Kami benar-benar melakukan wisata kuliner. Menu-menu pedagang kaki lima yang menurut kantong Tante Nadia murah meriah membuatnya terpana. Beberapa menu membuatnya langsung suka, sebagian lain berakhir di kotak setelah dicicipi satu atau dua gigitan. Sekarang bagasi belakang penuh dengan kotak-kotak tersebut. Aku sudah tidak sanggup untuk memakannya. “Ini sangat menyenangkan.” Tante Nadia tertawa. Dia benar-benar menjadi orang yang berbeda di mataku. Table manner yang pernah kupelajari yang juga pernah aku praktikkan di depannya saat kami makan malam bersama, menjadi tak berarti sekarang. Tante Nadia tidak keberatan untuk ndeprok di lantai, atau terpaksa jongkok karena dia tidak suka makan sambil berdiri. “Masih ada yang ingin Tante coba?” Aku harap tidak ada. Dia menggeleng. Aku bisa b

