Part 11 Sepertinya ada hal penting yang akan ditanyakan Mbak Lisa padaku. Tapi hingga sepuluh menit aku duduk di ruangan ber-AC yang sejuk ini, Kepala Bidang yang kerap kusapa ‘Mbak’ itu fokus pada pekerjaannya. Mbak Lisa yang terkenal dermawan serius menekuri berkas yang bertumpuk di meja kerjanya. “Ada yang bisa Lilis bantu, Bu?” aku berinisiatif bertanya. Di luar jam kerja kami bisa bicara tanpa sekat, tapi di jam kantor seperti ini aku berusaha menempatkan diri dengan baik. Meski tak masalah bagi Mbak Lisa dipanggil ‘Mbak’, aku juga Reni selalu memanggilnya Ibu bila di kantor. Kami tak ingin dianggap tak sopan meski itu masalah sepele. Mbak Lisa seolah tak mendengar. Sekarang ia sibuk berbicara dengan seseorang di telepon. Aku tersadar Mbak Lisa sengaja menyelamatkanku dari koment

