Hisc 38

1323 Words

Mobil melaju perlahan menyusuri jalanan yang masih basah oleh embun pagi. Di balik kemudi, Sava memandangi jalanan seperti sedang menyusuri lorong waktu yang tak ia inginkan. Kedua tangannya menggenggam setir dengan erat, dan sorot matanya tak bisa menyembunyikan kegelisahan yang menggerogoti batinnya. Radio mobil menyala dalam volume rendah, namun tak satu pun kata dari penyiar masuk ke telinganya. Suaranya hanya menjadi latar kosong, seperti hidupnya pagi itu. Ia menghela napas panjang, untuk entah ke berapa kalinya pagi ini. Napas yang berat dan tertahan, seolah paru-parunya tak lagi punya ruang untuk lega. Setibanya di depan rumah mertuanya, Sava memarkir mobil di tepi jalan. Rumah itu masih sama seperti terakhir kali ia datang, tenang, rapi, penuh bunga di teras, tetapi hari ini ter

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD