Hisc 19

1385 Words

Dalam perjalanan pulang, Sava menyetir pelan, menikmati suasana malam. Nadine duduk di sampingnya, masih sesekali tertawa mengingat ekspresi Sava saat mie ayam mangkuk kedua datang. “Kamu beneran mau mangkuk ketiga tadi?” goda Nadine. Sava pura-pura serius. “Kalau kamu enggak mengintervensi, sekarang aku mungkin lagi diliput media sebagai pelanggan tetap warung Bang Yos.” Tawa mereka pecah lagi, tepat saat mobil berhenti di depan rumah besar bergaya klasik—rumah Eyang. Anak-anak sudah menunggu di beranda, bersama Dewita, Mamanya Sava yang memeluk Demas sambil tertawa. Tapi begitu melihat Sava keluar, Dewita langsung menariknya ke samping, menjauh dari Nadine. “Acara makan malamnya lancar?” bisik sang Mama, setengah antusias, setengah interogatif. “Lancar, Ma. Cuma…” Sava belum sempat

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD