Dengan mata yang masih setengah terpejam dan rambut acak-acakan sisa malam yang intens, Sava turun ke dapur pagi itu dengan tekad sekuat baja: hari ini, ia yang akan menyiapkan sarapan. Bukan sekadar sarapan, tapi sarapan cinta untuk Nadine, perempuan yang semalam telah membalikkan dunianya. Dua ART yang biasa menangani urusan dapur, Mbak Rini dan Mbak Sulis, sudah bersiap di dekat kompor. Namun, Sava mengangkat tangan, penuh kharisma, seolah ia CEO sebuah perusahaan katering nasional. “Pagi ini, saya yang masak. Silakan mengerjakan hal lain saja,” katanya dengan senyum percaya diri, seperti hendak membuka restoran Michelin. Mbak Rini saling pandang dengan Mbak Sulis. Keduanya tampak seperti ingin berkata “Are you serious, Pak?”, tapi memilih diam. Mereka pun mundur perlahan, seperti ak

