Tujuh Puluh Delapan

1302 Words

Baron tiba di depan sebuah rumah yang dia ketahui alamatnya dari perusahaan tempat pembelian motor. Karena motor itu dibeli atas nama pelaku, jadi semua identitas pelaku ada di sana. “Permisi,” ucap Baron dengan suara lantang. Tidak ada bel di dekat pagar rumah, jadi mau tidak mau Baron memanggil agar pemiliknya keluar dari rumah. “Selamat siang, permisi.” Ujarnya sekali lagi. Barulah Baron melihat bayangan seseorang dari celah pagar. Begitu pintu pagar di buka, Baron melihat pria bertubug kurus dengan kumis dan jenggot yang cukup tebal. Rambutnya tertata rapi, dia juga mengenakan kemeja dengan celana bahan. Sepertinya orang itu sudah bersiap-siap untuk pergi ke suatu tempat. Untunglah Baron datang tepat waktu. Pria itu melihat Baron dengan tatapan yang entah apa—sulit untuk dijelask

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD