Langit kelabu menggantung di atas jurang itu, seolah ikut berduka. Bau tanah basah dan mesin oli menyatu di udara, menusuk indera. Garis polisi melintang, menjaga jarak antara orang-orang dan kebenaran yang baru saja dikeduk dari perut bumi. Sava berdiri jauh dari garis itu. Jaket hitamnya tertutup debu jalanan. Ia tak bicara. Tak bergerak. Hanya menatap ke bawah, ke dalam jurang tempat hatinya ikut terguling dan hancur. Di bawah sana, ekskavator bekerja dengan suara geram pelan. Pelat logam besar menukik, meraih sisa bangkai mobil yang sudah tak lagi bisa disebut kendaraan. Cat merahnya pudar, penyok dan hangus, kaca pecah, atap terlipat seperti kertas basah. Tapi Sava mengenalinya, Mazda merah itu. Hadiah kelulusannya untuk Lani. Mobil yang mereka pilih bersama, dengan suara debat keci

