Aku memandang Ken yang mondar-mandir di depanku. Dia sedang melayaniku. Setelah segelas jus dia letakkan di meja, dia mengupas mangga dan memotongnya ke piring. Aku tidak tahu dia mahir menggunakan pisau. Sekarang dia duduk di sampingku. Kami berada di sofa dan menonton menu wajib, Discovery Chanel. “Dapat?” Aku menoleh padanya. Dia menarik kedua kakiku ke pangkuan. Perlahan tangannya mulai memijat betisku yang memang terasa pegal. Dia sedang apa, sih? Ken menoleh karena aku masih bungkam. “Sudah dapat tempatnya?” Aku menggeleng. Pijatan pelan Ken membuatku nyaman. Dia bisa apa saja rupanya. Apa dia memang salah seorang pembunuh bayaran? Bukankah profesi semacam itu membutuhkan skill yang mumpuni dalam menggunakan tangan? “Kamu kenapa?” Lah, seharusnya aku yang bertanya, kamu sedang

