''Papa!'' teriak Bianka di ambang pintu. Bram dengan santai mengangkat pandangan menatap Bianka sejenak, lalu membaca koran kembali tak mengindahkan kehadiran anak semata wayangnya, seolah tak mendengar suara apapun. ''Papa,'' ucap Bianka duduk di sebelah Bram sambil menguncang bahunya.
''Masih ingat pulang?''
''Papa kok tega banget, sih semua credit card diblokir. Kalau aku kenapa-kenapa diluar gimana?''
''Buktinya kamu gak pa-pa. Sehat-sehat aja,kan? Percuma kabur kalau masih mengandalkan uang Papa.''
''Papa emang gak pernah sayang sama aku. Kenapa, sih, papa jahat. Bianka gak mau dijodohin, pa,'' rengek Bianka mencoba untuk mengubah keputusan Bram dengan memasang wajah sesedih mungkin, seperti anak yang teraniaya.
''Semua keputusan ada di kamu kok. Papa gak akan memaksa lagi. Oke lah Papa harus keluar ada janji mau main golf, tapi ingat satu hal semua fasilitas akan Papa cabut kecuali biaya kuliah, tiap hari akan ada supir yang antar jemput. Oh, iya satu lagi uang jajan akan dikasih tiap minggu cash.''
Bram menatap jam dipergelangan tangannya, melipat koran di meja lalu beranjak dari duduknya melengang santai keluar rumah. Tak mempedulikan rengekan Bianka yang terus protes, seharusnya aku tegas dari dulu. Jadi, Bianka gak akan jadi anak seperti sekarang. Salahku yang terlalu memanjakannya dan terlalu sibuk dengan urusan sendiri.
''Papa ... ihgt ngeselin!'' rajuknya menghentakkan kaki ke lantai, melihat Bram yang acuh padanya.
Sebenernya aku anaknya bukan sih? Tega banget numbalin anak sendiri, dipikir ini jaman Siti Nurbaya. Paling buat kepentingan bisnisnya aja, dasar lagu lama,'' gumam Bianka terduduk di kursi single sambil terus mencari cara untuk menggagalkan pernikahan.
***
Bianka duduk di kelas sambil melamun membenamkan kepal di atas tumpukan tangan, rasanya seperti gak ada harapan lagi selain menerima perjodohan itu.
''Bi ... dicari dari tadi gak taunya di sini. Kamu kenapa?'' tanya Sarah khawatir Bianka membetulkan letak duduknya menjadi bersandar pada kursi.
''Pusing, Sar, Papa maksa banget buat jodohin aku. Liat sekarang semua fasilitas aku dicabut, hampir aja kemarin di tendang dari hotel,'' jawab Bianka.
''Kok gitu? Terus nanti hubungan kamu sama David gimana?''
Bianka mengedikan bahu tak tau harus menjawab apa. Sarah menarik kursi duduk disebelah Bianka. ''Yang sabar, ya, Bi.'' Sarah mengusap bahu Bianka menguatkan.
Di sinilah Bianka dan Satria berada berdiri bersanding di pelaminan sebagai pasangan suami istri yang sah, nyaris berbagai cara Bianka lakukan untuk menggagalkan pernikahan, tapi semua rencananya gagal total. Bianka tersenyum saat para tamu datang menyalami mereka dan memasang wajah jutek saat suasana sepi, ia menatap tak suka ke arah Satria yang memasang wajah datar tanpa ekspresi. Mengumpat bersumpah serapah hingga sampai ke indra pendengaran Satria, mau tidak mau Satria menoleh ke arah Bianka seolah tak terganggu dengan apa yang ia dengar. Banyak orang yang menganggap mereka adalah pasangan serasi, karena keduanya terlihat serasi nampak cantik dan tampan plus dari kelas yang sama.
Ballroom nampak ramai banyak relasi bisnis yang datang dari berbagai kalangan dari pengusaha, pejabat, dan artis kenamaan. siapa sih yang tak mengenal Bram Atmaja dan Dirga Dirgantara salah satu pengusaha sukses di bidang pertambangan. Tak heran banyak tokoh penting yang mengenalnya dan menyempatkan diri datang ke acara pesta tersebut, selain dapat menambah koneksi bisnis. Bisa juga untuk saling mempererat kerjasama antara perusahaan membangun koneksi sesama pengusaha dan pejabat.
Suasana gedung mulai nampak sepi, tamu undangan pun juga sudah tidak terlalu banyak. Hanya para pelayan ketering yang sibuk mondar-mandir membereskan bekas acara. Bianka memutuskan untuk pergi dari pelaminan menuju ke kamar hotel yang telah disiapkan untuknya, untuk mereka berdua tepatnya. Gak lucu kan kamar pengantin baru dibuat terpisah.
''Mau kemana?'' tanya Satria yang melihat Bianka melangkahkan kaki, melewati begitu saja tanpa pamit.
''Ke kamar.''
''Acar belum selesai, Bi.''
''Kamu aja yang di sini, aku capek. Gak liat kakiku lecet! Bisa pingsan aku berdiri di lama-lama,'' sahutnya acuh.
''Ada aku yang gendong.''
''Sorry, jangan harap.'' Bianka pergi begitu saja meninggalkan Satria di kursi pelaminan seorang diri.
Satria pun membiarkan Bianka pergi meninggalkannya, toh tamu sudah tak sebanyak tadi, ia sendiri merasa lelah dan ingin segera membaringkan tubuhnya di kasur yang empuk. Setelah melewati serentetan acara hampir dua puluh empat jam berdiri kakinya pun terasa pegal seperti mau patah.
Dengan langkah terseok Bianka memasuki kamar hotel dibantu beberapa orang untuk memegang gaun ball gown yang ia kenakan belum lagi crown di kepala berbentuk mahkota dengan banyak berlian bertabur membuat kepalanya terasa pening rasanya ingin membuang saja ke tong sampah. Merepotkan.
Sejenak Bianka berdiri mematung diambang pintu. Mengedarkan pandangan menatap seisi ruang yang sudah didekorasi sangat cantik, tiap sudut dihiasi pita yang membentang berwarna putih ditambah bunga-bunga yang menghiasi setiap sudut kamar. Hingga wangi melati terasa menguar menembus indra penciuman, menenangkan. Seandainya pernikahan ini bersama orang terkasihnya pasti akan sangat menyenangkan menghabiskan malam panjang bersama dengan punuh suka cita. Namun kenyataannya? Ia terpaksa menikah dengan orang yang sama sekali tidak dicinta.
What the f**k!
Bianka pun berlalu menuju kamar mandi, setelah melepas aksesoris yang melekat ditubuhnya dibantu oleh beberapa orang asisten MUA. Bahkan tak jarang ia mendapat gurauan yang terdengar memuakkan tentang malam pertama ia hanya mendecih sinis. Baginya tak ada malam pertama dan jangan pernah berharap ada. Rasanya ingin menghilang saja dari tempat ini dan pergi entah ke mana bersama David pujaan hatinya.
Bianka pun akhirnya memilih berendam dengan air hangat di bathtub untuk merelaksaksikan tubuhnya yang terasa lelah dan lembab sekali lagi ia tertegun saat menatap kamar mandi yang didekorasi tak kalah indah dengan kamar pengantinnya. Bahkan bathtubnya dipenuhi oleh banyak mawar berwarna merah, dan disempurnakan dengan lilin aroma terapi dengan wangi yang serupa, sungguh paduan yang sempurna. Bianka melayangkan kakinya menuju bathtub menanggalkan bajunya satu persatu.
Hampir setengah jam Bianka berendam di dalam bathtub ia pun merasa tubuhnya lebih segar, rasa lelahnya hilang seketika. Rasa ngantuk mulai mendera ia ingin tidur secepatnya. Bianka bangkit dari bathtub menuju shower membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa bunga mawar yang menempel di badan. Menguyur tubuh polosnya dengan air hingga tak ada satupun mawar yang tersisa. Kini tubuhnya terasa lebih segar dan ingin rasanya pergi ke alam mimpi.
''Ahgttt!'' teriak Bianka saat melihat Satria membuka pintu memasuki kamar mandi. Mereka sama-sama terkejut, niat Bianka ingin mengambil handuk yang jauh dari jangkauan. Berada di dekat pintu.
Satria pun hanya bisa berdiri mematung, menatap tubuh Bianka. Ia tidak tau kalau ada Bianka sedang mandi, Sejenak ia tertegun susah payah menelan saliva, bagaimana pun ini pertama kali baginya melihat tubuh polos wanita tanpa sehelai benang yang melekat di tubuh. Sial! Pernah sih melihat tubuh polos wanita tapi hanya lewat ponsel, tentu saja rasanya berbeda dengan yang nyata di depan mata. Itu pun gara-gara temannya yang mengirimkan film Bf ke dalam ponsel miliknya dengan dalih berisi video lucu, tanpa pikir panjang Satria membuka vidio tersebut. Sialan memang, teman gak ada akhlak.
Sekarang di depan matanya sendiri, Satria menyaksikan langsung jangan tanya seperti apa yang ia rasakan? Jantungnya terasa berdegup kencang. Darahnya berdesir hebat membuat yang di bawah sana menjadi sesak.
Mengagumi penampakan indah maha karya Tuhan, seperti tak ada cacat sedikitpun. Rambut hitam panjang yang basah menutupi sebagian ddada yang tak tertutup sempurna, namun menambah kadar sexynya, jangan tanya seperti apa bentuknya? jakunnya bergerak naik turun tak berkedip melihat keindahan yang Tuhan ciptakan. Mau gak dilihat sayang, dilihat bikin yang dibawah ikut tegang. Hadeh cobaan. Fokusnya kini teralih pada bulu-bulu halus saat tak sengaja terbuka, saat Bianka membuka sedikit pahanya.
Sigap Bianka menutup area sensitifnya dengan kedua tangan meski semua itu hanya sia-sia, karena semua itu masih bisa terlihat dengan jalas oleh indra penglihatan Satria. Kalau malu kenapa bukan wajah aja yang ditutup kenapa area itu. Aneh emang, Satri berjalan tergesa ke arah Bianka yang masih terus saja berteriak. Ia pun tak kalah panik takut ada yang mendengar suara wanita yang baru saja sah beberapa jam lalu menjadi istrinya. Bisa-bisa dikira sedang melakukan tindak asusila.
''Bisa diam enggak?'' Satia membekap bibir Bianka dengan tangan menghimpitnya tubuhnya ke tembok menekan kedua tangan di atas kepala, hingga Bianka tak bisa berontak lagi.
Tatapan Bianka begitu tajam mengobarkan aura permusuhan, Satria sedikit mengendurkan kungkungannya saat Bianka sudah tidak berontak lagi. Tanpa disangka mulutnya yang sedikit terbuka mengigit tangan Satria hingga meninggalkan bekas gigitan. Persis seperti drakula.
''b******k! Kamu sengaja, ya ngintip orang mandi?''
Satria mengibaskan tangannya yang terasa sakit hingga rasanya seperti mau patah, bukan marah tapi ia justru tersenyum menyeringai dan lebih tertantang untuk menggodanya. Nice.
''Salah sendiri mandi gak dikunci pintunya, kalau orang lain yang masuk gimana? Kalau sengaja memang kenapa? Toh kita pasang yang sah, aku bertindak lebih pun gak masalah,'' desis Satria tak kalah sengit.
''Sampai kapan pun aku gak sudi disentuh sama kamu!'' hardik Bianka tak kalah tajam.
''Kalau aku mau, kamu bisa apa? Silahkan aja kalau bisa melawan.'' Satria menaik turun kan alisnya, seolah meledek.
Bianka ingin melayangkan tangan menampar pipi Satria, tetapi berhasil dihalau dan justru kembali menekan ke dua tangan Bianka ke tembok hingga susah untuk bergerak, meski ia masih terus berusaha meronta agar bisa melepaskan diri dari kungkung Satria. Tentu saja tenaganya tak sebanding tak semudah itu Bianka bisa lepas dari Satria.
''Lepas, Bang Sat!''
''Ooo tidak semudah itu Esmeralda. Coba aja lepas sendiri kalau bisa. Suruh siapa teriak-teriak kamu pikir ini hutan huh ....'' Satria menaik turunkan alisnya menatap wajah Bianka yang menatap nyalang ke arahnya.
''Aku aduin sama Papa nanti. Biar tau seperti apa kelakuan kamu yang sebenarnya, sok manis dasar bermuka dua!'' sindir Bianka tak kalah sinis.
''Kamu pikir Papa percaya, udahlah terima kenyataan aja kalau kamu dah jadi milik aku sekarang. Sepertinya bibir kamu sekali-kali perlu dilurusin biar gak kriting,'' ucap Satria santai dengan menaikkan sudut bibirnya tersenyum miring.
''Kamu mau apa?'' saat Satria mulai memperpendek jarak, Bianka bisa merasakan sapuan napas hangat milik Satria yang menerpa wajahnya hingga ia bisa mencium aroma mint dari pria menyebalkan di depannya. ''Jangan-jangan macam-macam Bang Sat atau aku teriak!''
Satria tak mengindahkan ucapan Bianka ia mencium kasar bibir Bianka yang sedikit terbuka hingga lidahnya perlahan menyusup masuk. Ia terus meronta Bianka merasa terhina dengan hal ini, harga dirinya teras direndahkan ia mengigit bibir Satria hingga berdarah. Barulah ciuman itu terlepas ada rasa anyir menyergap indra penciumannya dan darah yang tercampur saliva.
''s**t!'' umpat Satria, Bianka tersenyum puas melihat wajah kesal Satria.
''Jangan harap bisa menyentuhku, seujung kukupun tak akan bisa.''
''Ohw, iya?'' Satria tersenyum meremehkan. ''Kita lihat saja nanti, ini semua belum apa-apa.''
''Bang Sat lepas, sakit,'' lirih Bianka dengan bibir bergetar. Satria sedikit mengendurkan kungkungannya, kesempatan itu tak Bianka sia-sia kan ia menginjak kaki Satria dan segera pergi dari kamar mandi. Bahkan Bianka sempat membenturkan kepalanya dengan kepala Satria.
''Rasain emang enak.'' Bianka menyambar asal bathrobe yang ia kenakan keluar dari kamar mandi seraya menjulurkan lidah meledek Satria yang kini sedang meringis memegang kepala.
''Sial! Dia memang banyak akalnya, aku gak boleh kalah darinya,'' gumam Satria menatap Bianka yang perlahan menghilang di balik pintu.
Benar-benar keras kepala, Satria ingat ucapan Bram tempo hari jika Bianka tidak bisa diperlakukan lembut, ia boleh melakukan apapun asal tidak melakukan tindak kekerasan, sejujurnya Bianka anak yang baik dan penurut tapi karena Bram lah Bianka berubah seperti sekarang. Ucap Bram saat itu.
Satria memutuskan mandi untuk mendinginkan kepala yang terasa berdenyut, siapa tau saat kondisi mulai tenang ia bisa berpikir jernih. Ia memutar kran kucuran air dari shower membasahi tubuhnya membiarkan tetes demi tetes membasahi tubuhnya yang atletis hingga menembus pori-pori, seraya memijit kepalanya lembut dan menuangkan sedikit shampo, rasa lelah berangsur menghilang berganti kesegaran dan semangat baru.