Luka yang kudapat tidak terlalu serius. Tapi, orang-orang di tempat itu memintaku segera memeriksakan diri takut ada hal-hal yang tak diinginkan. Abang ojek yang diminta laki-laki itu setengah memaksa mengantarku, aku mengalah. Berboncengan kami menuju Puskesmas. Perkara motor, sopir pemiik pajero akan menghubungiku jika selesai diperbaiki. Allah mempertemukanku dengan orang baik.
“Awww, pelan-pelan, Sus.” lirihku saat perawat Puskesmas membersihkan luka di lutut dan kaki dengan antiseptic.
“Kepalanya terbentur, Bu?”
“Gak, Sus. Tapi, punggung sebelah kanan terasa nyeri.” Keluhku. Rasa sakit itu baru terasa dalam perjalanan menuju Puskesmas. Saat jatuh memang tubuh sebelah kanan lebih dulu mencium aspal.
“Ini memar karena terbentur. Di rumah Kompres air dingin, ya. Nanti diberi obat memar.” Aku mengangguk.
Setelah mendapatkan salep memar, pereda nyeri dan antibiotik, aku diperbolehkan meninggalkan Puskesmas. “Obatnya di minum teratur ya, Bu. Semoga cepat sembuh.” Ingat perawat itu ramah. Aku mengucapkan terimakasih.
“Ada yang serius, Mbak?”
“Alhamdulillah gak, Bang.”
“Syukurlah. Ayok, saya anter pulang.”
“Anter ke tempat kerja, Bang.” Sahutku seraya duduk diboncengan Abang ojek. Orangnya baik dan sopan.
“Bukannya Mbak harus istirahat?”
“Saya baik-baik aja. Udah berobat juga. Bapak yang punya mobil terlalu baik. Saya dikasih uang, motor diperbaiki. Padahal saya yang salah.”
“Ketemu orang baik. Empat bulan yang lalu saya di tabrak dari belakang. Sampai sekarang pelakunya gak tanggungjawab. Saya luka-luka, motor hancur, mana masih kredit lagi.”
“Ya Allah, Bang. Terus ini motor siapa?” tanyaku merasa prihatin. “Punya adik. Kebetulan dia dapat shift siang, jadi bisa saya pakai dulu cari uang. Saya berburu waktu, biar anak istri bisa makan.” Dibalik punggung abang ojek ini aku merasakan semangatnya mencari nafkah untuk keluarga. Dia bekerja keras mengais rupiah. Matahari bersinar dengan terang. Sepanjang jalan aku banyak bertanya tentang keluarganya.
Aku teringat Mas Pram. Sontak hati terasa perih. Sebelum kebejatannya terbongkar, aku menganggap Mas Pram laki-laki terbaik yang kukenal. Ia juga gigih mencari nafkah meski akhir-akhir ini menjadi perhitungan kepada Bapak. Dulu, aku merasa beruntung menjadi pasangan hidupnya. Sekarang, semua kebanggaanku padanya hilang diterbangkan angin.
Kuselipkan selembar uang yang diberikan laki-laki pemilik pajero tadi. Dia orang kaya yang baik hati. Mungkin tak enak hati tak bisa mengantarku berobat. Ia memberi terlalu banyak. Berobat di puskesmas juga gratis karena ditanggung BPJS. Mengantongi uang sejumlah itu membuatku merasa mendapat doorprize karena tak sepeserpun memegang uang, padahal kecelakaan itu terjadi karena kesalahanku.
Laki-laki itu dikirim Allah untuk menyadarkanku. Aku terlalu banyak mengeluh. Saat kecelakaan tadi aku pun merutuk dalam hati, merasa Allah tak henti memberikan ujian. Aku kerap berprasangka buruk, semoga Allah mengampuniku.
Abang ojek mengucapkan terimakasih berulangkali. Awalnya ia menolak, minta dibayar sesuai dengan jasa yang ia berikan. Tak urung matanya berkaca-kaca saat kukatakan rezeki itu memang untuknya hanya melalui tanganku. Rezeki yang dititipkan Allah untuk kami melalui laki-laki penuh kharisma tadi.
Sedikit tertatih aku berjalan memutar ke pintu masuk bagian belakang. Pereda nyeri yang kuminum mulai bekerja. Nyeri di lutut, telapak tangan dan punggung mulai berkurang. Jam di HP menunjukkan pukul sembilan pagi. Seisi kantor tengah sibuk di balik meja kerja masing-masing.
“Loh, loh, Lis? Kok ngantor?” Reni menyapa. Ia nampak terkejut.
“Iya,” jawabku pendek. Rekan kerja sesama honorer itu mendekat. Meneliti wajahku. Aku tersenyum tipis. Ruangan ini terdiri dari tujuh orang. Lima orang PNS, dan dua orang tenaga honor, yaitu aku dan Reni.
Pekerjaan utama kami membantu semua PNS di bidang ini sesuai apa yang diperintahkan. Kami mengerjakan apa saja yang disuruh. Mulai membuatkan kopi, merapihkan file pada folder sesuai kode pengarsipan, mencatat dan mengadministrasi surat, menggandakan berkas hingga membelikan makan siang. Selebih itu kami bisa mengerjakan tugas-tugas diluar urusan kedinasan. Tujuh tahun bekerja di ruangan yang sama, kami seperti keluarga. Mbak Lisa contohnya. Dia Kepala Bidang yang mengomandoi kami, dibawahnya terdapat dua orang Kepala Seksi. Perlakuannya kepadaku seperti saudara, padahal jika ditilik aku hanya tenaga honor yang tak ada artinya.
Mejaku dan Reni terletak di dekat pintu masuk. Ruang kerja berukuran 8x6 meter ini dipenuhi lemari arsip yang berisi dokumen kependudukan. Aku bekerja di instansi pemerintah yang mengurus hal itu.
“Suami lo udah di penjara?” Reni bertanya setengah berbisik. Aku menggeleng. “Ada di rumah.”
“Gak lo laporin?”
Aku menggeleng. Percuma menceritakan bahwa semua keinginan Bapak.
“Bodoh!” desisnya. Wajah Reni mengeras menatapku. “Lo takut? Ayok, gue temenin.”
Aku menarik napas sambil membuka buku agenda. “Gak begitu ceritanya. Udahlah. Makanya gue maksa kerja, dari pada di rumah ngebunuh orang.”
“Gue gak nyangka Lo selemah ini.” Reni memukul mejaku. Dia turut Mbak Lisa menjenguk Bapak di rumah sakit di hari kedua Bapak di rawat. Reni begitu emosi mendengar semua yang menimpaku. Ia berulangkali berpesan untuk melaporkan Mas Pram ke polisi.
“HP lo sengaja di matiin, kan?” suaranya terdengar gemas. Aku diam saja. “Tangan lo, kenapa?” aku mengaduh saat Reni menarik tanganku paksa.
“Kecelakaan dikit tadi.”
“Astaghfirullah, Lilis! Ada ya orang sebodoh elo! Harusnya gak usah ngantor! Harusnya lo seret si Pram masuk bui!” geramnya. Aku diam tak bersuara. Seperti katanya, aku memang bodoh.
Reni menelitiku dari atas ke bawah, reflek kututup seragam yang robek. Bercak darah yang kubersihkan terlihat samar di beberapa bagian. Dia kembali mengocehiku. Sorot matanya berubah-ubah. Antara marah dan kasihan.
“Ketemu orang baik tadi. Gue dikasih duit suruh berobat.”
“Motor, lo?”
“Di bengkel.”
“Ckckckck. Lo perlu di ruqiyah.” Reni menggelengkan kepala. “Pengen gue sate si Pram. Dasar gak tahu diri!”
“Udah, sana jauhan. Gue mau kerja“ usirku. Seraya meromet panjang pendek Reni kembali ke mejanya. Ia masih menatapku dengan pandangan jengkel. Berhari-hari aku mengabaikan pesan dan telepon-nya.
Hingga menjelang siang penghuni ruangan hanya kami berdua. Mbak Lisa dan semua PNS ke ruang rapat mengikuti sosialisasi. Aku membuka satu persatu map di atas meja yang menumpuk, menginputnya pelan-pelan ke PC. Sengaja menyibukkan diri. Lari dari masalah. Juga, menghindari ocehan Reni.
Bekerja dibawah tatapan dan pertanyaan orang-orang dikantor membuatku begitu lelah. Meski mereka telah banyak mendengar dan melihat video yang di share berulang-ulang di medsos, nyatanya semua ingin mendengar kejadian itu langsung dari mulutku. Memang ada orang-orang yang begitu peduli pada masalah dan urusan orang lain. Entah itu sekedar bentuk simpati, penasaran atau untuk diceritakan kembali pada orang lain.
Aku menjawab pendek, menggeleng atau mengangguk. Reaksi yang mereka tunjukkan serupa seperti Bu Siti, Mbak Selli, Bu Wardi juga Reni. Menyayangkan sikapku yang tidak melaporkan perbuatan zina Mas Pram.
“Kamu masih waras, Lis? Atau pura-pura berjiwa besar?” Bu Inez, PNS berumur 50 tahun mendelik saatku bilang Mas Pram di rumah atas keinginan Bapak.
“Mau bagaimana, Bu. Saya mengkhawatirkan kondisi Bapak. Beliau tidak mengijinkan saya menuntut cerai.”
“Kamu manut?” cecarnya setengah berteriak. Aku diam.
“Ada sepuluh perempuan seperti kamu, laki-laki di dunia ini semakin besar kepala. Percuma koar-koar di medsos kalo akhirnya masih tinggal satu rumah!” Bu Inez meninggalkanku dengan wajah merah. Aku menelan ludah. Pandangan semua pegawai itu mengintimidasiku.
“Kamu yakin bisa hidup normal setelah ini?”
“Kamu cinta apa bodoh, Lis?”
Rasanya aku ingin berteriak.
“Suamimu itu pendiam, loh. Gak nyangka suka sama perempuan bersuami. Denger-denger lebih tua sepuluh tahun, ya?”
“Kamu gak jijik? Kalo aku mending cerai!”
“Kamu takut Bapakmu sakit? Tapi Bapakmu gak sadar kalo kamu juga sakit karena dikhianati. Banyak-banyak zikir, Lis, biar kamu tetap waras.” Kali ini Bu Linda yang pendiam bicara.
Ruangan dipenuhi seluruh pegawai perempuan di kantor ini. Ada yang mengumpat, menyumpahi Teh Ririn. Tapi lebih banyak menyalahkan Mas Pram yang tak punya pendirian. Aku menulikan telinga.
“Lis, ke ruangan saya!” Mbak Lisa memanggilku, suaranya terdengar berbeda. Dengan was-was aku bangkit dari duduk. Ketika aku menuju ruangan Mbak Lisa, mata mereka tertuju kepadaku.
“Gimana gak selingkuh lakinya. Dia masih muda tapi tampilannya kayak umur 40-an!”
“Iya, juga, sih!”
“Jadi, gak salah si Pram aja! Laki mah, wajar pengen yang bening-bening mengkilat. Makanya jadi perempuan jangan males dandan!”
Mataku memanas. Ada yang bergolak dalam d**a. Dengan langkah gontai melangkah ke ruangan Mbak Lisa.