Sampai hari keempat di rumah Ibu, aku sama sekali tidak menemui Ayah. Sabtu pagi aku turut Kak Saga kembali ke Jakarta. Kak Saga memberitahu Ayah tentang kepulangan kami. Pagi-pagi sekali dia sudah datang ke rumah, bermaksud mengantar kami ke bandara. Suasana hening selama perjalanan. Aku memilih diam dan pura-pura memejamkan mata di kursi tengah ditemani Kak Mira. Dia tidak mengusikku sama sekali. Padahal sebelumnya sering mengingatkanku mengenai permintaan Ibu. “Boleh Ayah memelukmu?” Ayah menatapku. Kami berhadapan di selasar bandara yang banyak orang lalu lalang. Kak Mira langsung membuang muka. Aku bisa melihat dia menyusut sudut mata. Sudah lama aku tidak memandang wajah ini. Keriput sudah membayang di kening serta sudut mata. Rambutnya sebagian telah memutih dan dibiarkan begitu

