Ada Apa Denganmu, Mas? (2)

1229 Words
Mas Pram hendak menjawab, aku yang selama ini menahan diri tak sanggup lagi diam. Entah mengapa hatiku sakit mendengar idenya tentang panti jompo. “Kenapa, sih, Mas? Kok segitunya mau Bapak ke panti jompo. Bapak satu-satunya orangtuaku. Bapak sudah tua. Wajar kalau sakit-sakitan, lagian aku yang ngurus Bapak. Aku cuma minta Mas ngerti kondisi ini. Masalah uang? Bukankah selama ini kita bisa atasi bersama. Apa yang membuat Mas begitu tak suka pada Bapak?” Mas Pram balas menatapku dengan sorot tajam. “Ck! Denger, Mas gak suka bau minyak sialan di semua sudut rumah. Lihat! Kamu gak sempat ngurus badan gara-gara Bapak! Kamu gak sempat dandan buat suami! Kalo Mas Jafar keberatan, ya, sudah, satu-satunya jalan biar hidup kita tenang, tarok Bapak di panti jompo!” “Maaf, Mas. Aku gak setuju!” sahutku tegas. Dadaku bergemuruh. Mas Pram mendengkus. Aku menatap pintu kamar Bapak, semoga beliau tidak mendengar adu mulut kami. Aku tak ingin Bapak berpikir lain tentang suamiku. “Coba pikir, waktumu di rumah habis untuk ngurus Bapak, lama-lama aku muak!” Muak? Aku merasa takjub. Suamiku seolah laki-laki asing kini. Lima tahun menikah aku melihat sisi lain dari seorang Prambudi Setyawan. Begitu terbebanikah ia dengan keberadaan Bapak? Kehidupan kami memang terbatas secara materi. Dilihat dari sudut pandang manapun gaji honorer tak mencukupi, terlebih kebutuhan hidup semakin meningkat. Tapi, bukankah berbakti kepada orangtua tidak melihat keadaan kita berada atau sengsara? Apa yang Bapak pikirkan jika mengetahui ini. Tak sampai hati melukai perasaan Bapak. Sedikitpun tidak pernah terpikir menitipkan Bapak ke panti jompo. Berbakti pada Bapak adalah jalan syurga bagiku. Bagaimana mungkin aku menutup jalan syurga itu dengan kedurhakaan. Dan, apa Mas Pram lupa? Rumah yang kami tempati ini milik Bapak. Hitungannya kami lah yang menumpang. Suamiku lupa hal ini? Merasa serba salah sekaligus marah. Bukankah dia juga punya orangtua? Apakah karena berjauhan dengan orangtua empatinya menjadi mati? “Gajian bulan depan, aku gak rela uangku dipakai biaya berobat Bapak!” “Ya, sudah. Terserah Mas saja.” Aku pasrah. * Berbaring dengan perasaan tak menentu. Mas Pram memasang mode silent selama dua hari. Nyeri menghimpit ketika suami memberi pilihan sulit. Benarkah hanya biaya pengobatan Bapak yang menjadi biang masalah? Meski Bapak tipe orang yang tak banyak bicara, aku yakin Bapak menyayangi suamiku seperti anak sendiri. “Mas, sudah tidur?” Mas Pram berdehem tanpa menoleh. Aku paling tak suka didiamkan seperti ini, ingin segera mencari solusi. “Mas, ayo, kita bicara.” Mas Pram diam, tapi aku yakin ia mendengar. “Ini rumah Bapak. Apa kata orang kalo kita nitipin Bapak di panti jompo. Bukannya aku gak mau nuruti keinginan Mas. Aku gak tega, Mas. Gimana perasaan Mas, gimana kalo Ibu atau Ayah di posisi Bapak?” ujarku lembut. “Kok, bawa-bawa orangtuaku?” ia berbalik badan. Aku mengelus lengannya. Tak enak rasanya tidur dipunggungi. “Hanya perumpamaan, Mas.” Sahutku seraya tersenyum. Moza kupindahkan ke kasur kecil agar tak terganggu dengan pembicaraan kami. “Aku ingin merawat Bapak sampai waktu Bapak habis. Mas Jafar mungkin bersedia, tapi aku yang gak setuju. Tolong mengerti ya, Mas,” tambahku. Entahlah, gaji kami digabung pun tak lebih dari dua juta. Jika Mas Pram tak menginginkan gajinya dipakai untuk keperluan Bapak, aku harus menghemat yang ada. “Kakakmu itu laki-laki dan anak tua. Dia lebih berkewajiban mengurus Bapak. Panti jompo itu alternatif. Biar Mas Jafar berpikir. Gantianlah, dia gak tahu rasanya ngurus Bapak yang banyak mau!” “Anaknya Mas Jafar banyak. Mbak Rahma juga ‘kan upahan gosok kalo siang. Kalo Bapak di sana aku malah kepikiran. Sudah cocok Bapak tetap di sini. Nanti gaji Mas gak aku pake buat berobat Bapak. Gaji Mas buat kebutuhan Moza dan yang lainnya.” Jelasku lebar, berharap ia iba pada Bapak. “Terserah! Aku sudah kasih kamu solusi. Kita ini cuma tenaga honorer. Setiap minggu buang uang ke dokter, nyatanya gak sembuh-sembuh. Sakit sedikit ke dokter, ngeluh sedikit sibuk beli obat. Penyakit itu jangan dimanja! Namanya sudah bau tanah. Kamu sama Bapakmu sama. Lebay!” Aku menahan diri untuk tidak menjawab ucapannya. Mas Pram tak lagi menjaga perasaanku. Sadarkah ucapannya sangat menyakitkan. Mas Pram beranjak. “Mau kemana, Mas?” aku menahannya. “Tidur di luar!” “Mas! Nanti Bapak salah paham. Gak enak diihat Bapak.” “Terserah! Biar Bapakmu ngerti sudah jadi biang kerok!” Mas Pram menyentak tangannya. Aku menghela napas panjang. Niat hati ingin berbaikan malah memperuncing keadaan. Mas Pram berubah. Ketidaksukaannya pada Bapak ia luapkan terang-terangan. Kantukku hilang begitu saja. Sambil beringsut ke depan kaca aku membatin. ‘Apakah Mas Pram hanya mencari alasan karena bosan padaku?’ Mas Pram komplain karena menurutnya penampilanku tak sedap di pandang. Kutatap wajah di cermin. Reflek mengusap permukaan kulit yang terasa kasar. Entah berapa lama aku tak berbedak atau sekadar merawat wajah. Selama ini tak sempat memikirkan diri sendiri. Rasanya sayang menggunakan uang yang terbatas untuk membeli skincare. Kutatap lamat-lamat wajah dan tubuhnku. Wajah polosku sebenarnya tak banyak keluhan, tidak berjerawat. Tapi, memang kusam. Dulu, aku tampil modis ketika gadis, sekarang tahu sendiri tak ada biaya untuk itu. Aku berputar di depan cermin. Untuk fisik, berat badanku tak berubah meski telah melahirkan Moza, stabil di angka 55 kg dengan tinggi 160 cm. Sebelum menikah aku seperti gadis-gadis pada umumnya. Rajin merawat diri. Walau dipandang sebelah mata karena tenaga honorer, aku pernah dekat dan tersanjung ketika beberapa PNS lajang mendekatiku. Setelahnya sadar diri. Mereka hanya ingin bermain-main dan tidak serius. Sudah paham, PNS akan mencari yang sepadan dengan mereka, apalah diriku yang hanya honor dan tamatan SMA. Aku tipe yang sulit jatuh cinta. Beberapa pemuda dilingkunganku pun terang-terangan menyatakan perasaan, namun tak ada yang mengena di hati. Dengan Mas Pram lah aku luluh. Itu pun berbulan-bulan ia melakukan pendekatan. Aku menaruh simpati karena ia sopan dan pekerja keras. Aku bukannya tak ingin tampil cantik di depan Mas Pram. Membeli s**u Moza saja keteteran. Yang ada harus memutar otak bagaimana kebutuhan bulanan tercukupi. Untungnya Mas Pram kadang dapat pekerjaan tambahan, dari sanalah nyawa kami tersambung hingga tiba saatnya gajian. * Jam sepuluh malam, Mas Pram belum pulang. Pamitnya hanya ke warung. Apa mungkin bergabung di pos ronda? Moza dan Bapak sudah tidur. Kupilih duduk di luar menunggu Mas Pram pulang, lampu teras sengaja kupadamkan. Bulan purnama menggantung sempurna di langit yang cerah. Suasana malam ini begitu indah. Tapi, tak seindah hatiku. Akhir-akhir ini Mas Pram bersikap begitu dingin padaku. Sreekkk. Sreekk. Suara itu memaksaku menoleh ke sumber suara. Temaram cahaya membuat sudut pandang terbatas. Mataku memindai seseorang yang berjalan menyisiri batu pondasi sebelah rumah. Rumput liar setinggi betis menghalangi pandangan. “Mas? Ngapain kamu di situ?” tak dapat kusembunyikan rasa heran menyadari Mas Pram di situ. Ia pun terkejut mendapatiku di luar rumah. “Loh, Dek?! Kok belum tidur?” “Justru aku mau tanya, ngapain malam-malam Mas dari sana?" “Ng-nggak! Mas kan dari warung!” “Warungnya 'kan sebelah sana.” Warung terdekat dari rumah berada di kanan kiri jalan, Mas Pram jelas-jelas dari arah berlawanan. “Oiya. Eh, anu,” Mas Pram terdiam. “Tadi ketemu Kang Rahim di jalan, keasyikan ngobrol sampe depan ujung gang. Mas motong jalan deket rumah Teh Ririn, biar cepet, hehehe ....” Aku tatap Mas Pram lekat. Ia seperti menyembunyikan sesuatu. Kulirik rumah Teh Ririn yang gelap, hanya lampu terasnya yang menyala. Penuh ragu aku mengikuti langkah Mas Pram ke dalam. Dahiku berkerut, apa Mas Pram tak sadar pakai celana terbalik? TbC.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD