Setelah membaik selama seminggu, hari ini Bapak kembali mengeluh. Susah tidur, sakit kepala juga sesak di d**a. Aku menghela napas panjang dan menekan jengkel yang menyelusup di hati, mengetahui sakit Bapak ini karena menyantap sambal nanas. Duh, Bapak.
Dua hari sebelumnya Bapak minta dibuatkan sambal nanas. Khawatir lambungnya bermasalah aku tak memenuhi keinginannya. Siapa sangka, setelah aku berangkat kerja Bapak membeli nanas di warung dan membuat sambal sendiri. Tak tahan mendengar Bapak muntah-muntah di telepon, hari ini aku minta ijin Mbak Lisa untuk bekerja setengah hari. Mas Pram mengantarku pulang dengan ocehan panjang.
Kubawa Bapak berobat tanpa Mas Pram. Suamiku tak lagi bisa menahan diri, ia mengomeli Bapak di depanku.
“Makanya Pak, kalau dibilangin itu nurut. Kalau sudah begini siapa yang repot? Menyusahkan saja! Memang berobat itu gak pakai duit?!”
“Iya, maafkan Bapak, Pram. Bapak kangen sambal buatan almarhumah Ibunya Lilis.” Sahut Bapak terengah-engah. Mataku seketika berkaca-kaca. Aku memeluk Bapak penuh haru.
Ya, Allah ... Bapak kangen Ibu. Sambal nanas pete memang favorit Ibu dan Bapak. Penuh rasa bersalah aku menuntun Bapak ke kamar. Mas Pram menatap kami dengan mata nyalang. Ia berlalu dan menutup pintu dengan kasar saat aku meminta menjemput Moza di rumah Teh Ririn.
“Maafkan, Bapak, Nduk. Bapak sudah merepotkan kalian ... wajar suamimu marah.” ucap Bapak terengah-engah. Kupandang laki-laki kesayangan itu dengan rasa mengharu biru.
“Gak, Pak. Bapak sama sekali gak merepotkan. Sudah kewajiban kami mengurus Bapak. Maafin Lilis yang gak bisa ngerawat Bapak dengan baik. Lilis ngelarang karena gak mau Bapak sakit, Lilis mau Bapak sehat terus. Gak usah dipikirin ucapan Mas Pram, ya, Pak.” Aku memeluk Bapak penuh kasih, membaringkannya di tempat tidur.
Bagaimanapun kesulitan kami, harusnya Mas Pram menjaga ucapan di depan Bapak.
Kutumpukkan dua bantal di bagian kepala Bapak, susah hatiku melihat napasnya yang pendek-pendek. Kata dokter posisi kepala Bapak harus lebih tinggi dari jantung agar bisa bernapas dengan baik.
Disamping sedih melihat Bapak yang terbaring tak berdaya, hatiku juga terluka dengan sikap Mas Pram. Bapak memang banyak mengeluh. Seperti ingin terus diperhatikan dan diajak ngobrol. Mungkin ini yang dikatakan, seseorang kembali ke sikap kanak-kanak saat tua. Tapi, menurutku sikap Bapak masih dalam batasan wajar. Aku anaknya, wajar jika Bapak menyampaikan ketidaknyamanan dan rasa sakit yang ia rasakan.
Pagi ini kekesalan Mas Pram belum usai. Aku menebalkan telinga saat ia membicarakan Bapak.
“Sudah ngeyel, banyak mau! Kelakuan kayak anak kecil!” Mas Pram memancingku bereaksi. Ia mengucapkan hal itu berkali-kali. Tak tahu Jam berapa ia pulang ke rumah karena aku ketiduran setelah mengurus Bapak.
“Mau apalagi, dia?” tanyanya tajam melihatku membawa piring berisi nasi yang hanya berkurang sedikit.
“Bapak kepingin pisang kukus,” sahutku pelan sambil menyuapkan nasi yang ditolak Bapak ke dalam mulut. Moza sudah dijemput Teh Ririn saat aku tengah mandi. Teh Ririn benar-benar menjadi andalanku.
“Hah! Tinggal makan saja apa susahnya. Sudah penyakitan, pilih-pilih makanan!”
“Mas! Tolong, jangan bicara begitu. Bapak orangtua kita. Beliau juga gak mau sakit.”
“Orangtuamu, bukan orangtuaku!” ketusnya tajam.
“Mas, tunggu! Aku belum selesai makan,” cegahku saat Mas Pram bergerak memakai sepatu.
“Cari tebengan saja! Aku buru-buru. Pagi-pagi sudah emosi karena Bapakmu!”
*
“Teh, s**u Moza nanti dianter Mas Pram. Kalo rewel, tolong buatkan teh manis dulu, ya, Teh.” Aku menurunkan Moza dari sepeda roda empat yang merupakan pemberian dari Mbak Lisa, beliau atasanku yang baik hati. Tak hanya sepeda, baju dan mainan milik anaknya yang sudah tak terpakai diberikan untuk Moza.
Teh Ririn tersenyum. Aku baru memperhatikan penampilan Teh Ririn, sekarang ia terlihat lebih cantik.
“Wah, kalo Bang Rozi pulang, pangling liat Teteh. Nambah cantik, loh, Teh! Apa rahasianya?”
“Bisa aja kamu, Lis. Teteh baru dapet kiriman dari Bang Rozi. Terus beli skincare baru,” balasnya seraya mengedipkan mata.
“Senengnya, Teh! Jangan-jangan Eza bakal dapat adek, nih!” aku memandang Teh Ririn dengan sorot kagum. Dia yang di rumah saja terlihat begitu modis dan terawat. Beda denganku yang tampil seadanya.
“Amit-amit! Ngawur, kamu, Lis! Teteh dah gak mau punya anak.”
“Lah, Teteh masih cocok gendong bayi.” Aku menggodanya.
“Gak, ah! Ntar gak bisa tidur nyenyak kayak kamu!” kami tertawa bersama. Begitulah Teh Ririn, meski umurnya sudah 38 tahun tapi pembawaaanya selalu ceria hingga nampak awet muda. Orang tak menyangka usianya hampir mendekati kepala empat. Penampilannya lebih cocok umur 27 tahun.
*
Aku menghubungi Mas Pram berkali-kali. WA Teh Ririn juga checklist. Hanya ingin memastikan Mas Pram sudah membelikan Moza s**u. Tiga hari ini anakku belum minum s**u. Berselang satu jam kemudian Mas Pram dan Teh Lilis membalas di waktu bersamaan.
“Teteh lagi di belakang, Lis, gak liat HP. Moza aman. s**u sudah dianter Pram.” WA balasan dari Teh Ririn membuatku anteng di depan komputer menginput pekerjaan dari Mbak Lisa.
Aku dan Mas Pram kadung berserah pada nasib. Menjadi tenaga honorer salah satu ikhtiar agar suatu saat diangkat menjadi PNS. Butuh keyakinan dan kesabaran yang tak sedikit. Tujuh tahun sudah kami menjadi tenaga honor. Mimpi hidup sejahtera dengan berseragam PNS kerap terbayang di pelupuk mata. Setiap tahun kami berdoa kiranya dibuka formasi pengangkatan dari tenaga honorer.
Bagi sebagian orang, memilih menjadi tenaga honorer bukanlah pilihan bijak. Apalagi sudah berkeluarga, tahu sendiri besaran gaji yang diterima. Tetapi profesi PNS sebuah kebanggaan tersendiri di lingkungan kami. Terlebih sudah banyak tenaga honorer diangkat menjadi PNS setelah mengabdi belasan tahun, kehidupan mereka menjadi lebih baik. Setidaknya itu yang kulihat dari luar.
Untuk itulah aku memotivasi Mas Pram untuk melanjutkan kuliah. Salah satu diantara kami harus bisa bersaing dengan kompetitif. Setidaknya jika sudah sarjana, peluang bagi suamiku untuk diangkat menjadi PNS lebih terbuka. Formasi bagi lulusan SMA sangat kecil untuk diterima. Ada kebanggaan tersendiri dalam hatiku mendampingi Mas Pram hingga sejauh ini.
Dengan kesabaran yang kami pupuk terus menerus, akhirnya Mas Pram berhasil menyelesaikan kuliah di Universitas swasta di Bandar Lampung. Suamiku sempat patah arang ketika tahun kedua pernikahan, berbulan-bulan gaji kami tidak dibayarkan. Terlebih saat itu aku tengah hamil. Makan, minum dan biaya hidup lainnya mengandalkan gaji Bapak sebagai tukang bangunan. Bila terkenang masa-masa itu aku begitu tak rela melihat sikap Mas Pram kini pada Bapak.
Karena ada dokumen yang tertinggal, menjelang makan siang aku pulang. Dengan motor milik Resa, aku tiba di rumah tepat ketika azan zuhur bergema.
“Assalamualaikum, Pak?” salamku seraya membuka pintu yang tidak terkunci. Mas Pram mungkin tidak pulang. Motornya tidak terlihat. Pada jam kerja kami jarang saling menghubungi kecuali ada hal penting.
Kulihat Bapak tengah menunaikan solat. Aku bergegas ke kamar mengambil dokumen yang berada di dalam map hijau.
“Nduk, tumben pulang? Suamimu mana?” Bapak keluar kamar dengan wajah teduh.
“Ya, Pak, ada yang ketinggalan. Lilis pinjem motor teman. Gak bareng Mas Pram. Bapak belum makan?” tanyaku sambil mencium punggung tangannya.
“Belum lapar, Nduk.”
“Jangan gak makan, Pak. Lilis ke kantor lagi, ya. Mas Pram mungkin diajak makan siang sama bos-nya.” Bapak mengangguk dengan bibir terus melantunkan zikir. Sehabis solat fardhu biasanya Bapak akan berlama-lama diatas sajadah, menderas mushaf-nya.
Aku memutar motor menuju rumah Teh Ririn. Ingin melihat Moza. Motor sengaja ku parkir diluar pagar. Keningku berkerut ketika mendapati motor yang sangat kukenal terparkir dengan posisi tersembunyi, pada letter L rumah Teh Ririn. Motor itu terselip diantara pohon pucuk merah yang rimbun.
Kupercepat langkah. Benar. Tak salah. Ini motor Mas Pram. Tapi suasana begitu hening. Apakah Moza tidur? Mengapa Mas Pram malah parkir di rumah Teh Ririn? Mataku membulat melihat sepatu milik suamiku teronggok di dekat kursi plastik.
“Assalamualaikum, Mas! Kamu di dalam?!”
Bersambung.