Kafe langganan Anita – Siang hari Sava datang agak buru-buru, masih mengenakan jas kerja. Dasi sudah dilonggarkan separuh leher, keringat tipis menempel di pelipisnya. Ia tampak lelah, tapi tetap menawan dengan gaya maskulin khas pria yang sedang dikejar tanggung jawab. Begitu menjejak area luar kafe yang cozy, matanya langsung menangkap Anita—duduk manis di bawah payung besar, mengenakan blouse putih bersih dan kacamata hitam yang diletakkan di kepala. Tapi bukan itu yang membuat langkah Sava melambat. Di samping ibunya, duduk seorang wanita paruh baya dengan senyum profesional dan tas kerja elegan di pangkuannya. Sava berhenti beberapa detik. Tatapannya mengerut. “Trik apa lagi ini…” gumamnya pelan. Anita melambai penuh semangat. “Sayangku! Sini duduk!” Dengan sedikit enggan, Sava

