Di tengah jalan menuju kantor, Sava udah melewati dua lampu merah, tapi pikirannya... gak pernah lepas dari suara tawa Demas. Dari cara Nadine menunduk, sabar membujuk Demas milih antara es krim vanilla atau cokelat. Dari bagaimana Nadine menoleh sebentar ke Sava tadi — singkat, tapi dalam. Seolah mereka ngerti perasaan masing-masing tanpa harus bilang apa-apa. Sava banting setir di tikungan. Asistennya menelpon. Sava menjawab dengan cepat agar semua jadwal hari ini di mundurkan. Hari ini, dia gak bisa pura-pura cool. Supermarket sudah mulai ramai. Nadine dan Demas belum keluar. Sava gak langsung masuk. Dia berdiri di seberang jalan, nyender ke mobil, nunggu. Dari balik kaca, dia lihat Nadine berdiri di kasir, Demas di sebelahnya dengan es krim di tangan, wajah belepotan cokelat. Nadine

