Fakta Tak Terbantah

1291 Words
Tak ada jawaban dari dalam. Aku jadi gelisah. Dengan sendirinya pikiranku berkelana. Samar terdengar suara TV. Tak ingin lama-lama berkalung prasangka buruk, aku mengintip dari jendela. Di depan TV yang tengah menyala kulihat Moza terlelap tidur. Sendirian. Kemana Teh Ririn? Lalu, Mas Pram? Ini tidak benar. Aku bisa gila dengan pikiran liarku sendiri. Dicekam penasaran kuputar tubuh ke pintu samping. Saat melalui jendela kamar kedua mendengar suara mencurigakan. Des4h4n sahut menyahut. Kudekati jendela yang tak bertirai dengan perasaan tak karuan. Tidak percaya atas apa yang aku saksikan. Tapi, mataku sungguh masih normal. Beberapa saat tubuh menegang dengan mata membeliak. d**a berdentam kuat. Dua orang yang tengah berbuat dosa itu jelas-jelas Mas Pram dan Teh Ririn. Orang yang kupercaya mengasuh anakku. Tubuhku merosot. Lunglai tanpa daya. Hatiku tercabik-cabik dengan sendirinya. Detik berikutnya aku berdiri dengan mata memanas dan d**a dibakar amarah. Kedua orang yang tengah sibuk dengan aktifitas m***m itu tak menyadari bahwa perbuatan hina mereka kepergok basah. Ya Allah, kenyataan macam apa yang engkau tunjukkan di depan mataku. Aku ingin berteriak sekencang yang kubisa, tapi tubuhku menggigil dengan sendirinya. Menahan emosi yang meluap membuat dadaku sakit. Perih sekali. Bagai tertusuk belati tajam yang dihunjam amat dalam. Sakitnya, ya Allah. Entah dorongan dari mana aku menggenggam batu yang tergeletak tak jauh dari tempatku terduduk. Praannngg!! Praangg!!! Bak kesetanan kupecahkan jendela kaca itu seraya menjerit histeris. “Biadaab!Dasar gak punya malu! Biadab!!” Praang!! Berulangkali kupukul kaca dengan batu yang kugenggam hingga berserak. Darah segar seketika membasahi jemari tanganku. Tak kurasakan sakit. Tapi hatiku yang berdarah-darah. Aku tak peduli pada dua manusia b***t yang kalang kabut di dalam sana. Kali ini aku menangis meraung-raung. Sekuatnya. Tetangga berdatangan. Mereka bertanya tapi aku tak bisa menjawab. Terus menangis dan menangis. Di dalam sana Teh Ririn terlihat panik mengenakan pakaiannya. “Pezina! Biadab! Teganya kamu, Teh!” Kutunjuk wajah perempuan yang tampak pias. Bu Wardi dan suaminya memegangiku. “Istighfar, Lis! Apa yang terjadi?!” Darah yang terus keluar dari tangan yang terluka tidak kuhiraukan. Aku kalap dirundung emosi dan sakit hati. Orang-orang yang paham suamiku di dalam bergerak ke depan. Mereka menggedor pintu rumah perempuan yang telah menggoda suamiku. Dalam sekejap rumah ini ramai. Beberapa merekam dengan kamera ponsel. Aku tak peduli mereka mengambil gambarku dalam keadaan kalap. Banyaknya orang yang berkerumun membuat kedua manusia yang laknat itu tak berani keluar rumah. Tangisku terhenti saat mendengar Moza menangis. “Lis, tanganmu luka. Ayo, kita obati dulu!” kali ini Bu Siti membujukku. Aku menolak. “Anakku, Bu. Mozaa! Mozaa!” tak mempedulikan keadaan sendiri aku menerobos ke dalam rumah yang sudah di buka paksa. Beberapa orang menahan warga yang emosi. Tak lama Pak RT datang. Meminta semua menahan dan tidak main hakim sendiri. Di luar semakin ramai. Kata-kata hujatan mereka lontarkan kepada Mas Pram juga Teh Ririn yang kini tak berkutik. Laki-laki yang selama ini aku percaya dengan segenap jiwa raga berdiri di hadapanku dengan pakaian kerja yang belum terkancing sempurna. Wajahnya panik. Sama halnya dengan perempuan yang yang tadi bergumul dengannya. Wajah Teh Ririn kusut masai. Tentu saja syahwat mereka belum tuntas saat kebejatan mereka aku pergoki. “Dasar gak punya malu!” “Orang pada ibadah malah berzina!” “Suruh keluar! Arak keliling komplek!” “Telanjangin dulu! Biar kapok!” teriakan-teriakan itu sahut menyahut membuat keduanya semakin mengkerut. “Oalah Rin, Rin! Kamu gak malu sama umur? Malah main gila sama suami orang!” Bu Siti yang mendampingiku turut meluapkan emosinya. Teh Ririn menunduk. Mas Pram terlihat ingin membuka mulut. “Tega kamu, Mas,” desisku. “Ini yang kamu lakukan di belakangku? Kamu main gila dengan perempuan yang mengasuh anakmu?!” Mas Pram menunduk. Pak RT memintaku untuk tenang. “Maaf, mas khilaf.” Aku berdecih. Kutatap mereka bergantian dengan hati berdenyut perih. Teh Ririn terduduk lemas. Perempuan yang selama ini kuanggap begitu baik ternyata tega menikamku dari belakang. Mengikuti emosi ingin kujambak dan cakar wajahnya yang selama sok polos. Kupeluk Moza yang sudah diam dengan mata berlinang. Pak RT tampak berbicara dengan Pak Wardi. Di luar suasana semakin panas. Teriakan tak henti terdengar. Sepertinya massa yang berkumpul semakin bertambah. “Bawa mereka keluar, Pak!” aku menunjuk Mas Pram dan Teh Ririn yang telah membohongiku habis-habisan. “Dek!” Mas Pram menatapku dengan raut mengiba. Ia terkejut aku menyerahkannya pada orang-orang yang terus berteriak. “Kamu jahat Mas! Kamu tega sama aku. Kamu keterlaluan! Aku benar-benar tak mengira kamu berkhianat, huhuhu .....” tangisku kembali pecah. Hatiku sakit tak terkira. “Mas benar-benar khilaf. Maafkan, Mas.” Pintanya. Jelas ia ketakutan sekarang. “Khilaf? Kalian pasti sudah sering berzina. Ngaku Mas! Kamu masih mau berkelit?!” aku menatap Mas Pram berapi-api. Begitu naifnya aku selama ini. Moza kembali menangis mendengar aku berteriak. “Bawa mereka ke kantor polisi, Pak!” ulangku. “Maafin Teteh, Lis. Tolong, Teteh minta pengertianmu.” Aku ingin tertawa sekaligus mual mendengar ucapan perempuan jalang itu. Warga di luar mulai tak sabar. Mereka meminta Mas Pram dan Teh Ririn di bawa keluar. Pak RT mulai kewalahan. “Mas malu, Dek. Jangan begini.” Cicit Mas Pram setengah berbisik. Aku muak melihatnya. “Masih punya malu kamu, Mas? Seharusnya kamu berpikir sebelum berbuat!” “Nduk, apa yang terjadi?” Tiba-tiba Bapak memaksa masuk. Mungkin Bapak baru ‘ngeh’ kehebohan yang diperbuat menantunya. Aku memeluk Bapak. Kami bertangisan. Diluar terdengar sorakan berulang-ulang. Teh Ririn semakin ketakutan. Mas Pram salah tingkah. “Mas Pram selingkuh, Pak! Lilis lihat dengan mata kepala sendiri, mereka ... berzina!” aku meluapkan tangis. Suami yang begitu kupercaya main gila dengan perempuan lain. “Pak RT! Jangan sampai kami kehabisan kesabaran. Lingkungan kita sudah dikotori oleh manusia b***t seperti mereka. Suruh keluar, Pak. Kami arak saja mereka di jalanan!” seseorang berteriak lantang. Mas Pram dan Teh Ririn semakin pucat. “Dek!” panggil Mas Pram. “Lilis, maafin Teteh!” Perempuan itu tiba-tiba bersujud di depanku. Tak sudi disentuhnya aku cepat menjauh. “Keterlaluan, kamu Pram!” Bapak memukul Mas Pram dengan emosi. Tubuh Bapak yang ringkih tiba-tiba bertenaga memukuli Mas Pram. Laki-laki berstatus suamiku itu nampak pasrah. Suasana menjadi ricuh. Rumah ini seperti mau rubuh karena teriakan orang-orang yang tersulut emosi. Pak RT di bantu Pak Wardi dan beberapa orang lainya melerai. Darah mengucur di bibir Mas Pram. Ia terduduk di lantai. Bapak memandangnya dengan mata berkilat. “Bapak memang curiga padamu!” sembur Bapak dengan napas terengah-engah. Bapak kembali menampar. “Semua ini gara-gara Bapak! Aku selingkuh karena Lilis sibuk ngurus Bapak!” Aku ternganga tak percaya. Bisa-bisanya Mas Pram menyalahkan Bapak atas perbuatan kejinya. Bapak kembali emosi, saat hendak mendekati Mas Pram kembali, tiba-tiba tubuhnya menegang. Bapak terjatuh. “Bapaaak!” teriakku kencang seraya menghambur kearah Bapak. Badannya dingin. Mata rapat terpejam. Kepanikan melandaku. “Pak Komar, pingsan! Ayo bawa ke rumah sakit!” Pak Wardi berteriak. “Pak! Bangun, Pak! Ya Allah, Bapakkk ....” jeritku. Mas Pram yang mencoba mendekat ditarik menjauh oleh seorang berpakaian linmas. Ya, Allah, selamatkan Bapak. Aku tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Bapak doaku dalam hati sambil memeluk Bapak. Dua orang mengangkat Bapak dan menggotongnya keluar rumah. “Awas! Beri jalan!” Kondisi tak terkendali. Massa yang berkumpul minta pelaku zina diserahkan pada mereka. Tak kupedulikan lagi Mas Pram dan selingkuhannya. Sempat kulihat orang-orang yang marah masuk dan langsung memukuli Mas Pram tanpa ampun. Teh Ririn ditarik paksa keluar rumah. “Lis, istighfar! Yang tenang, Bapakmu hanya pingsan.” Bu Siti mengingatkanku yang terus menangisi Bapak yang terbaring di pangkuanku, kami dalam perjalanan ke rumah sakit. “Lilis gak mau Bapak kenapa-kenapa, Bu. Cuma Bapak yang Lilis punya.” Aku mengusap airmata. Dalam hati tak hentinya berdoa. “Semua ini gara-gara perempuan j****y itu!” ujar Bu Siti penuh geram, ia menatapku penuh simpati. Aku memejamkan mata. Kesedihan terasa berlipat-lipat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD