Hisc 30

1680 Words

Malam itu, rumah sudah tenang. Lampu di ruang tengah hanya menyisakan redup temaram. Nadine berdiri di depan lemarinya, jari-jarinya menyusuri gantungan baju satu per satu, seolah tak ingin menyentuh terlalu keras. Setiap lipatan kain terasa berat… seperti melepas bagian kecil dari hidupnya yang baru saja terasa seperti rumah. Ia duduk sebentar di pinggir ranjang. Menghela napas panjang. Sava belum tidur. Tapi Nadine tahu, Sava sedang butuh ruang. Dan ia tak akan memaksa. Keputusannya untuk pulang bukan karena menyerah. Tapi karena tahu—ada luka yang harus dihadapi masing-masing dengan tenang, bukan saling seret dalam gelombang air mata yang sama. Dengan hati-hati, ia memasukkan pakaian ke dalam koper kecil. Baju-baju yang ia pakai untuk mengantar anak-anak sekolah, celemek kecil yang

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD