Perjalanan lebih dari dua jam yang kami lakukan hanya terisi keheningan. Aku sibuk dengan pikiranku sendiri, kurasa Kak Saga juga demikian. Dia memejamkan mata setelah membolak-baik selebaran yang tersimpan di punggung kursi. Kami langsung menuju area parkir begitu pesawat mendarat dan keluar dari pintu kedatangan. Mobil Kak Saga masih berada di sana. Sepertinya Kak Sarah tidak membawanya pulang terlebih dahulu. Tapi, Kak Sarah bisa mengemudikan mobil, tidak, sih? Aku tidak pernah melihatnya menyetir, pun bertanya soal itu. Ponselku bergetar. Aku merogoh tas tangan sambil terus mengikuti langkah Kak Saga. Langkahku berhenti saat melihat nama yang tertera di sana. Ken menghubungiku. “Ya?” Senyumku mengembang. Kak Saga menoleh. “Sudah turun?” “Ini lagi di parkiran. Kamu kerja, ya?” Aku

