Bab 7

1093 Words
Dari dalam mobil Bima hanya bisa menahan rasa kesal sekaligus tersenyum tipis saat melihat apa yang sedang  di lakukan oleh Danu. Pasalnya setiap Bima berperilaku kasar kepada Audrey, selama ini Danu- lah yang selalu bersikap manis kepada Audrey. Entah merasa kasihan kepada Audrey atau memang Danu memiliki perasaan lebih dari sekedar teman dengan wanita itu. Namun Bima tak ingin ambil pusing dengan apa yang di rasakan oleh Danu, ia juga tak ingin mau tahu tentang hal itu karena nanti bisa saja Danu berpikir kalau Bima cemburu dengan hubungan keduanya. “Kenapa kamu harus beli kalung bukan benda lain?” tanya Bima kesal saat Danu sudah masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelahnya. “Maafkan saya, Tuan tadinya malah Non Audrey minta di belikan sebuah cincin.” Jawab Danu sambil menunduk. “Apa?” Seru Bima dengan nada meninggi karena terkejut yang membuat Danu dan Sang Sopir sama- sama terkejut hingga menghentikan mobil yang sedang melaju itu berhenti mendadak. Kepala Bima pun hampir terbentur dengan jok mobil sang Sopir. “Maaf, Tuan.” Kata sang Sopir yang merasa sangat bersalah dan takut jika di pecat oleh Bima. “Aduh, kamu bisa bawa mobil enggak sih!” bentak Bima yang membuat sang Sopir semakin ketakutan. “Maaf, Tuan.” Lirih Sopir itu lagi. “Danu kamu yang gantikan Sopir ini.” Perintah Bima. “Ta.. Tapi..” seru Danu dengan terbata- bata yang membuat Bima semakin kesal. “Kenapa?” bentak Bima yang semakin naik pitam. Namun di saat bersamaan Bima baru teringat kalau Danu punya Trauma untuk menyetir mobil. “Sekarang kalian keluar!!” teriak Bima dan langsung di turuti oleh Danu dan Pak Sopir tersebut. Bima juga ikut turun dan pindah ke kursi kemudi. “Tuan saya minta maaf..” lirih sang Sopir namun tak di gubris oleh Bima. Lelaki angkuh itu malah menancapkan gas untuk segera pergi dari tempat itu meninggalkan keduanya. Danu hanya bisa membuang nafas pasrah. “Pak Danu, apakah saya di pecat?” tanya Sopir tersebut. “Saya enggak tahu, Pak. Dan saya sendiri enggak bisa pastikan itu. Lebih baik sekarang kita pulang berharap besok Tuan Bima melupakan hal ini.” Ucap Danu yang tak bisa berbuat apa pun. # # # Hari yang di nanti pun tiba kini Bima dan keluarganya pergi ke Bandung untuk bertemu dengan Papa Wira. Kali ini Danu tak bisa ikut serta karena ia punya urusan keluarga mendadak. Papa Aji dan Mama Anna merasa sangat senang dan tidak sabar bertemu keluarga Papa Wira. Sedangkan Bima hanya sibuk memainkan ponselnya untuk mengecek beberapa pekerjaan dan sekedar bermain beberapa game di ponselnya. Perjalanan ke Bandung – Jakarta butuh waktu kurang lebih empat jam. Selama itu pula setelah bosan memainkan ponselnya Bima tertidur. Sementara itu... Karin masih menatap ke luar jendela mobilnya memperhatikan beberapa pemandangan menuju kediaman Papa Wira di Bandung. Sementara Kakaknya Clarissa sedang menikmati beberapa potong buah yang sempat ia bawa untuk bekal. Ia pun tak lupa menyuapi Suaminya yang sedang mengemudi mobil di sebelahnya. Pemandangan keduanya terlihat seperti pengantin baru yang sedang hangat- hangatnya. Padahal pernikahan keduanya sudah menginjak lima tahun lamanya. Namun sayang sepasang pasutri ini belum di karuniai seorang anak. Sudah banyak cara mereka lalu mulai dari cara tradisional sampai modern. Dan seperti pasangan suami istri lainnya mereka selalu menerima pernyataan tentang kehadiran sang buah hati. Tak jarang keduanya mendapat ucapan yang menyakiti hati mereka terutama Clarissa tapi keduanya saling menguatkan satu sama lain dengan selalu berpikir positif, berusaha dan berdoa. “Rin, mau buahnya enggak?” tawar Clarissa kepada Karim saat Wisnu memberi kode. Padahal sudah lewat lima menit lamanya Clarissa baru menawarkan buah kepada sang Adik. Entah Karena Karin yang terlihat lebih diam hari ini atau memang Clarissa yang melupakan adiknya karena terlalu sibuk dengan Wisnu. “Enggak, Mbak.” Jawab Karin sesekali menoleh namun setelah itu menatap layar ponselnya. Entah kenapa hati Karin selalu merasa saat gelisah apalagi setiap ia mengingat nasehat Kakak Iparnya, Mas Wisnu. Yang berkata untuk membahagiakan orang tua satu- satunya yang ia punya. “Tumben kamu tolak, Rin. Biasanya kamu selalu berebutan sama kita. Lagi sakit?” tanya Clarissa yang merasakan memang ada yang aneh dengan sikap adiknya sejak beberapa hari. “Enggak apa- apa, Mbak.” Jawab Karin pelan. Clarissa semakin bingung entah ia harus berbuat apa lagi kali ini. “Rin, Kalau mengantuk kamu tidur dulu saja nanti kita bangunkan.” Suruh Wisnu sambil melirik Karin ke arah kaca kecil yang terpantul ke kursi penumpang. Karin hanya mengangguk pelan. Mungkin dengan tidur perasaannya akan semakin membaik. Karin pun menggunakan Earphone di kedua telinganya dan mulai memutar musik. Ia pun menyandarkan posisi ternyata pada jok mobil lalu menutup wajahnya dengan sebuah jaket miliknya agar ia merasakan silau. Dan tak butuh waktu lama untuk gadis itu tertidur selama perjalanan menuju rumah Papa Wira. “Karin.. Karin..” panggil seseorang lembut untuk membangunkan gadis itu. Karin yang merasa namanya di sebut dan tak asing dengan suara orang itu pun langsung terbangun. “Mama..” pekik Karin yang terbangun dari sebuah tempat tidur yang serba putih itu. Gadis itu langsung memeluk sang Mama dan menangis di pelukan beliau. “Karin, kenapa kamu menangis, Nak?” tanya Mama Nita sambil membalas peluk anaknya dan tak lupa mengelus punggung anaknya pelan. “Karina kangen Mama.” Seru Karin dengan air matanya yang mulai mengalir. Gadis itu memang benar- benar merindukan sosok Mamanya. Mama yang sudah di panggil sang pencipta sejak ia kelas tiga SMP. Orang yang paling dekat dengannya itu harus meregang nyawa karena penyakit gagal ginjal yang sudah di idap oleh Mamanya sejak lama. Sejak saat itu juga Karin menjadi orang yang sangat tertutup dan dingin kepada siapa pun. “Karin, Mama boleh minta sesuatu sama kamu, Nak?” tanya Mama Nita yang membuat Karin melepaskan peluknya serta menatap Mama Nita. “Ada apa, Ma?” tanya Karin penasaran. Mama Nita menghapus setiap sisa air mata Karin yang masih menempel di pipi. “Jaga Papa buat Mama dan sayangi Papa sama seperti kamu sayang sama Mama karena sekarang Papa jalani semua hal sendirian tanpa Mama di sisinya.” Seru Mama Nita sambil menatap satu titik di belakang Karin. Karin merasa terenyuh dengan permintaan Mamanya karena sejak Mama Nita tiada, ia dan Papa Wira jarang sekali dekat. Kalau pun ia harus bolak- balik Jakarta- Bandung itu hanya karena ia memenuhi kewajibannya sebagai seorang anak. Kalau pun di Bandung Karin enggan mengobrol lama dengan sang Papa. Ia malah sering sibuk mengurung diri di kamar dan mengerjakan pekerjaan yang ia bawa. Entah kenapa saat gadis itu harus berhadapan langsung dengan sang Papa, ia akan selalu teringat sosok Mamanya dan menangis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD