Dua Hari

1515 Words

Aku menatap langit-langit kamar. Dadaku berdetak lebih cepat dari biasanya. Titik-titik keringat masih membasahi dahi dan sebagian besar tubuhku, walau sepoi angin dari mesin pendingin cukup untuk menghadirkan gigil. Apa yang telah kamu lakukan, Samara? Mataku kembali terpejam. Aku tidak bisa berpikir sekarang. Otakku terasa buntu. Orang bilang, pikiran menjadi terang setelah bercinta, karena hasrat kita telah tersalurkan. Yang terjadi padaku justru sebaliknya. Aku tidak bisa berpikir apa-apa sekarang. Bagaimana ini? “Tidak mau mandi?” Aku membuka mata kembali. Tidak mungkin aku bersikap malu-malu setelah apa yang terjadi. Aku beringsut duduk sambil memegang selimut supaya tidak meluncur jatuh dan menampakkan tubuh depanku. “Ya,” jawabku pelan dan berusaha menutup tubuh bagian belakang

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD