Selamat Tidur, Sayang

1837 Words

Perlahan Ken menarikku supaya berdiri. Dia memegang erat pinggangku supaya tidak limbung. Sepertinya dia tahu benar kalau semua tulangku tidak berfungsi dengan normal. Berat badanku tertumpu padanya. Ken menggiringku masuk ke kamar, dengan bibir kami yang masih saling bertautan. Ken sama sekali tidak memberiku kesempatan untuk memisahkan diri walau sejenak. “Kamu tahu, aku kesulitan tidur belakangan ini.” Dia berkata dengan suara serak. Ken sudah duduk di tepi ranjang. Dia membuatku duduk di pahanya. Perlahan Ken merapikan rambutku yang jatuh hingga menutupi wajah. Lalu, tangan yang lain melepas sepatu hill-ku yang masih melekat di kaki. “Karena pekerjaan?” Aku menebak. Berusaha mengimbangi pernyataannya. Kedua lenganku telah merangkul lehernya. Ken mendongak supaya mata kami bertemu.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD