Bapak harus dirawat. Kondisinya yang lemah memaksaku menyetujui keputusan dokter.
Bu Siti dan Bu Wardi datang pagi-pagi mengantarkan pakaian ganti dan makanan. Selama ini aku menjaga jarak dengan mereka karena suka mengghibah. Saat masalah membelit begini justru mereka yang sigap membantu. Aku tersentuh.
“Makan, Lis. Kamu butuh tenaga biar tetap kuat. Berhenti nangis. Laki model Pram itu gak layak kamu tangisin!” Bu Siti memaksaku menelan nasi yang terasa mencekik tenggorokan.
Kedua tetangga yang rumahnya saling berseberangan itu membawa kabar, saat ini Mas Pram dan Teh Ririn diamankan di tempat terpisah oleh Pak RT. Polisi enggan memproses karena belum ada pihak yang melapor.
Dengan berapi-api keduanya menceritakan bagaimana Mas Pram dan Teh Ririn diarak keliling komplek oleh warga, Mas Pram dipukuli dan dicerca habis-habisan. Hatiku tersayat-sayat mendengarnya. Terbayang wajah Mas Pram yang mengiba dan meminta maaf.
“Si Ririn di lemparin telur busuk sama ibu-ibu yang marah, ada yang nyiapin cabe setan buat dia, biar kapok!” lapor Bu Siti semangat. Mendengar nama perempuan itu disebut-sebut, kesedihanku yang menggunung menjelma menjadi amarah.
Aku begitu emosi mengingat semuanya. Semalaman kepala berdenyut sakit. Otakku dijejali adegan bagaimana kebersamaan Mas Pram dengan perempuan yang bahkan lebih tua tujuh tahun darinya.
“Kamu terlalu percaya sama orang, Lis. Lah, wong si Ririn itu kelamaan ditinggal suaminya. Saban hari ketemu suamimu yang muda dan ganteng, ya diem bat!” Bu Wardi terkesan menyalahkanku.
“Sama saja, Bu. Dua-duanya salah. Si Pram juga otaknya gak di pake.” Balas Bu Siti dengan nada ge ram. “Istri sehat, masih muda. Malah berzi na dengan tetangga. Zaman ed an!”
Ruang perawatan kelas tiga tempat Bapak dirawat terisi penuh dengan pasien. Sekat kami hanya kain tipis. Semua telinga di ruangan penuh sesak dan panas ini mendengar jelas pembicaraan ini.
“Oh, Mbak ini yang suaminya diarak kedapatan seling kuh, ya? Saya dapat kiriman videonya.” Seorang perempuan yang menunggui suaminya sakit Typhus bertanya dengan suara cukup kencang.
Aku menunduk, jengah. Entah kemana aku sembunyikan wajah ini. Berusaha tegar mengangkat kepala lalu tersenyum. Untung Bapak pulas tertidur karena pengaruh obat, tidak perlu mendengar semua ini.
“Gak nyangka. Si Pram kepincut Ririn yang jauh lebih tua. Apa sekarang memang trend-nya laki-laki muda menyukai yang lebih berpengalaman, ya?”
Hatiku masam mendengar celoteh Bu Siti. Terdengar celetukan dari keluarga pasien yang lain. Ada yang tertawa, mungkin menurut mereka itu lucu.
“Lis, pesan Pak RT, kamu harus buat laporan. Biar Pram sama Ririn itu di penjara. Polisi yang datang gak mau nangkap karena belum ada laporan dari pasangan sah!"
Aku menarik napas panjang. Orang-orang di ruangan ini menatapku iba. “Saya gak bisa ninggalin Bapak, Bu. Untuk laporan nanti saya pikirkan.” Sahutku pelan.
“Pokoknya kamu jangan goyah. Kami semua mendukungmu, Lis!”
“Ya, Bu. Terimakasih banyak atas makanan dan perhatiannya, saya berhutang budi banyak pada Ibu-Ibu.” Aku mengantar mereka hingga ke keluar pintu ruangan. Setelah keduanya pergi aku kembali menekuri wajah Bapak dan Moza yang terlelap. Bisik-bisik di sekitarku terdengar santer.
*
Setelah tiga hari dirawat di rumah sakit, kondisi Bapak mulai membaik. Menurut dokter, jika kondisi dan tekanan darah stabil besok kami bisa pulang. Bersyukur dalam hati. Meski terasa berat, aku tak alpa membayar BPJS Bapak. Dalam kondisi semrawut begini biaya perawatan Bapak tertanggulangi.
Berhari-hari di rumah sakit dengan kondisi kurang tidur dan banyak pikiran membuat kewarasanku berada di level terendah. Memang, aku tak lagi berteriak dan menjerit histeris. Namun, saat semua orang terlelap dibuai mimpi, aku menghabiskan malam dengan menangis seorang diri. Meratapi nasib. Perbuatan Mas Pram membuatku sangat terguncang. Jika tidak ada setitik iman mungkin aku tidak berpikir panjang memilih jalan pintas.
Jangan ditanya seperti apa hatiku menghadapi ini. Batinku selalu berperang. Sesaat aku menyesali kebodohan dan kenaifanku selama ini. Detik berikutnya sumpah serapah kutujukan pada kedua manusia lak nat yang tak punya hati itu.
Kenapa penderitaan justru datang dari orang yang begitu kita percayai?
Menyaksikan laki-laki yang membersamaiku mengarungi bahtera rumah tangga berbagi peluh dan tu buh dengan perempuan lain sungguh kenyataan yang menyakitkan. Aku terhempas di jurang penderitaan yang dalam. Serasa digulung badai dahsyat lalu hancur tak bersisa.
Tentu. Tak ada hati yang baik-baik saja setelah dikhianati.
Mencoba terlihat tegar demi Moza dan Bapak. Kondisi Bapak yang memburuk karena peristiwa itu menambah panjang kesedihanku. Dokter berpesan untuk menjaga agar Bapak tidak stres dan banyak pikiran. Aku mengiyakan.
Cobaan bertubi-tubi yang menghampiri membuat emosiku gampang tersulut. Tak urung, Moza yang rewel dan terus menangis meminta pulang menjadi sasaran kemarahanku. Malam ini, anakku tertidur setelah aku mendaratkan cubitan di kaki dan pahanya yang tak bersalah. Bocah empat tahun itu lelap membawa air mata.
Kupandangi wajah anakku yang pulas di tikar tipis. Dia mewarisi lekuk wajah Mas Pram. Aku menatapnya dengan hati pilu. Dia rindu Ayahnya. Moza merengek ingin bertemu dengan Mas Pram yang sekarang entah di mana. Kuseka airmata yang tak habisnya meluruh tiga hari ini. Dalam keheningan ruang perawatan pasien kelas tiga pemerintah daerah ini aku merasa hidup benar-benar hampa.
Bapak sedikit bicara. Tapi matanya menceritakan betapa wajah tua itu turut merasakan penderitaanku. Beliau berulangkali mengucapkan maaf. Sepertinya Bapak menyalahkan dirinya yang jatuh sakit saat aku tertimpa kesulitan besar seperti ini.
“Maafkan Bapak, Nduk. Gara-gara Bapak rumah tanggamu jadi begini.”
“Gak, Pak. Bapak gak salah. Yang harus disalahkan Mas Pram. Dia menghancurkan kepercayaan Lilis. Harusnya Lilis percaya Bapak waktu itu.” Sesalku. Firasat Bapak tentang Mas Pram yang sering kedapatan di rumah Teh Ririn kuanggap hal yang mengada-ada. Bapak menatapku dengan mata berkaca.
“Bapak gak mau kamu dan anakmu menderita, Nduk. Maafkan Bapak. Mungkin Pram ada benarnya, kamu kurang memperhatikannya karena sibuk ngurus Bapak yang sakit-sakitan.”
“Bapak! Lilis sudah bilang, ini bukan salah Bapak. Pesan dokter Bapak gak boleh banyak pikiran. Lilis cuma minta Bapak sehat. Lilis gak mau Bapak sakit. Bapak satu-satunya yang Lilis punya.” Aku tergugu di depan Bapak. Bisa-bisanya Bapak terus menyalahkan dirinya.
*
Setelah mengurus administrasi dan menerima, kami kembali ke rumah diantar Mbak Lisa dengan mobilnya.
Mengesampingkan malu aku menerima bantuan atasan di kantor yang baik hati ini. Mbak Lisa tak henti menanyakan keadaanku selama di rumah sakit. Dia salah satu orang yang peduli pada kejadian nahas yang menimpaku. Meski statusnya atasan dan orang berada, ia tak canggung menenteng tikar dan tas lusuh kami saat keluar dari rumah sakit.
“Rawat dan jaga Bapakmu. Pastikan kondisinya benar-benar membaik. Lebih dari itu yang harus kamu jaga adalah kesehatan mentalmu. Kamu kuat, Lis. Mbak tahu itu. Ingat, ada anakmu yang harus kamu pikirkan.” Mbak Lisa kembali menasehatiku.
Aku mengangguk, meski tak sepenuhnya mendengarkan. Pikiranku tak fokus.
“Jangan masuk kerja dulu.”
“Lis! Kamu dengar?”
“Eh, apa, Mbak?”
“Melamun?” ia menatapku kasihan. Aku mengusap bulir bening yang tiba-tiba lolos di sudut mata. Kepala Bidang lulusan S2 itu menarik napas dalam.
“Setiap orang punya ujian masing-masing. Selama kita hidup, kebahagiaan dan kesedihan datang silih berganti. Saat ini Allah memberikanmu ujian. Bukan Allah gak sayang kamu, Lis, bukan. Allah pengen kamu jadi lebih kuat, Dia mau kamu lebih mendekat kepadaNya.”
“Tapi, mengapa ujian Lilis seberat ini, Mbak? Lilis gak kuat. Lilis pengen mati saja!”
“Istighfar, Lis! Kalo kamu mati, masalah selesai? Nggak! Kamu gak mikirin anakmu? Bapakmu? Siapa yang ngurus mereka? Kamu mau anak sama Bapakmu terlantar setelah kamu mati?”
Tangisku meledak.
***