Hisc 42

1154 Words

RUMAH SAVA – TENGAH MALAM Hujan baru saja reda. Rintiknya masih menempel di kaca jendela, membentuk gurat-gurat samar seperti air mata yang belum sempat diseka. Udara dingin masuk lewat celah jendela yang terbuka sedikit, merayap masuk seperti bayangan sepi yang tak diundang. Rumah itu sunyi. Terlalu sunyi. Sampai suara detik jam terdengar seperti palu yang menghantam kesunyian, berulang-ulang. Mengganggu. Mengganggu sekali. Sava baru saja menutup laptopnya ketika terdengar jeritan melengking dari lantai atas. “MAMAA!” Sava sontak berdiri. Jantungnya berhenti sepersekian detik, lalu berdegup kencang saat suara benda jatuh menyusul dari arah tangga. “DEMAS!” teriaknya panik, kaki menapaki anak tangga dua-dua. Matanya membelalak saat melihat tubuh kecil anaknya terguling pelan menurun

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD