Hisc 24

1168 Words

Pagi itu, aroma roti bakar menyebar lembut dari dapur ke seluruh penjuru rumah—hangat, akrab, seperti pelukan diam-diam dari pagi yang ingin menetap. Udara membawa serta bau kopi yang baru diseduh, menyelusup ke sela-sela dinding rumah, membangunkan rasa tenang yang jarang hadir belakangan ini. Nadine melangkah ke meja makan, mengenakan apron bergambar stroberi yang tampak kebesaran untuk tubuh mungilnya. Mungkin itu milik Lani. Tali apronnya nyaris melorot dari bahu, tapi ia tak memedulikannya. Jemarinya sibuk mengaduk bubur s**u untuk Demas, sementara kepalanya sesekali menoleh mengikuti suara nyanyian Elmo dan Elma yang duduk berdampingan, menyanyi lagu anak-anak dengan semangat yang tak pernah habis. Senyumnya tersungging samar. Hangat. Lelah, tapi tak ingin pergi. Di ujung meja, Sa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD