Badai dan Gunjingan

1221 Words
Tak ada lagi yang tersisa. Bapak tempat berkeluh kesah memilih memaafkan Mas Pram dan menerimanya kembali ke rumah ini. Bapak ... mengapa membuatku di posisi sulit? Imbasnya kupaksa Moza masuk tidur lebih cepat meski anak itu ingin menonton TV. Mas Pram yang dapat angin dari Bapak hendak menahan Moza. Ia tertunduk melihat bola mataku seolah hendak keluar dari tempatnya. Kututup pintu kamar dengan kasar. Gunjingan dan cemoohan tetangga menjadi-jadi di hari berikutnya, kucoba jelaskan keadaan yang sebenarnya. Bapak yang memaksa. Apa mereka percaya? Kurasa tidak. Mereka tertawa dan mencibir habis-habisan. Perempuan bodoh. Lemah. Tak punya pendirian, disematkan padaku. Aku bisa apa? Hanya menangis, memburai airmata. Memilih berdiam diri di kamar sepanjang hari. Aku begitu tertekan. Di luar orang-orang mengolokku sedangkan di dalam rumah aku menjalani detik demi detik dengan hati membara. Rumah tempat bernaung, kini terasa panas. Seolah ada nyala api yang membakar habis hatiku. Bapak tak pernah ke masjid sejak kejadian itu. Selama ini jika sehat Bapak selalu sholat berjamaah ke masjid. Kebiasaan itu berhenti. Bapak menghindari bertemu orang-orang yang kepo tentang rumah tanggaku. Laki-laki yang masih berstatus suamiku itu menempati kamar belakang, berdekatan dengan dapur. Ia hanya berinteraksi dengan Moza. Kuperhatikan dalam diam, Bapak bicara seperlunya dengan Mas Pram. Aku sangat heran dengan Bapak. Aku tidak diperbolehkan bercerai padahal ia pun menyimpan kebencian kepada Mas Pram. Apa iya sebegitu khawatir dan malu jika anaknya menjadi janda? Hari ke-empat di rumah aku memutuskan masuk kerja. Memilih menghadapi semua. Tak bisa hanya berdiam diri. Menunggu nyinyiran mereka berhenti? Pagi aku memasak untuk Bapak dan Moza. Beras yang tersisa satu liter, hanya cukup untuk esok hari. Uang simpananku yang tak seberapa habis untuk biaya makan dan minum selama di rumah sakit. Lengkap sekali penderitaanku kali ini. Sakit hati, marah, kecewa, malu dan berbagai macam pikiran buruk lainnya bercampur aduk, plus tak punya uang sepeserpun. Di tambah si pembuat masalah ada di depan mata membuatku ingin menelan Mas Pram hidup-hidup. Susu Moza sudah habis dua hari yang lalu. Dari pada berdiam diri di rumah merenungi nasib dan mengumbar kemarahan pada laki-laki tak tahu diuntung itu, aku memutuskan kerja dengan sisa bensin yang ada. “Berangkat kerja, Lis? Hebat kamu ya, orang lain mungkin sudah gantung diri ngadepin masalah ini. Lah, kamu masih mikirin kerjaan!” baru mengeluarkan motor sudah ada yang berkomentar. “Ya, Mbak. Dari pada suntuk di rumah.” balasku. “Rasanya mau makan orang!” mbak Selli terkikik. Ia pulang dari warung. “Enak bener jadi Pram! Punya bini sabar dan tahan banting kayak kamu. Awas, Lis. Jadi tuman selingkuh!” Komentarnya kujawab dengan menarik ujung bibir segaris. Percuma berbusa-busa mulutku menjelaskan. Toh, mereka tetap berkeyakinan bahwa aku perempuan yang bucin pada suami. Kulajukan motor cepat sebelum ibu-ibu yang lain keluar dan menerorku. Sepertinya Mbak Selli begitu perhatian pada hidupku setelah kejadian itu. Motor ini sejatinya Bapak belikan untukku. Sisa uang Bapak menjual kebun miliknya untuk biaya perawatan Ibu di rumah sakit. Saat Ibu sakit tidak tercover BPJS. Mati-matian Bapak dan Mas Jafar mencari pinjaman. Akhirnya, kebun yang luasnya tak seberapa terjual. Kebun melayang begitu juga dengan napas Ibu yang tak bisa bertahan dalam sakitnya. Mengingat ini, hatiku tersayat-sayat. Almarhumah Ibu menentang keinginanku untuk menikah dengan Mas Pram. Ibu tak mengatakan alasannya. Jika Ibu tahu kesakitan yang kugenggam saat ini, tentu Ibu takkan bisa mentolerir sikap Mas Pram. Aku memacu motor dengan kecepatan sedang. Ramainya kendaraan yang berlomba saling mendahului membuat macet di sejumlah titik. Kuhirup dalam udara pagi. Bekerja semoga mengurai kekalutan. Meski pesimis bisa hidup dengan baik setelah badai ini, awan hitam membayangi kemana aku pergi. Sepanjang jalan mencoba mengenyahkan beban dan himpitan di d**a. Tapi tak bisa. Sesak datang dan pergi seiring suasana hati yang tak kunjung membaik. Kurangkai potongan demi potongan peristiwa yang terjadi antara aku dan Mas Pram sebelum ini. Keributan kecil yang diciptakan Mas Pram agar Bapak turut Mas Jafar. Keluhannya pada tubuhku yang bau minyak dan balsam. Hingga menyatakan aku tak pandai mengurus diri. Semua itukah pencetusnya? Sejak kapan persisnya Mas Pram tergoda? Sejak perempuan itu menawarkan diri mengasuh Moza? Atau sebelumnya mereka sudah ada main? Cintakah Mas Pram pada Teh Ririn? Atau sekedar napsu? Aku memejamkan mata. Khilaf? Benar-benar tak bisa menerima alasan itu. Khilaf kok ketagihan. Ternyata selama ini aku hidup bersama buaya. Angin pagi menerpa wajah terasa dingin meski kepala terbalut helm. Saat pikiran terbang melalangbuana, aku tersentak ketika sebuah pajero sport putih datang dari arah berlawanan. Pemilik kendaraan itu membunyikan klakson kencang. Aku gugup. Kutarik rem dengan kencang, tapi terlambat. Braaaakkk!! Sempat berteriak saat motorku jatuh dan menggelosor di aspal. Masih untung tidak tertimpa badan motor. Untungnya lagi jalan yang kulalui tidak terlalu ramai. “Mbak, gapapa? Bisa bangun sendiri?” seorang laki-laki paruh baya berlari mendekati. Aku menggangguk mencoba bangun. Nyeri di area lutut membuatku meringis. Pakaian kerja yang kukenakan robek, lutut berdarah. Tak hanya itu, telapak tangan, siku bagian kanan lecet. Pinggulku nyeri. Suasana menjadi ramai. Orang-orang berkerumun. Pemilik mobil harga ratusan juta itu keluar, memeriksa mobilnya. Tertatih aku menuju motor yang dipindahkan warga ke bahu jalan. Hatiku mencelos melihat kondisi motor yang ringsek lumayan parah. “Mbak ini bagaimana. Kalau punya masalah gak usah bawa kendaraan. Membahayakan orang lain.” Pemilik mobil bersuara. Nadanya marah. Aku menatap pria setengah baya yang melihatku dengan raut tak suka. “Sabar, Pak. Musibah. Mbak ini luka. Apa gak sebaiknya dibawa berobat.” “Dia yang salah. Jelas-jelas tadi sen kanan, kenapa belok ke kiri? Mobil Bos saya juga lecet tuh!” Aduh! Aku memang tak fokus berkendara. “Maafkan saya, Pak! Saya yang salah.” Tak ingin memperpanjang aku berniat pergi. Biarlah, urusan motor yang ringsek dipikirkan nanti. Khawatir ada warga yang lapor polisi dan urusan menjadi ribet. “Eh, Mbak! Mau kemana? Enak saja mau pergi. Bos saya mau bicara.” Matilah aku. Mereka pasti minta ganti rugi. Sekilas kulihat mobil mahal itu tergores. “Maaf, Pak. Saya buru-buru. Saya salah. Saya minta maaf. Tapi gak usah bawa-bawa polisi.” Pintaku memelas. “Ada bengkel sekitar sini? Tolong bawa motor itu biar di periksa?” suara itu membuatku mengangkat kepala. Mataku memindai laki-laki dewasa yang mendekat padaku. Langkahnya panjang-panjang. Dia mengenakan kemeja hijau di padu celana berwarna gelap. Melihat penampilannya mungkin dia seorang pebisnis tajir yang terjebak kecelakaan di pagi nahas ini denganku. “Ada, Pak. Dua ratus meter dari sini ada bengkel motor, tapi belum buka__” Seseorang menyahut. “Sa-saya gak apa-apa, Pak! motornya biar saya bawa. Yang penting bisa hidup.” aku memotong pembicaraan biar segera pergi dari sini. Laki-laki dengan kulit cerah dan wajah ramah itu melihatku sejenak. Pandangannya turun ke lutut dan sepatuku yang ternyata rusak beradu aspal. Aku salah tingkah, dengan tangan menutupi lutut yang masih berdarah. “Mbaknya luka, meski gak parah tetap harus diobati.” Sahutnya. Laki-laki bertubuh proporsional itu berbicara dengan sopir yang tadi marah kepadaku. “Ada tukang ojek?” tanyanya pada orang-orang yang berkerumun. Seseorang mengacungkan tangan. “Tolong antar Mbak ini berobat. Ke klinik atau tempat lain. Saya terburu-buru.” Laki-laki menyodorkan lembaran merah kepadaku. Mataku membesar. “A-apa ini?” “Uang. Untuk ganti rugi.” “Ta-Tapi, Pak?” Dia menghela napas. “Tolong jangan dipersulit. Saya ada meeting pagi. Mbak berobat sendiri. Motornya nanti sopir saya yang bawa ke bengkel. Lain kali hati-hati.” Aku terpana. Laki-laki itu berlalu begitu saja setelah meletakkan lembaran merah ke genggamanku. Ya Allah, ini berkah atau musibah?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD