Dara memberontak dengan sisa tenaga yang ia miliki, memukul-mukul d**a bidang Garda menggunakan tangan satunya. "Anakku menangis di sana! Dia nggak bisa tidur kalau nggak kupeluk! Rissa yang gila itu pasti menyiksanya! Biarkan aku keluar dari sini!!" "Dara, cukup! Tenangkan dirimu!" Garda mengunci kedua tangan Dara ke atas ranjang, menindih tubuh ringkih itu dengan bobot tubuhnya sendiri tanpa menyakiti lambung Dara yang cedera. Napas Garda memburu, wajahnya berada tepat beberapa senti di atas wajah Dara yang sudah basah kuyup oleh air mata dan keringat dingin. Darah dari tangan Dara kini menodai lengan kemeja putih mahal milik Garda, menciptakan pemandangan yang teramat dramatis sekaligus menyakitkan. "Kamu mau ke sana dengan kondisi seperti mayat hidup begini, hah?!" desis Garda pekat

