RUMAH SAVA – TENGAH MALAM Hujan baru saja reda. Rintiknya masih menempel di kaca jendela, membentuk gurat-gurat samar seperti air mata yang belum sempat diseka. Udara dingin masuk lewat celah jendela yang terbuka sedikit, merayap masuk seperti bayangan sepi yang tak diundang. Rumah itu sunyi. Terlalu sunyi. Sampai suara detik jam terdengar seperti palu yang menghantam kesunyian, berulang-ulang. Mengganggu. Mengganggu sekali. Sava baru saja menutup laptopnya ketika terdengar jeritan melengking dari lantai atas. “MAMAA!” Sava sontak berdiri. Jantungnya berhenti sepersekian detik, lalu berdegup kencang saat suara benda jatuh menyusul dari arah tangga. “DEMAS!” teriaknya panik, kaki menapaki anak tangga dua-dua. Matanya membelalak saat melihat tubuh kecil anaknya terguling pelan menurun

