Kamu Harus Bahagia

1407 Words

Siang ini gerimis turun sedikit rapat. Percik-percik air yang mengenai permukaan tanah menciprat ke mana-mana. Halaman samping rumah sudah basah dan becek. Padahal aku ingin mengunjungi makam Ibu. Aku menyesal karena tidak turut Kak Saga dan Kak Sarah ke sana sebelum mereka berangkat ke bandara. “Kok, nggak dimakan? Mau lauk yang lain?” Kak Mira duduk di depanku. Dia setia mengawasiku sejak tadi. Kedua lengannya dia simpan di meja. Sesekali dia ikut menoleh ke jendela kaca yang sedikit terbuka. Sebenarnya, aku lebih suka membuka jendela secara lebar, merasakan semilir angin yang diantarkan sela-sela daun pepohonan dari kebun samping. Sayangnya hal itu akan membuat air masuk. Meja makan kami yang sengaja diletakkan di bawah jendela akan basah. Aku menghela napas. Semangkuk gangan manok

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD