Hisc 43

1261 Words

RUMAH SAKIT – RUANG TUNGGU ANAK – BEBERAPA MENIT KEMUDIAN Langkah kaki Nadine bergema di lorong rumah sakit. Nafasnya terengah-engah, jaketnya masih setengah tertutup, rambutnya belum disisir sempurna. Tapi tidak ada yang lebih penting daripada sampai di tempat ini. Sekarang juga. Matanya liar mencari satu wajah. Satu sosok. Satu nama yang terus bergema di kepalanya: Demas. Saat sudut mata menangkap Sava yang sedang berdiri di depan ruang observasi, Nadine langsung berlari tanpa ragu. Dan ketika ia sampai di depannya, tanpa aba-aba, tanpa basa-basi, dia langsung memeluk Sava erat-erat. Sava terkejut. Tapi tak perlu berpikir. Tangannya terangkat dan membalas pelukan itu. Mereka berdiri di lorong rumah sakit, di tengah malam yang sunyi dan kelelahan, saling membungkus satu sama lain de

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD