Memaafkan? Aku Tak Bisa!

1132 Words
Emosiku berada di ubun-ubun saat ini. Laki-laki yang begitu kubenci berdiri di hadapan dengan wajah kuyu. Entah baju siapa yang dipakainya. Kondisinya mengenaskan. Kelopak mata sebelah kanan bengkak membiru, begitu juga pelipis, pipi dan dagu yang terluka. Dalam kondisi normal, aku pasti menyambut kehadirannya penuh sukacita. Tapi tidak untuk saat ini, aku ingin ia melesak saja ke perut bumi. “Dek,” paraunya, memelas. Aku benci sekaligus jijik melihat rupanya. Aku menutup pintu cepat. Tapi, tangan Mas Pram bergerak jauh lebih cepat. Tentu saja tenagaku jauh bila dibandingkan dengannya. Saat pintu berhasil ia dorong kuat, laki-laki itu memeluk kedua kakiku dengan tangis tertahan. Bahunya berguncang hebat. Rasa muak dan emosi menjadi satu. Di depan teras Kang Rahim turun dari motor. Kang Rahim salah satu tetangga yang dekat dengan Mas Pram. Rumahnya berjarak 200 meter dari rumah kami. Kang Rahim seorang PNS yang diangkat dari formasi honorer. Mas Pram dekat dengannya karena mereka sama-sama berasal dari Jambi, meski beda kabupaten. “Ayah! Ayah!” Moza berseru. Ia berusaha turun dari gendonganku. “Maafkan Mas, Dek! Maaf ... Mas benar-benar menyesal!” Aku berusaha melepaskan kedua kaki dari tangannya. Airmatanya hangat membanjiri jemari kakiku. Airmata buaya. “Lepas! Kau menji jikkan! Aku tak sudi tanganmu yang kotor menyentuhku!” aku berteriak. Laki-laki ini benar-benar tak punya malu. Dipikirnya aku akan memaafkan semua perbuatannya. “Ayah! Peluk Ayah, Oja kangen Ayah!” Lagi, Moza berusaha mendekati Mas Pram. Sekuat tenaga aku mendorong Mas Pram hingga hilang keseimbangan. Tangannya menahan tubuhku. Dengan cepat aku bergerak menjauh. “Kau kotor! Untuk apa ke sini? Pergi! Aku tak sudi melihatmu!" “Mas salah, Dek. Mas memang pantas dihukum. Tolong, maafkan Mas. Mas janji gak akan ulangi lagi. Mas benar-benar khilaf.” “Belasan bahkan puluhan kali kau menidurinya dibelakangku! Kau sebut itu khilaf? Dasar tak punya malu! Aku membencimu! Aku membenci kalian berdua!” teriakku kalap sambil meraih palang pintu, hendak menghajarnya. Moza menangis ketakutan. Bapak yang sedari tadi diam menarikku menjauh. “Ayah! Ayahh ....” Moza terus menangis. Mas Pram meraih Moza dan memeluknya erat. “Lepaskan anakku! Tanganmu kotor!” teriakku. Tak rela Moza dipeluk olehnya. “Nduk, tenang. Lihat anakmu ketakutan. Istighfar!” Bapak mengambil kayu panjang dari tanganku, meletakkanya di bawah meja. Kang Rahim masih berdiri di ujung teras. Tak berani lebih dekat. Ia tahu pasti laki-laki yang datang meminta tolong padanya ini bersalah. Kuyakin, Mba Dewi, istrinya pun bakal berang jika tahu Kang Rahim menolong laki-laki yang berstatus suamiku itu. “Lis, Akang tahu Pram salah. Tapi, masalah ini harus diselesaikan dengan kepala dingin. Semua sudah terjadi. Akang anter Pram kesini karena ia mengiba-iba siang dan malam. Ia janji akan berubah.” Aku mendengkus. Ayah dan anak itu masih bertangisan. Lima hari tak melihatnya kupikir hatiku sudah lebih kuat. Ternyata salah, hatiku masih berdarah-darah. Setelah memporakporandakan hatiku sedemikian rupa, ia datang merengek-rengek, minta dimaafkan. “Pergi! Aku tak sudi melihatmu! Tempatmu pulang di sana, bukan di rumah ini!” Tunjukku ke rumah perempuan pasangan zina-nya. Mas Pram menggeleng kuat. Wajahnya yang memelas sama sekali tak membuatku iba. Aku menarik Moza dari pelukannya, tapi gadis kecil berumur empat tahun lebih itu malah menolak. Tetangga mulai berdatangan. Satu dua mendekat ke pagar, mencuri dengar keributan. Semua sekat dalam rumah tanggaku habis menjadi tontonan. Video saat Mas Pram diarak bersama Teh Ririn masih bersliweran di medsos. “Kamu sudah makan, Pram?” tanya Bapak pelan. Kang Rahim mendekat. “Dari kemarin Pram nolak, Pak.” Terangnya. “Bapak benar-benar sudah sehat?” Bapak mengangguk. Kang Rahim bertanya sekedar memecah ketegangan. Bapak menarik napas sambil memandang Mas Pram dalam. “Mandi! Bersihkan badanmu, lalu makan. Setelah itu kita bicara__” “Pak!” potongku tak terima. “Aku tidak sudi ia di rumah ini. Aku ingin bercerai dengannya!” pekikku. “Deek! Maafkan aku, Mas benar-benar menyesal. Kamu boleh melakukan apapun, masukkan Mas ke penjara juga gak apa. Tapi, jangan minta cerai, Dek! Mas tak ingin berpisah dari kalian!” “Alasan. Dasar pendusta! Owh, aku paham sekarang kenapa berulangkali minta Bapak ikut Mas Jafar, biar kamu puas selingkuh, iya, kan? Kamu takut Bapak tahu belangmu! Allah itu gak tidur, Mas! Dengan caranya ia tuntun aku buat lihat sendiri kelakuan be jatmu! Cepat angkat kaki dari sini!” usirku. “Assalamualaikum!” Pak RT dan beberapa orang datang. Seketika halaman rumah dipenuhi warga dan tetangga yang kepo. Bu Siti merangsek ke depan. Jilbabnya dipakai asal-asalan. Sepertinya ia buru-buru datang. “Dasar ndak punya malu kowe Pram! Minta Lilis maafin salahmu? Mimpi!” “Dasar laki-laki me sum!!” “Usir, Lis! Usir dari sini!” Mas Pram tertunduk, tangannya melingkari Moza yang terus menempel padanya. Suara bernada pengusiran terus terdengar. Ada yang tertawa sumbang, mencemooh. Pak RT berdiri di tengah teras. “Tenang, Ibu-ibu, tenang. Kita gak bisa main hakim dan berbuat anarkis. Ini bukan kapasitas kita untuk menghakimi. Ini sudah urusan rumah tangga Lilis dan Pram. Semua keputusan ada ditangan mereka, kita tidak boleh memaksakan kehendak.” “Huuuuu!!!” Pak RT mengangkat tangan. “Saya minta semua menahan diri. Kita tak boleh mengintervensi urusan rumah tangga orang lain. Tapi, kalo ada kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi di sekitar kita, Bapak dan Ibu bisa melaporkan ke kami atau pihak berwajib. Paham Bapak Ibu semua?” Tak ada yang menjawab. Bisik-bisik terdengar dari kerumunan ibu-ibu yang menatap Mas Pram jengkel. “Lis, jadi perempuan jangan lemah. Jangan mau diinjak-injak sama laki model begini. Sekali selingkuh dia akan ulangi lagi!” Bu Siti berkacak pinggang seraya menunjuk Mas Pram. “Betul itu! Bo doh kalo kamu maafin dia!” teriak yang lain. “Iya. Mending banyak duit. Cuma pegawai honor aja bertingkah!” aku menunduk dengan wajah kelam. “Potong aja belalainya, Lis!” Ggrrrrr. Gelak tawa pecah di siang menjelang sore ini. Pak RT nampak mesem-mesem sambil berbisik dengan Pak Wardi. Bapak berjalan mendekati Pak RT. Pak RT mengangguk-angguk, sebelum bicara ke warga ia berdehem. “Bapak Ibu sekalian, karena hari semakin sore mari kita pulang ke rumah masing-masing. Ayo bubar! Bubar!” “Huuuu! Gak asyiik!” sahut seseorang. Warga terlihat enggan meninggalkan lokasi. “Bapak dan Ibu semua, maafkan mantu saya yang sudah buat masalah. Terimakasih atas perhatian yang sudah kami terima. Urusan selanjutnya biarlah kami yang menyelesaikan.” Suara Bapak bergetar. Beliau menahan malu yang tak terhingga karena ulah Mas Pram. “Lis, mending kamu jadi janda daripada punya suami tukang selingkuh! Selingkuhnya sama perempuan bersuami lagi!” dengkus Bu Siti sebelum beranjak pergi. Aku menahan napas. Pak RT menghela barisan orang-orang yang berkerumun untuk bubar. “Ririn ‘kan meski udah berumur tapi pinter ngerawat badan. Mungkin Lilis kurang merhatiin suami, makanya Pram cari pelampiasan.” Mataku sontak membulat mendengar ocehan orang-orang itu. Telingaku terasa panas. Dengan darah mendidik aku mendelik ke arah Mas Pram yang masih terduduk memeluk Moza. Tbc.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD