Kecewa dan Nestapa

1234 Words
*** “Istighfar, Lis! Kalo kamu mati, masalah selesai? Nggak! Kamu gak mikirin anakmu? Bapakmu? Siapa yang ngurus mereka? Kamu mau anak sama Bapakmu terlantar setelah kamu mati?” Tangisku meledak. Ucapan Mbak Lisa benar. Aku tergugu dengan hati pilu. Tiba di rumah tanpa sadar aku menoleh ke rumah Teh Ririn yang tertutup rapat. Rumah yang menjadi tempat bermain Moza, juga rumah yang dijadikan Mas Pram berbuat dosa. Massa sempat merusak rumah itu di beberapa bagian. Informasi yang kuterima, Eza dibawa diungsikan ke tempat neneknya. Keberadaan Mas Pram dan Teh Ririn hingga detik ini aku tak ingin tahu. Pak RT bersama ibu-ibu termasuk Bu Siti dan Bu Wardi yang datang menjenguk Bapak telah kembali ke rumah masing-masing. Entah mengapa, aku merasa pandangan ibu-ibu itu seolah menyalahkanku atas apa yang terjadi. Mereka berbisik-bisik memperhatikanku. Derai tawa mereka terdengar saat membicarakan kondisi Mas Pram dan Teh Ririn saat itu. Mbak Lisa sengaja belum pulang, ia nampak mengkhawatirkan aku yang terlihat tidak baik-baik saja. Kuseka airmata sialan yang tak pernah kering dari kedua mata. Dengkur Bapak terdengar hingga di ruang tamu tempat aku dan Mbak Lisa bicara. Bapak dan Moza kubiarkan istirahat. Mereka tak betah bermalam di rumah sakit. Moza berbaring di sebelah Bapak setelah berulangkali mencari Ayahnya ke seluruh sudut rumah. Moza merindukan laki-laki itu. “Dengar, Lis,” suara Mbak Lisa bergetar. “Aku tahu rasanya dikhianati. Sangat paham apa yang kamu rasakan. Tapi, apa dengan pergi dari dunia ini semua berakhir? Mungkin di dunia urusanmu selesai. Bagaimana pertanggungjawabanmu terhadap Allah? Kamu percaya surga neraka itu ada? Kamu percaya akhirat itu pasti datang, ‘kan? Urusanmu dengan Allah semakin panjang. Jangan mengambil jalan pintas merenggut nyawamu sendiri yang merupakan hak Alllah untuk mengambilnya!” Perempuan dengan hijab lebar hingga ke perut itu memandangku terenyuh. Aku kembali sesenggukan bagai anak kecil. Ternyata aku serapuh ini. Dari kemarin berusaha tegar dan tersenyum hanya di depan Bapak dan Moza, selebihnya aku laksana kayu kering yang terjemur panas dan hujan sekian lama. Keropos. Tak ada daya. Menit berlalu. Aku dan Mbak Lisa sama-sama terdiam. Mbak Lisa mengatur tarikan napasnya. Mbak Lisa perempuan mandiri yang kukenal. Ia seorang single parent. Meski tak pernah membicarakan kehidupan pribadinya, Mbak Lisa menghidupi ketiga orang anak tanpa didampingi suami. Suami pergi meninggalkannya karena terpikat perempuan yang jauh lebih muda. Anak Mbak Lisa dengan mantan suaminya cukup baik kukenal. Raka yang paling besar duduk di kelas 1 SMA, Nafa nomor dua kelas 6 SD dan si bungsu Naira selisih dua tahun diatas Moza. Meski begitu, Mbak Lisa jauh lebih baik hidupnya. Mbak Lisa sendiri tak kekurangan soal uang. Ia PNS. Pendidikannya tinggi. Jabatannya di kantor cukup mumpuni. Selain gaji ia juga punya penghasilan dari usaha kebun sawit dan karet milik orangtua yang ia kelola di luar kota. Jika dipikir-pikir, apa kurangnya Mbak Lisa sebagai seorang istri. Ia memiliki ilmg cukup. Cantik. Karir bagus. Anak-anak sehat. Toh, semua itu dirasa tak cukup untuk suaminya, ia memilih perempuan lain. Yang kudengar dari rekan kerja yang mengetahui sedikit tentang rumah tangganya, mantan suami Mbak Lisa terlibat affair dengan seorang perempuan yang ditemuinya saat menempuh pendidikan pasca sarjana. Ah, perselingkuhan memang tak kenal batasan. Mereka yang hidup berkecukupan dan punya status terpandang pun babak bingkas karena pengkhianatan. Bedanya, orang-orang seperti Mbak Lisa menyikapinya dengan elegan. Itu menurutku, karena ia tak gembar-gembor ke khalayak ramai. Sedangkan, Aku? Ah, beda sekali aku dengan Mbak Lisa. Jika ia begitu tenang menghadapi semua itu, aku begitu histeris dan murka. Tapi, siapa yang bisa menahan emosi jika berada di posisiku. Terlebih aku begitu mempercayai Mas Pram dan Teh Ririn. Bayangan kedua manusia laknat itu kembali menari-nari di benakku. Sebanyak apapun kutahan tapi perasaan sakit ini begitu menghimpit. Dadaku terasa sesak. Mbak Lisa mengusap sudut matanya dengan ujung jilbab. Ia tersenyum ke arahku. Lima tahun menjanda, hidupnya terlihat baik-baik saja. Dia punya segalanya. Harta, jabatan, dan orangtua yang lengkap. Aku mengigit bibir. “Kasus kita sama Lis. Bedanya Bang Fariz terang-terangan mengakui dan bersikukuh pergi. Anak-anak tak menjadi prioritas baginya. Meski aku memintanya tinggal tapi perempuan itu tak mau berbagi. Kami berpisah baik-baik, meski sebenarnya tak ada yang baik-baik saja di sini.” Mbak Lisa menunjuk dadanya, masih dengan senyum. Aku menatapnya dengan hati yang sulit dijabarkan. Mulutku terkunci. Kehilangan kata-kata. Sepi merayapi hati kami berdua. “Selanjutnya langkahmu bagaimana, Lis?” “Aku gak tahu, Mbak.” jawabku sambil memijit pelipis. “Aku masih fokus ke Bapak.” tambahku lagi. Sejujurnya aku bingung menentukan sikap. “Kamu ada niat bercerai?” Aku mendongak. Menatap Mbak Lisa. Menggeleng. “Aku gak tahu, Mbak.” “Hatimu, bagaimana?” Mbak Lisa kembali bertanya. Aku diam bagai orang linglung. “Lis, dengar. Kamulah yang paling tahu isi hatimu. Kamu marah dan sakit hati itu manusiawi. Kalau kamu memang berniat berpisah darinya buat laporan segera lalu gugat cerai. Tapi jika kamu berpandangan lain, kamu harus berdamai dengan hatimu juga keadaan. Dan, itu gak mudah. Gak banyak perempuan yang bisa mentolerir perselingkuhan. Terlebih kamu menyaksikan sendiri perbuatan mereka.” Aku menunduk. “Saya kasih kamu waktu seminggu. Nanti buat surat ijin tertulis, ya. Kamu harus berpikir jernih. Meski gak mudah, tapi kamu harus ambil keputusan. Coba sholat istikharah, minta petunjuk sama Allah.” Aku merenung, berhari-hari di rumah sakit aku hanya menangis dan menangis. Sama sekali tidak berpikir untuk ibadah. Ini kah yang membuatku semakin kacau? Selepas kepergian Mbak Lisa aku termangu. Tadi pak RT juga mengajakku bicara. Jika dibutuhkan beliau dan warga yang turut hadir pada saat kejadian bersedia memberikan kesaksian. Jika tidak ada laporan atau pengaduan dariku polisi tidak bisa memproses kasusnya meskipun jelas-jelas mereka berdua tak bisa berkelit. Tindak pidana perzinahan merupakan delik aduan yang hanya bisa di proses bila ada pengaduan. “Sebaiknya segera. Mereka harus diberi hukum karena telah mencemari komplek ini dengan berbuat asusila, warga tak terima dan marah. Saya sangat menyayangkan semua ini. Setahu saya Pram itu orang yang sopan. Walau pendatang, ia bisa membawa diri dan membaur dengan warga juga pemuda di sini tanpa sungkan. Tapi, semua keputusan ada di tangan Lilis.” Ucapan Pak RT terngiang-ngiang di kepala. Pikiranku berkecamuk. Aku memejamkan mata yang pedas. Kepala terasa begitu berat. Kata-kata Mbak Lisa yang meneduhkan timbul tenggelam dengan suara hati yang masih diliputi kemarahan. Belum sempat memejamkan mata, adzan zuhur menggema dari masjid. Aku tercenung mendengar adzan yang mendayu-dayu. Dengan menguatkan hati dan sedikit memaksa aku berjalan ke belakang. Kupanjangkan sujud terakhir. Kutumpahkan ketidakrelaanku pada apa yang terjadi pada Allah. Berlinang airmata aku mengadukan semua kekalutan ini. Jangan sampai aku mengambil jalan pintas seperti yang disampaikan Mbak Lisa. Aku bangkit menuju kamar Bapak dengan hati lebih tenang. Membangunkan beliau untuk sholat dan minum obat. Moza yang turut terbangun merengek minta digendong. Suhu badannya hangat. Ia kembali menanyakan Mas Pram. Aku dan Bapak saling pandang. “Nduk, sepertinya anakmu rindu sama Pram.” Inilah yang membuatku maju mundur mengambil sikap. Bukan tak ingin melanjutkan kasus ini ke ranah hukum. Tapi, aku memikirkan Moza. Ia teramat dekat dengan Mas Pram. Menuruti amarah, tentu aku ingin mereka merasakan dinginnya lantai penjara. “Bu. Ayah belum pulang?” tanya Moza dengan suara cadelnya. Aku menggeleng. Bahkan saat tidurpun ia kerap mengigau memanggil Mas Pram. "Ayah cama Bude kok, gak dateng-dateng." “Anak Ibu makan dulu, ya. Terus minum obat.” Ujarku dan disambutnya dengan anggukan. Tok! Tok! Tok! “Ada tamu, Nduk.” “Ya, Pak.” Aku bergegas ke depan membawa Moza dalam pelukan. Ketukan kembali terdengar, kali ini diiringi gedoran yang cukup kuat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD