Akhirnya Lulus Juga
Puncak Merapi pagi itu tampak begitu agung, seolah sengaja bersolek untuk merayakan hari besar Lestari. Dari teras rumahnya di Desa Srunen, Lestari menghirup dalam-dalam udara dingin yang menusuk tulang. Langit biru bersih tanpa noda, membuat kepulan asap putih kecokelatan dari kawah Ketandan terlihat jelas merayap ke angkasa sebuah pemandangan yang bagi orang kota mungkin menakutkan, namun bagi Lestari, itu adalah napas ibunya, napas tanah kelahirannya.
Hari ini adalah puncaknya. Setelah empat tahun berkutat dengan mikropipet, deretan kode DNA, dan dinginnya laboratorium Biologi Molekuler di UGM, Lestari akan resmi menyandang gelar sarjana.
"Nduk, kebaya-mu sudah rapi?"
Suara ibunya memecah lamunan. Ibunya berdiri di ambang pintu, wajahnya yang mulai berkerut tampak bersinar lebih terang dari biasanya.
Lestari tersenyum, merapikan sanggul kecilnya yang masih setengah jadi.
Di meja kayu tua di sampingnya, ponselnya tak henti-hentinya bergetar. Layarnya menyala berkali-kali, menampilkan notifikasi pesan dan panggilan masuk.
“Selamat ya, Tari! Calon ilmuwan genetik kebanggaan Srunen!”
“Sukses wisudanya, Lestari! Ditunggu kontribusinya untuk riset pangan kita!”
Suasana di grup w******p angkatannya jauh lebih riuh. Teman-temannya di Yogyakarta sana sedang sibuk luar biasa. Melalui unggahan status, ia bisa melihat kawan-kawannya sedang memegang ponsel dengan tangan gemetar karena haru, menerima telepon dari orang tua di seberang pulau, atau sibuk berpose selfie dengan latar Grha Sabha Pramana yang ikonik.
Namun bagi Lestari, perayaan ini terasa berbeda. Srunen adalah desa yang sunyi di lereng gunung Merapi, namun pagi ini, kesunyian itu terasa megah. Sambil memoles gincu tipis di bibirnya, ia menatap ke arah gunung sekali lagi.
"Merapi saja merestui, Mbok," bisiknya pelan.
Lesttari paham betul bahwa perjalanannya baru saja dimulai. Gelar dari fakultas bergengsi itu bukan sekadar kertas, tapi kunci untuk membawa ilmu molekuler yang ia pelajari kembali ke lereng gunung ini untuk tanaman-tanaman di tanah vulkanik ini, untuk masa depan warga dusun Srunen.
Di kejauhan, bunyi klakson mobil sewaan terdengar. Mobil itu yang akan membawanya turun dari pelukan Merapi menuju riuhnya lembah Bulaksumur. Lestari mengambil ponselnya, mematikan layar yang penuh ucapan selamat itu, lalu menggenggam tangan ibunya erat-erat.
Mobil jeep tua itu mulai merayap turun dari lereng Srunen. Di dalamnya, Lestari duduk bersampingan dengan Pak Kerto dan Si Mbok Kasiyem. Lestari menatap telapak tangannya yang halus karena sering memakai sarung tangan laboratorium, namun ia tak pernah lupa bahwa di bawah kehalusan itu, ada bekas kapalan tipis akibat bertahun-tahun membantu Si Mbok mencuci kedelai di baskom besar yang dingin.
Ingatannya melayang pada rutinitas subuh di rumah mereka. Sebelum berangkat kuliah ke Bulaksumur, tugas utama Lestari adalah memastikan tumpukan daun pisang dan daun jati serta tali dari kedebog pisang sudah siap untuk membungkus calon tempe.
Si Mbok paling anti menggunakan plastik; katanya, tempe daun pisang dan daun jati ini rasanya lebih gurih produk ini adalah nyawa keluarga mereka sejak bertahun-tahun dan sudah menjadi produksi turun temurun.
"Nduk, nanti kalau sudah pakai baju toga, jangan lupa foto yang banyak. Biar bisa dipajang di ruang tamu, dekat foto Bapakmu itu dulu saat membangun balai desa kampung kita ini "
Celetuk Pak Kerto sambil membetulkan peci hitamnya. Beliau memakai baju koko putih bersih, terlihat gagah meski garis-garis kelelahan sebagai tukang bangunan dan petani tak bisa disembunyikan.
Lestari tersenyum getir sekaligus bangga. Ia ingat betul bagaimana Arimbi, adiknya yang semester tiga, sering belajar di bawah remang lampu pawon sambil membantu Lestari mengikat bungkusan tempe.
Beruntung, Arimbi cerdas dan mendapat beasiswa dari perusahaan minyak, setidaknya satu beban biaya kuliah terangkat dari pundak Pak Kerto.
"Lestari bakal berusaha cepat dapat kerja, Pak, Mbok. Biar Andini yang mau naik kelas tiga SMA nanti tenang. Apalagi si kembar Bagas dan Bagus," ujar Lestari tulus.
Si kembar, Bagas dan Bagus, sedang duduk di kursi belakang sambil bercanda riuh. Meski baru kelas empat Madrasah Ibtidaiyah atau setingkat SD, mereka sudah paham tanggung jawab.
Pagi tadi, sebelum mandi, mereka sudah lebih dulu masuk ke kandang domba di belakang rumah untuk memberi pakan kulit kedelai sisa kemarin, lalu membantu Bapak mengumpulkan ranting kering untuk bahan bakar pawon. Bagi keluarga ini, kebahagiaan bukan pada kemewahan, tapi pada suara tawa dan kebersamaan di antara kepulan asap dapur dan aroma kedelai rebus.
༻❁༺
Saat Lestari hendak melangkah menuju jeep tua di halaman, angin dingin tiba-tiba berembus lebih kencang dari sebelumnya. Padahal sejak pagi udara begitu tenang. Daun-daun bambu kuninng di belakang rumah mendadak bergesekan keras, menimbulkan suara gemerisik panjang yang aneh. Beberapa ayam di kandang bahkan berlarian sambil mengepak liar, seolah ketakutan pada sesuatu yang tak terlihat.
Lestari menoleh bingung. Langit masih biru bersih.
Namun di atas puncak Merapi, awan gelap perlahan membentuk pusaran memanjang seperti ular raksasa yang sedang melata di langit. Pak Kerto mendadak terdiam. Sorot matanya berubah samar.
“Kenapa, Pak?” tanya Lestari pelan.
Pak Kerto menggeleng cepat, berusaha tersenyum.
“Tidak apa-apa.”
Tetapi Si Mbok Kasiyem justru tanpa sadar menggenggam lengan baju Lestari lebih erat.
“Biasanya kalau Merapi memberi tanda begini…” gumamnya lirih, “…akan ada orang yang pergi jauh.”
Suasana mendadak sunyi.
Hanya suara burung gagak yang entah dari mana terdengar melintas sekali di atas rumah mereka.
Kraaak…
Kraaak…
Si kembar yang sedari tadi bercanda pun ikut mendongak ke langit.
Lestari mencoba tersenyum kecil untuk mengusir rasa aneh yang tiba-tiba mengganjal di dadanya.
“Mungkin cuma mau hujan, Mbok.”
Di lereng Merapi, orang-orang tua percaya alam tidak pernah memberi tanda tanpa alasan.
Dan pagi itu, seolah Merapi sedang berbicara.
Saat jeep tua itu perlahan menghilang di tikungan lereng Srunen, Lestari masih percaya hidupnya akhirnya akan membaik setelah wisuda.
Namun,
Ia belum tahu…
dunia sedang menyiapkan luka yang akan menyeretnya pergi jauh dari rumah,
dari keluarganya,
dan dari dirinya yang dulu.