Begitu banyak ujian lain, bisakah aku memilih kesakitan selain pengkhianatan?
-------------
“Jangan tinggal sholat, Lis. Adukan semua masalah pada-Nya. Hanya dia tempat berkeluh kesah.” Suara Mbak Lisa menenangkanku.
“Bapak, Mbak.” keluhku. “Beliau memutuskan semua tanpa menghiraukan perasaanku.” Mbak Lisa menghubungiku malam ini. Aku mendapat ruang menuangkan kekalutan ini. Atasan yang mengikis jarak denganku itu menanyakan dokumen yang saat itu tercecer entah di mana.
Puasku mengingat di mana meninggalkan dokumen yang dibutuhkan Mbak Lisa. Tapi tak dapat mengingat detailnya. Semoga tidak disalahgunakan orang yang tidak bertanggungjawab. Kondisiku begitu kacau. Jangankan map berisi dokumen, malam Bapak dirawat di rumah sakit aku tak menyadari masih memakai seragam kerja hingga Bu Siti dan Bu Wardi membawa pakaian ganti keesokan harinya.
Kurasa Mbak Lisa memahami keteledoranku. Ia menanyakan keadaan kami. Kuceritakan huru-hara yang terjadi sore tadi.
Semua orang di luar sana tengah menertawakanku. Menertawakan kebodohan karena menerima kembali suami yang terang-terangan kedapatan selingkuh. Berzina dengan tetangga sendiri. Meski, itu bukan kehendakku. Keputusan Bapak bertentangan dengan hati nurani.
Entah dengan apa aku menutupi wajah ini. Tanggapan tetangga kanan kiri saja sudah menjatuhkan mentalku, belum pandangan dan komentar orang-orang di kantor.
Menjauhkan diri dari medsos. HP ku silent. Hanya panggilan Mas Jafar dan Mbak Lisa yang kuterima. Aku menangis pilu menumpahkan kepedihan kepada saudara satu-satunya itu.
Mas Jafar meminta bersabar. Semua menyuruh bersabar. Mereka tak tahu dadaku hendak meledak.
“Bingung mesti bagaimana. Aku begitu membenci Mas Pram saat ini. Tidak melihatnya berada disekitarku, itu lebih baik. Tapi, Moza dan Bapak membuatku serba salah.”
“Apa kira-kira yang membuat Bapakmu menerima Pram kembali?” sahut Mbak Lisa.
“Aku gak tahu, Mbak. Sepertinya Bapak merasa bersalah dan terbebani atas penyangkalan Mas Pram saat itu.” Mbak Lisa terdiam.
Jujur, aku benar-benar tak paham dengan pikiran Bapak. Sikap Bapak berbanding terbalik dengan keinginanku. Kemarahan Bapak kepada Mas Pram seakan lenyap. Mustahil Bapak tak tahu bagaimana sakit yang kusandang saat ini.
Aku tak bisa mendebat dan membantah Bapak mengingat pesan dokter. Sebisa mungkin menghindari Bapak dari stres juga memikirkan hal-hal berat. Semua itu akan membahayakan kesehatannya. Ini benar-benar membuatku ingin berteriak. Mas Pram, laki-laki itu. Betapa ingin aku mence kiknya biar dia paham bahwa aku benar-benar tak menginginkan kehadirannya.
Setelah tertidur sejenak menghilangkan sakit kepala, ba’da isya aku terbangun. Perih melilit di perut. Sejak siang aku belum menelan apapun. Dadaku berdentam kuat melihat Mas Pram menyuapi Moza sambil bercanda. Sontak kurebut Moza dari pangkuannya.
Aku bisa tak terkendali melihat laki-laki ini berkeliaran di sekitarku. Semua pakaian dan barang-barangnya telah kukemas saat kembali dari rumah sakit. Melihat pakaian dan barangnya pun enggan, Bapak malah menerimanya kembali.
Bisa jadi otakku sudah konslet. Melihatnya pikiranku otomatis ke Teh Ririn. Lalu meletup lagi d**a ini.
Membayangkan betapa lugunya aku. Selama ini aku dibohongi. Dicurangi tanpa menyadari kebobrokan mereka. Mengingat seringnya Mas Pram keluar malam dengan alasan lembur atau sekedar kumpul di pos ronda, amarah berkobar dengan sendirinya. Terlalu banyak waktu mereka berasyik masyuk di belakangku.
Mengutuki diri sendiri berulangkali.
“Sudah kuatakan! Jangan sentuh anakku. Masih kurang jelas?” desisku tajam.
“Ibu, Oja mau main HP sambil maem,” Moza menjawab dengan mulut penuh. Aku tak peduli. Dengan kasar aku menariknya menjauh. Bocah itu mulai menangis.
“Menjauh darinya Moza, dia bukan Ayahmu!” sengitku tajam. Meski tahu tindakanku tak benar pada anak sekecil Moza, aku tak mampu menahan kekesalan.
“Dek, jangan lampiaskan kemarahan pada anak kita. Biar Moza habiskan makanannya.”
“Diam!!!” pekikku lantang. “Siapa yang mengijinkanmu menyuapi anakku? Kau mandi kembang tujuh rupa pun tubuhmu masih penuh dengan kotoran!” bayangan ia bergu mul dengan Teh Ririn hadir kembali.
“Kau tak punya malu, hah?!” sengitku lagi. Jika bukan karena Bapak aku tak sudi berada satu atap dengannya. Laki-laki itu terdiam tak menjawab.
Bapak keluar dari kamar menenteng tasbih. Ia memberi kode kepada Mas Pram untuk menjauh. Laki-laki itu beranjak ke ruang tamu dengan Moza yang terus menangis.
“Mozaaa!!! Sini, sama Ibu!”
“Nduuk, sabar.”
“Katakan pada Lilis, Pak. Kenapa Bapak membiarkannya kembali ke rumah ini, setelah apa yang ia perbuat pada Lilis. Lilis ini sakit, Pak. Lilis sudah hancur. Lilis tak ingin melihatnya! Kenapa, Pak? Kenapaaaaa ... ?!!”
“Pelankan suaramu, Nduk. Cukup kita jadi tontonan dan omongan orang. Bapak ingin kamu menerima semua ini dengan lapang d**a. Bapak tahu, saat ini kamu tengah marah. Jangan memutuskan sesuatu saat sedang marah, nanti kamu menyesalinya.”
“Lilis gak akan menyesal, Pak. Semua sudah habis tak tersisa. Dia membakarnya dengan main gila bersama perempuan itu!”
“Pikirkan Moza, Nduk.”
Aku menggeleng. Tiba-tiba Bapak terisak-isak. “Maafkan Bapak, Nduk. Bapak bersalah padamu. Bapak bersalah pada kalian. Pram salah jalan karena selama ini kamu sibuk mengurus Bapak. Pram sudah janji untuk berubah, tidak mengulangi kesalahan yang sama. Dia khilaf.”
Pikiran Bapak sudah kena racun.
“Itu tidak benar, Pak. Bapak yang salah paham. Bapak percaya begitu saja pada ucapannya?”
“Bapak sudah tua. Bapak hidup gak akan lama. Bapak gak mau kamu hidup menjanda. Apa yang Bapak sampaikan ke almarhumah Ibumu. Sudah, Nduk. Maafkan Pram. Bapak mohon. Demi Bapak. Demi Moza.”
“Gak bisa, Pak. Gak semudah itu!”
“Nduk,”
“Lilis gak bisa, tolong Pak. Lilis ini bukan batu. Hati Lilis rapuh. Minta dia ceraikan Lilis, Pak! Suruh dia pergi!”
“Nduk! Sudah berapakali Bapak bilang, jangan ucapkan kata-kata itu!” Bapak emosi. Dadanya turun naik dengan cepat. Aaargghhh! Aku benar-benar bisa mati berdiri.
Dengan panik aku mendekati Bapak, menuntunnya duduk. Airmata menggenang dipelupuk mata tua itu. Bapak menarik napas panjang.
Mengusap punggung Bapak lembut. Amarahku dipaksa meredup, kesehatan laki-laki yang kukasihi ini begitu labil. Ketakutan terbesarku saat ini, kehilangan Bapak. Aku tak mau itu terjadi.
Namun, bagaimana bisa Bapak bersikap sebaik ini pada laki-laki yang telah menyakitiku. Laki-laki yang kerapkali mengomeli dan membentaknya ketika ia mengeluhkan sakit. Laki-laki yang perhitungan, tak rela uangnya kugunakan untuk biaya berobat Bapak.
“Lilis perempuan, Pak. Bapak gak tahu bagaimana rasanya jadi Lilis!” lirihku setengah terisak.
“Karena kamu perempuan, Nduk. Bapak gak ingin kalian cerai. Mas mu juga hidupnya tak lebih baik. Dia punya keluarga yang harus dinafkahinya. Kamu gak bisa bergantung padanya. Insyallah, Pram benar-benar akan menepati janjinya. Bapak lihat kesungguhan di matanya. Ia benar-benar menyesal. Kesalahan sebesar apapun jika bertobat dan menyesalinya, Allah akan memberi jalan hidayah. Maafkan dia, biar hatimu juga lapang.”
“Lilis mampu hidup sendiri, Pak. Lilis mau menyerah saja.” Bisikku.
“Kasihan sama Bapak, Nduk. Anak-anak Bapak gak boleh ada yang cerai.” Bapak merengkuhku, napasnya pendek-pendek.
Jika sudah begini, tak bisa aku bersikeras lebih lanjut.
Begitu banyak ujian lain, bisakah aku memilih kesakitan selain pengkhianatan? Hatiku merepih dalam kesunyian.
Bersambung.