Hisc 29

1266 Words

Rumah itu terlalu sunyi. Terlalu rapi, terlalu tenang, dan terlalu menusuk bagi seorang pria yang baru saja kehilangan jejak istrinya. Sava duduk di sofa, punggungnya merosot, tangan menggenggam sisa napas yang terasa berat sejak pagi. Sorot matanya kosong, tertambat pada bayangan buram jendela. Di luar, senja merangkak turun dengan malas, tapi di dalam dirinya, malam sudah turun sejak tadi. Nadine mondar-mandir cemas sejak Editya pergi. Ingin bicara, ingin menghibur, tapi tak tahu dari mana memulai. Ia berhenti di balik pintu, menatap punggung Sava yang terlihat lebih tua dari biasanya. Tapi sebelum ia bisa melangkah, bel rumah berbunyi. Dua kali. Terdengar tajam. Nadine membuka pintu, dan hatinya langsung mencelos. "Mama?" Renata berdiri di ambang pintu, tubuh tegak, ekspresi d

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD