungi Bima kalau kita mau makan siang.” Pinta Papa Aji kepada Mama Anna istrinya. Mama Anna pun langsung menurutinya dan mengambil ponselnya untuk menghubungi putra semata wayangnya Bima yang sedang berada di kebun teh. Sedangkan Wisnu, Papa Wira dan Papa Aji masih mengobrol seputar perkembangan bisnis perusahaan keduanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD