Malam yang dinanti pun tiba. Detik demi detik bergulir bagai siksaan yang lambat bagi Dara. Sejak pukul sebelas malam, ia hanya duduk di kegelapan kamar paviliun tanpa berani menyalakan lampu sama sekali. Tas jinjing hitam berisi uang tunai dari Garda sudah ia dekap erat di dadanya, sedangkan satu tas kain kecil berisi daster cadangan, dokumen identitas, dan botol air minum sudah siap di samping tempat tidur. Dara terus mengusap perutnya yang sesekali menegang akibat rasa tegang yang luar biasa. “Tenang ya, Nak. Sebentar lagi kita keluar dari sini,” bisiknya berulang kali dalam hati, mencoba menenangkan bayinya sekaligus menguatkan hatinya sendiri. Pukul satu lewat empat puluh lima menit dini hari. Suasana di luar paviliun terasa sunyi senyap. Dari balik celah tirai yang ia buka sedikit

